Gambaran Anak Zaman

•17 May 2015 • Leave a Comment
Bermain gambar tanpa harus berlari-lari di bawah terik matahari.

Bermain gambar tanpa harus berlari-lari di bawah terik matahari.

Melihat anak-anak main kartu bergambar di depan rumah, tiba-tiba pikiran saya terbang ke masa kecil di daerah Tambaksari, Surabaya. Kalau sudah main gambar (anak saya menyebutnya main gambaran), saya sampai lupa segala-galanya. Lupa waktu. Lupa makan. Lupa mandi. Juga lupa kalau kulit saya makin legam gara-gara berlama-lama bermain di bawah terik matahari. Meski ibu saya ngomeli tiap hari, rasa-rasanya omelan itu hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Permainan yang umumnya dilakukan secara outdoor ini bisa dilakukan dua, tiga, empat, atau lima orang. Bebas. Tapi, biasanya, paling banyak lima orang dan paling sedikit dua orang. Cara bermainnya, masing-masing anak menyerahkan gambar. Gambar itu punya dua sisi. Sisi pertama ada gambarnya, sisi kedua kosong alias tak bergambar. Saat itu umumnya bergambar pahlawan-pahlawan yang ada di film-film. Bisa pahlawan nasional, bisa lokal. Di antaranya, Kaisar Ming, Flash Gordon, The A Team, Elang Perak, Mantili, Lasmini, Brama Kumbara, Joko Sembung, atau Si Buta dari Gua Hantu.

Setelah gambar diserahkan dan dikumpulkan, gambar-gambar itu lalu diterbangkan. Yang gambarnya tertelungkup atau tengkurap, dia dinyatakan kalah. Sebaliknya, jika gambarnya terlentang atau di atas, dia menang. Kalau ada beberapa yang foto gambarnya di atas, mereka lah yang diadu dan berhak masuk babak ’’final’’. Namun, kalau masih ada beberapa gambar terlentang, maka permainan terus dilakukan hingga benar-benar terpilih satu pemenang.

Si pemenang berhak mendapatkan kartu gambar sesuai dengan ’’taruhan’’ yang disepakati. Kalau taruhannya 20 gambar, maka pemenangnya dapat 20 gambar. Kalau ada lima ’’musuh’’ yang dikalahkan, berarti pemenang dapat 20 gambar kali 5 (100 gambar). Saya pernah punya koleksi gambar hingga satu bak dengan berbagai jenis gambar. Untuk memudahkan, gambar-gambar itu saya kareti. Satu karet rata-rata setinggi 8 cm.

Meski permainan ini melenakan, toh saya tidak kapok diomeli ibu. Walaupun saya lupa makan, lupa mandi, dan lupa segala-galanya, saya yakinkan ke ibu saya bahwa lupa-lupa yang tadi itu bisa dirapel. Lupa sarapan, nanti makannya bisa dirapel dengan makan siang. Namanya dirapel ya berarti dua porsi makan dijadikan satu alias makannya sebanyak dua piring. Hmmm..kalau sudah begitu, persis porsinya kuli bangunan hahaha…

Lalu, kalau lupa mandi, gimana cara merapelnya? Ya, dirapel saja dengan mandi sore. Mandi yang lama. Disabun yang bersih. Lalu dibilas. Setelah itu disabun lagi, lalu dibilas lagi. Kalaupun mandi sore juga lupa, dirapel saja mandinya pada keesokan harinya wkwkwk…Hmmm…bisa dibayangkan baunya? Seharian bermain, berlarian ke sana ke mari, berkeringat, terus tidak mandi.

Itu lah permainan gambar di masa kecil saya di era 80-an. Berbeda dengan permainan gambar di zaman anak saya di tahun 2015 ini. Anak-anak tidak perlu berpanas-panas ria, karena mainnya di dalam atau di halaman rumah. Tidak perlu berlarian ke sana ke mari hingga berkeringat, karena mainnya cukup dengan duduk.

Permainan diawali dengan jumlah gambar yang ’’dipertaruhkan’’. Tak perlu dihitung. Cukup disamakan ukuran ketinggiannya. Misalnya, lawan mengambil gambar setinggi 2 cm, maka lawan-lawan lainnya menyiapkan gambar setinggi 2 cm. Selanjutnya, gambar-gambar tadi disusun berdiri. Lalu, di antara mereka (pemilik nomor tertinggi setelah diundi) merobohkan gambar.

Bagaimana cara merobohkannya? Kesepuluh jari dirapatkan sejajar mirip kipas, lalu ditepukkan ke lantai sekuat-kuatnya hingga angin yang ditimbulkan bisa merobohkan gambar. Gambar yang roboh itu lah yang menjadi miliknya. Ada pun gambar sisanya, ditepuk lagi oleh kedua, ketiga, dan seterusnya hingga habis.

Di tengah permainan itu, saya iseng mendatangi mereka, lalu saya bilang ke mereka, ’’Saya dulu cara memainkannya dengan cara diterbangkan.’’
’’Ah, itu uda nggak zaman Om. Capek! Jawab mereka serempak tanpa dikomando, lalu kembali meneruskan permainannya dengan kartu-kartu bergambar seperti Boboi Boy, Hot Wheels, Disney Frozen, dan Marvel Heroes.

Duh, anak zaman sekarang! Saya jadi teringat kata-kata Pak Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, bahwa setiap generasi memiliki zamannya sendiri, dan setiap zaman memiliki generasinya sendiri. Jadi konsekuensinya, generasi baru tidak harus meniru habis generasi sebelumnya. Akan tetapi akan lebih baik jika generasi baru menemukan caranya sendiri. (*)

Mengabadikan Bunga Keabadian

•16 May 2015 • Leave a Comment
Foto: barli halim LUKISAN ALAM: Dua insan berpose di dekat rerimbunan Edelweis dengan latar Segara Anak dan Gunung Barujari yang menyembul di tengah danau, di Gunung Rinjani, Lombok.

Foto: barli halim
LUKISAN ALAM: Saya dan adik saya berpose di dekat rerimbunan Edelweis dengan latar Segara Anak dan Gunung Barujari yang menyembul di tengah danau, di Gunung Rinjani, Lombok.

Sepasang kekasih menghentikan langkahnya di bibir kaldera Gunung Rinjani, Lombok, tak lama setelah turun dari Puncak Anjani. Dua sejoli itu foto selfie di dekat bunga Edelweis dengan latar Danau Segara Anak ’’bermata’’ biru muda mirip batu Bacan Doko, selaras dengan warna biru langit.

Puas jeprat-jepret menggunakan tongsis alias tongkat narsis, si cewek meminta cowoknya memetikkan bunga eksotis itu untuk dirinya. Katanya itu lambang keabadian cinta. Sang cowok dengan senang hati mengabulkan permintaan belahan jiwanya.

“Edelweiss.. Edelweiss.. Every morning you greet me. Small and white, clean and bright. You look happy to meet me..” si cowok mengambil satu tangkai sembari melantunkan salah satu lirik lagu berjudul ’’Edelweiss’’ yang dinyanyikan dalam film musikal ternama Sound of Music. Si cewek pun terlihat bahagia, dengan senyum terus mengembang dari kelopak bibirnya yang merekah merona.

Edelweis memang lambang keabadian, kesucian, ketulusan, perjuangan, kegigihan, dan pengorbanan. Lambang keabadian karena bunga endemik khas daerah Alpina atau Montana ini bisa awet.

Lambang kesucian, karena tanaman dari family Asteraceae ini bunganya putih bersih, meski ada juga yang secara morfologi berwarna ungu dan kuning.

Lambang ketulusan, karena Anaphalis Javanica ini tumbuh di daerah khusus di atas 2.000 m di atas permukaan laut, sehingga seolah ikhlas menerima takdirnya tanpa menuntut kondisi yang menyenangkan.

Lambang perjuangan, kegigihan, dan survival, karena bunga yang juga disebut Edelweis Jawa (Javanese Edelweiss) ini tumbuh di tempat gersang, kering, berkerikil, dingin, dan miskin unsur hara. Ia mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah tandus, karena mampu membentuk mikroriza dengan jamur tanah tertentu. Sehingga, ia secara efektif dapat memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara.

Bunga Senduro ini juga tidak mati atau layu meski berada di suhu di bawah 0 derajat Celcius.

Dan, untuk bisa mencapai lokasi Edelweis, seseorang harus bersusah payah mendaki gunung melewati jalur dan tantangan berat.

Lambang pelopor kebaikan dan pengorbanan, karena secara ekologis, Edelweis memiliki peran sebagai pelopor dalam revegetasi dan suksesi. Menjadi tanaman pertama yang tumbuh dan menghasilkan unsur-unsur hara sebagai media tumbuh tanaman lain. Tanaman pertama yang mengawali kehidupan.

Selain tanaman perintis, ’’bunga cinta’’ ini juga menjadi ’’benteng pertahanan’’ yang mampu menahan hempasan air hujan dan laju permukaan, sehingga meminimalkan risiko erosi.

Tanaman langka yang biasanya memiliki tinggi tak lebih dari 1 meter ini juga rela berkoban bagi satwa lain, dengan membiarkan ratusan jenis serangga yang hidup di dalam bunga untuk sekadar menghisap nectar atau berlindung di dalam rimbunya dedaunan.

Wajar jika Edelweis dengan berbagai lambang yang disandangnya itu diburu, dan dijadikan media untuk mengekspresikan cinta kepada belahan hatinya. Dua insan saling mencintai ini seolah ingin mengatakan bahwa dirinya akan menjaga kesetiaan, ketulusan, komitmen, kepercayaan, dan siap mempertahankan cintanya meski harus menghadapi ujian terberat apapun. Juga akan senantiasa menjaga keabadian cintanya sepanjang hidupnya dan bahkan sampai hidup lagi yang kedua setelah kematiannya.

Namun, bagi orang yang menghargai Edelweis sebagai bunga keabadian, ia tidak akan memetik atau mencabutnya. Itu sama saja dengan menempatkan Edelweis dalam ketidakabadian. Di beberapa tempat, bunga ini bahkan sudah dinyatakan punah karena telah diperdagangkan dan dieksploitasi oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Edelweiss itu akan abadi kalau berada di ’’rumah’’-nya sendiri, di habitat aslinya, di ecosystem dan socialsystem-nya sendiri. Bercengkerama dengan teman-temannya di sana. Bersama gunung, tanah, matahari, air, embun, angin, awan, kabut, langit, dan juga satwa lain. Di sanalah ia menemukan keseimbangan diri. Memetik berarti membuat kehidupannya tidak seimbang, karena dikeluarkan dari habitatnya dan dipisahkan dari kawan-kawannya.

Edelweis memang bisa ditanam di tempat yang bukan habitat asli. Namun, ia akan mengalami gangguan pertumbuhan. Daun dan bunganya akan kurus merana, tak akan serimbun di dataran tinggi pegunungan yang tumbuhnya terkadang bisa mencapai 8 meter. Meskipun ia bisa beradaptasi, pertumbuhannya tidak akan normal.

Karena itu, jangan pernah memetik bunga keabadian jika kita ingin mengabadikannya. Kalau kekasih ingin Edelweis, berikan saja Edelweis plastik. Itu lebih awet, karena ia baru terurai dengan sempurna oleh tanah setelah ribuan tahun. Biarkan lah Edelweis berada di tempatnya. Karena ketika segala sesuatu tidak diletakkan pada tempatnya, ia akan mengalami kehancuran.

Kalau hubungan cinta kita ingin abadi, belajar lah kepada Edelweis yang telah memegang teguh prinsip keabadian, kesucian, kesetiaan, ketulusan, kepercayaan, komitmen, perjuangan, kegigihan, dan pengorbanan dengan tetap berada di tempat yang telah digariskan Tuhan.

Meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, menjalankan tugas dan fungsi masing-masing sesuai skenario yang telah diberikan Tuhan sebaik-baiknya, adalah cara mengabadikan bunga keabadian cinta, sampai tidak ada lagi yang abadi, kecuali Yang Abadi. (*)

Heboh ”AA”

•14 May 2015 • Leave a Comment
Cemoro Tunggal yang merupakan vegetasi terakhir Gunung Tambora, Pulau Sumbawa, NTB.

Cemoro Tunggal yang merupakan vegetasi terakhir Gunung Tambora, Pulau Sumbawa, NTB.

’’AA!’’ kata Edvin Suprapto sembari matanya menelanjangi objek di ujung sana dari balik jendela pesawat beberapa menit sebelum mendarat di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

’’AA!’’ lanjut Edvin sembari geleng-geleng kepala hingga memantik komentar Irvan Kurniawan, kawan yang duduk di kanannya.

Mendengar ucapan Edvin soal AA yang diulang dua kali itu membuat Irvan tak kuasa berkomentar. ’’Ada yang terobsesi dengan AA rupanya kawan kita ini,’’ kata Irvan sambil menyenggolkan bahu kanannya ke bahu kiri saya.

’’Hoiiii….Rp 80 juta Bro, cukup nggak gaji kamu Bro hahaha. Kita cari di Mabes (Mangga Besar, Jakarta) aja, yang Rp 350 ribu udah kece-kece kok,’’ Irvan setengah berteriak di dekat telinga kanan Edvin.

’’Pikiran kamu itu ya? AA itu maksudnya ’Aduh Alas’-ku. Dasar piktor (pikiran kotor) Lu,’’ giliran Edvin berteriak di telinga kiri Irvan. Dalam bahasa Jawa, alas itu artinya hutan.

’’Coba lihat itu. Hutan-hutan kita bopeng semua. Tak cantik lagi. Dibabat tiap hari sampai gundul. Nanti kalau hutannya habis, anak cucu kita yang merasakan dampak kerusakan ekologisnya. Hutan kita gundul, lingkungan kita rusak, dan menyisakan lubang-lubang menganga lebar akibat pertambangan,’’ Edvin yang saat itu hendak pulang kampung seolah tidak terima tanah kelahirannya dieksploitasi tanpa mempertimbangkan keseimbangan lingkungan.

’’Berdasarkan hasil riset Heart of Borneo (HoB), hutan alam seluas kurang lebih 22 juta hektare di wilayah Kalimantan dan sekitarnya terancam oleh alih fungsi ke pertambangan. Ironisnya daerah hanya dapat dana bagi hasil 30 persen, sementara sisanya ditarik ke Pusat. Benar-benar tidak adil. AA, kasihan kau,’’ Edvin kembali mengasihani AA.

Irvan dan saya akhirnya tahu bahwa AA itu ternyata kependekan dari ’Aduh Alasku’, sebagai ekspresi kekecewaannya atas merananya hutan di Kalimantan khususnya dan di Indonesia pada umumnya.
’’Oh, aku kira AA itu artis yang dijajakan mucikarinya seharga puluhan juta rupiah itu,’’ ujar Irvan.

’’Ngapain kita ngurusin AA. Urusan moral dan akhlak biarlah menjadi urusan mereka masing-masing. Nggak ngaruh apa-apa buat kita. Wong kita bayar KPR aja per bulan sudah kembang kempis kok mikir AA bertarif ratusan juta. Itu sih kalau nggak pengusaha besar dan pejabat tinggi rasanya nggak mungkin bisa bayar mahal. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat, yang kami mau,’’ Edwin menyanyikan lagu karya Iwan Fals ’’Manusia Setengah Dewa’’.

Seperti dihebohkan di jagat nyata dan jagat maya, polisi menciduk RA dan artis AA tanpa busana di sebuah hotel mewah di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (8/5/2015). Polisi berpura-pura jadi pria hidung belang yang ingin mem-booking AA di hotel itu. RA memasang tarif Rp 80 juta bagi pemakai jasa haram AA. RA bisa raup untung Rp 24 juta sekali transaksi. Polisi juga membeberkan ada 200 perempuan yang dijajakan RA. Mereka rata-rata public figure. Konsumennya juga rata-rata pesohor di negeri ini.

Kembali ke soal AA di Kalimantan, seharusnya ini menjadi perhatian dan kehebohan kita semua. Bukan hanya di Kalimantan, kondisi hutan kita secara keseluruhan sangat mengkhawatirkan. Luas hutan Indonesia terus menciut. Luas Penetapan Kawasan Hutan oleh Departemen Kehutanan pada 1950 sebesar 162,0 juta ha, pada 1992 menjadi 118,7 juta ha, pada 2003 menciut 110,0 juta ha, pada 2005 mengecil 93,92 juta ha, dan sekarang tersisa seluas 93,6 juta ha.

Berdasarkan hasil penafsiran citra satelit, kawasan hutan Indonesia yang mencapai 93,92 juta hektare pada 2005 itu dapat dirinci pemanfaatannya sebagai berikut. Hutan tetap 88,27 juta ha, Hutan konservasi 15,37 juta ha, Hutan lindung 22,10 juta ha, Hutan produksi terbatas 18,18 juta ha, Hutan produksi tetap 20,62 juta ha, Hutan produksi yang dapat dikonversi 10,69 juta ha, dan areal Penggunaan lain (non-kawasan hutan) 7,96 juta ha.

Hal ini pula yang dirisaukan Iwan Fals dalam lagunya ’’Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi’’. Ini lah petikan syairnya:

Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering kerontang banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia

Oh jelas kami kecewa
Mendengar gergaji tak pernah berhenti
Demi kantong pribadi
Tak ingat rejeki generasi nanti

Sungguh tepat jika Rais Syuriah PBNU KH A Ishomuddin dan KH Azizi yang memimpin sidang bahtsul masail PBNU pada 10 Mei 2015 membacakan kesepakatan forum akan keharaman aktivitas eksploitasi sumber daya alam Indonesia yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Sebab, meskipun perusahaan negara atau swasta pengeksploitasi itu legal, praktiknya mereka mengabaikan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).

Sungguh tepat pula jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini gencar melakukan pencegahan dan penindakan terhadap pelaku kejahatan korupsi di sektor kehutanan.

Dan, sungguh tepat pula jika Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya memperpanjang program moratorium hutan. Presiden Jokowi juga telah menyetujuinya dan menuangkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) 6/2013 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut yang seharusnya berakhir pada 13 Mei 2015.

Penundaan pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan alam primer dan lahan gambut atau lebih dikenal dengan sebutan moratorium pemberian izin pengelolaan hutan sudah dilakukan pemerintah RI sejak 2011 melalui Inpres No 0 Tahun 2011.

Sepekan sebelum berakhirnya masa pelaksanaan Inpres tersebut, tepatnya pada 13 Mei 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (saat itu) memperpanjang moratorium itu melalui Inpres No 6 Tahun 2013 dengan masa berlaku 2 tahun atau semestinya berakhir pada 13 Mei 2015.

Moratorium ini harus diperkuat dengan menjamin perlindungan seluruh hutan yang tersisa seluas 93,6 juta hektare. Ya, harus diperkuat agar kebijakan ini tidak meninggalkan kehancuran bagi hutan dan keanekaragaman hayati yang pernah dimiliki bangsa ini.

Terkait hal ini, Menteri LHK Siti Nurbaya ada beberapa rencana penguatan baru dari moratorium izin hutan alam dan lahan gambut. Pertama, jaminan dengan dalam bentuk Inpres, agar moratorium tetap kuat dari sisi hukum. Kedua, mempertegas soal memungkinkan tata kelola di lahan gambut. Ketiga, hutan primer dan gambut tidak ada izin sama sekali.

Perpanjangan moratorium hutan ini merupakan salah satu upaya pemerintah sesuai dengan komitmen untuk mendukung perbaikan tata kelola hutan. Selain itu dengan perpanjangan moratorium ini juga dapat menurunkan emisi karbon menjadi 26% pada 2020 mendatang.

Moratorium hutan harus dilakukan, hingga hutan menemukan titik keseimbangannya kembali. Jika alam belum seimbang, dikhawatirkan alam ’’menyeimbangkan’’ diri dengan caranya sendiri. (*)

Diet Kantong Plastik

•12 May 2015 • Leave a Comment

Saya termasuk orang yang tidak ada persoalan dengan berat badan, sehingga tidak perlu diet-dietan. Makan sebanyak apa pun, makan sesering apa pun, tidak berpengaruh. Tetap saja badan saya kurus.
Namun soal satu ini, saya mau tidak mau harus diet. Bagaimana pun caranya, sebesar apa pun susahnya. Saya sebut susah karena semakin ke sini, diet satu ini semakin tidak mudah. Apa itu? Diet kantong plastik! Ya, diet kantong plastik! Mengapa harus diet?

Setiap tahun, sekitar 500 juta hingga 1 miliar kantong plastik digunakan di seluruh dunia. Ini berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik tiap menit. Padahal, dampak negatifnya tidak sebesar fungsinya. Plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Butuh 1.000 tahun agar plastik terurai oleh tanah (terdekomposisi) dengan sempurna.

Racun-racun partikel plastik yang masuk ke tanah juga akan membunuh hewan-hewan pengurai seperti cacing. Selain itu, kantong plastik dapat mengganggu jalur air yang terserap dan menurunkan kesuburan tanah. Juga berbagai dampak negatif lainnya. Intinya, sampah plastik dapat mencemari tanah, air, laut, dan bahkan udara. Terbayang kan seperti apa kondisi bumi dan kehidupan generasi masa depan?

Sebuah tas plastik tampaknya seperti hal sepele. Tak usah dihiraukan. Tak perlu ditakutkan. Hingga kita menyadari bahwa miliaran sampah plastik dibuang setiap hari dan meracuni bumi tempat kita berpijak, terutama lautan dan saluran air kita.
Sungguh tepat jika Achim Steiner, Executive Director of the U.N. Environment Program, yang menganjurkan larangan global terhadap penggunaan kantong plastik. ’’Zero justification for manufacturing them anymore, anywhere.’’

Melarang kantong plastik di seluruh dunia merupakan salah satu langkah kunci menjadikan bumi ini ’’hijau’’. Namun, menyelesaikan masalah kantong plastik tidak lah mudah, karena ada relasi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang tidak selaras, serasi, dan seimbang. Tapi jika itu dijadikan sebagai sebuah gerakan bersama, bukan hal mustahil itu bisa terealisasi.

Kebijakan pemerintah San Francisco ini barangkali patut ditiru. Ini lah kota pertama di Amerika Serikat yang melarang sekali pakai plastik carryout tas pada 2007. Jack Macy, Senior Commercial Zero Waste Coordinator di San Francisco, menceritakan bahwa 77 kota dan kabupaten di California telah bergabung dengan gerakan ini. Mereka tidak hanya melarang sekali pakai kantong plastik, tetapi juga mengenakan biaya bagi penggguna tas plastik. Hal ini mendorong sebagian besar pelanggan membawa tas sendiri serta mengurangi sampah dan dampak lingkungan.

Berbicara diet kantong plastik, saya jadi teringat pesan ibu saya agar bawa tas sendiri kalau belanja ke Pasar Bok Tuwowo, Pasar Bulak Rukem, atau Pasar Kapas Krampung di Tambaksari, Surabaya. Tas itu terbuat dari kain yang bisa dipakai kembali (reusable). Saya yang pada 1980-an masih duduk di bangku SD itu patuh begitu saja. Tidak banyak bertanya ini itu.

Lagi pula ibu saya juga tidak menjelaskan bahwa tas reusable dapat menghentikan polusi plastik dan dampak beracun pada manusia, hewan dan lingkungan.

Ibu saya pun tidak menerangkan bahwa tas kantong plastik (plastic carrybags) merupakan sikap negatif terhadap kehidupan dan alam. Juga tidak menyebutkan bahwa tindakan itu tidak ramah lingkungan, perbuatan pidana, atau makar terhadap alam.

Saya juga tidak pernah menanyakan mengapa peralatan dapur di rumah tidak banyak menggunakan bahan plastik. Saya pakai begitu saja. Lagi pula ibu saya juga tidak menjelaskan mengapa harus begini-begitu.
Yang saya tahu kala itu, kalau kami minum air putih pakai kendi (tempat air seperti teko yang terbuat dari tanah liat), bukan ceret plastik. Langsung dituangkan dari kendi ke mulut (Baca: ngglogok). Terasa lebih segar dan dingin alami, seperti minum air pegunungan.

Yang saya tahu kala itu, kalau kami mau jus buah tinggal iris-iris buah sesuai selera pakai pisau atau diaduk-aduk pakai sendok. Tidak perlu pakai botol plastik yang biasa dijumpai di pusat perbelanjaan modern. Minum susu juga tidak perlu dari kemasan. Ada penjual susu murni langganan yang tiap pagi mengantarkan ke rumah. Air susu itu dimasukkan di botol kaca. Kalau makan pakai kecap juga tidak perlu kecap sachet atau botol plastik, tapi botol kaca.

Yang saya tahu kala itu, kalau kami membersihkan rambut, pakai sampo lidah buaya yang ditanam di rumah atau sampo merang. Bukan sampo sachet atau botol plastik. Kalau membersihkan badan juga tidak pakai sabun cair yang biasa ditaruh di botol plastik atau kemasan plastik.

Yang saya tahu kala itu, para pedagang makanan keliling yang lewat depan rumah juga menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan. Penjual Rujak Cingur, penjual Nasi Pecel, penjual Bubur Sumsum, campur Ketan, Kelanting, dan Lupis masih pakai piring dari daun pisang. Enak sih. Lebih alami, higienis, dan beraroma wangi, dan tidak mencemarkan lingkungan.

Tapi tidak semua penjual makanan pakai daun pisang. Kalau Gado-gado, Tahu Tek, Tahu Campur, Lontong Kupang, dan Lontong Balap sudah pakai piring kaca. Ya, iya lah, kalau dibungkus pakai daun pisang nanti bumbu dan kuahnya bisa merembes hehehe…

Yang saya tahu kala itu, ketika belanja kebutuhan dapur di pasar tradisional, penjualnya menggunakan daun jati. Bukan kantong plastik.

Yang saya tahu kala itu, sampah rumah tangga yang dibuang di keranjang kayu juga tidak dibungkus kantong plastik. Langsung dibuang begitu saja ke keranjang sampah. Petugas kebersihan tinggal membuang sampah itu di gerobak sampah. Jadi, sampah itu tidak perlu dibungkus kecil-kecil pakai kantong plastik agar petugas kebersihan dapat mengangkut dengan mudah.

Yang saya tahu kala itu, nyaris semua jenis permainanku dan teman-teman kecilku tidak berbahan plastik. Di antaranya, mainan mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, rodanya juga dari kulit jeruk bali yang diiris sedemikian rupa mirip roda. Ada mobil-mobilan dari papan dengan memakai roda klaker, lalu kawan sepermainan menariknya secara bergantian. Ada kereta kuda dari daun Blarak (ranting pohon kelapa kering), lalu kawan sepermainan menjadi kuda dan menarik sekencang-kencangnya.

Selain itu, ada juga permainan perang-perangan yang semua senjatanya nonplastik. Ada Tulup dengan peluru biji Kacang Hijau atau biji Kedelai dan ada pula pistol kayu yang pelurunya dari biji Jambu Air.

Situasi sosial, ekonomi, dan budaya kala itu memang sangat ramah lingkungan. Barangkali, manusia modern dan Postmodern perlu belajar kearifan lokal (local wisdom) dari orang-orang tradisional di kampung-kampung di Indonesia. Jauh sebelum ada gerakan ’’Hari Bebas Tas Plastik Internasional’’ (International Plastic Bag Free Day), ternyata nenek moyang kita sudah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sudah membuat setiap hari bebas kantong plastik di rumah.

Patut diapresiasi jika sejumlah komunitas dan organisasi yang concern terhadap pengurangan penggunaan kantong plastik telah berkoalisi membentuk Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik. Gerakan ini diharapkan dapat menggedor kesadaran kita semua tentang bahaya kantong plastik.

Diet Kantong Plastik ini menyasar empat target. Yakni, pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, pihak retailer, komunitas, dan masyarakat sebagai pengguna. Selama ini Diet Kantong Plastik getol memberikan advokasi terhadap pemerintah.

Salah satu hasilnya penerbitan Perda Kota Bandung No 17 Tahun 2012 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik. Juga, dalam pelaksanaan Festival Jakarta Great Sale 2013, Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan Surat Seruan Gubernur No 6 Tahun 2013 tentang Gerakan Diet Kantong Plastik.

Semoga saja ’’virus’’ ini dapat menular cepat ke daerah-daerah lainnya di Indonesia, agar berbagai masalah mendesak seperti perubahan iklim, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan berkelanjutan dapat terpecahkan.

Berpikir besar agar bisa bertransformasi ke masyarakat ’’Zero Waste’’ (Bebas Limbah) bisa diawali dari diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil, dan mulai lah dari sekarang. (Think Big, Start Small, Act Now). Yuk, diet kantong plastik ramai-ramai! (*)

Ojo Grusa-grusu

•29 April 2015 • Leave a Comment

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar ungkapan bahasa Jawa ’’Ojo grusa-grusu’’, ’’Ojo kesusu’’, dan ’’Alon-alon asal kelakon’’. Ketiga falsafah Jawa ini punya pengertian kurang lebih sama: jangan tergesa-gesa! ’’Ojo grusa grusu’’ itu artinya jangan gegabah, ’’Ojo kesusu’’ itu jangan terburu-buru, dan ’’Alon-alon asal kelakon’’ itu biar lambat asal selamat.

Biasanya, nasihat ini disampaikan orangtua kepada anaknya. ’’Dipikir sing tenang yo Le sak durunge mutusno, ojo grusa-grusu, mengko keliru.’’ (Pikirkan dengan tenang ya Nak sebelum memutuskan sesuatu, jangan gegabah, nanti keputusannya keliru). ’’Mengko nek njawab soal ujian sing tenanan, ojo kesusu yo Le, mengko mundak salah.’’ (Nanti kalau menjawab soal ujian yang sungguh-sungguh, jangan terburu-buru, nanti malah salah). ’’Ora usah banter-banter nek numpak motor. Alon-alon asal kelakon.’’ (Tidak usah ngebut kalau naik motor. Pelan-pelan asal selamat).

Dari contoh kalimat ini jelas bahwa tergesa-gesa itu berdampak buruk, yang ujung-ujungnya membawa penyesalan. Tergesa-gesa dalam hal apa saja tidak lah baik, karena di dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa tergesa-gesa termasuk perbuatan setan. Bahkan dalam hal ibadah pun kita tidak boleh tergesa-gesa.

Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, ’’Apabila kamu mendengar iqamah, maka pergilah salat (berjamaah). Hendaklah kamu bersikap tenang dan tenteram, jangan tergesa-gesa. Apa yang kamu dapati, salatlah kamu bersama mereka; dan apa yang terlewatkan (ketinggalan), maka sempurnakanlah.’’ (HR Bukhari).

Salat hendaknya dilakukan dengan khusyuk (tenang) dan tuma’ninah (berhenti sebentar di tiap gerakan). Tidak tergesa-gesa.
Abu Qatadah berkata, ’’Rasulullah bersabda, ’Apabila salat didirikan, maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku (dan hendaklah kamu bersikap tenang).’’’ (HR Bukhari).

Manusia memang bersifat tergesa-gesa. Hal itu termaktub dalam Alquran Surat Al Anbiyaa’: 37 yang berbunyi: ’’Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.’’

Nasihat ’’Ojo grusa-grusu’’, ’’Ojo kesusu’’, dan ’’Alon-alon asal kelakon’’ ini memang sederhana. Namun, nasihat sederhana ini mengandung makna mendalam dan membawa manfaat besar. Nasihat ini merefleksikan keharmonisan kehidupan antara fisikal, emosional, mental, dan spiritual.

Di era generasi gadget yang menuntut serba cepat ini, nasihat semacam ini kerap dianggap kuno. Usang. Ketinggalan zaman. Tidak mengikuti prinsip ’’siapa cepat dapat!’’ Padahal, makna filosofi Jawa ini bukan berarti klemar-klemer alias klelat-klelet alias nyantai. Tapi lebih menekankan kepada kecermatan, ketepatan, kewaspadaan, dan kehati-hatian. Bergegas itu berbeda dengan tergesa-gesa.

Di antara sifat tergesa-gesa yang harus dijauhi adalah memutuskan sebelum mempertimbangkan. Jika itu dilakukan, maka nanti keputusannya tidak cermat, ngawur, keliru, berisiko, dan merugikan.

Pada Senin, 27 April 2015, terpidana mati asal Filipina, MJV, ditunda eksekusi matinya. Sebab, pelaku yang diduga melakukan perdagangan manusia terhadap MJV menyerahkan diri ke otoritas Filipina. Pelaku itu bernama Kristina Sergio.

Ia menyerahkan diri di detik-detik akhir dan membuat Presiden Filipina bertemu Presiden Jokowi di Malaysia pada Senin, 27 April 2015. Akhirnya hal itu membuat Jokowi menunda eksekusi mati MJV yang sedianya dieksekusi bersama 8 terpidana mati lainnya pada pukul 00.35 WIB, Rabu, 29 April 2015. Kesaksian MJV diperlukan dalam pemeriksaan kasus tersebut, sehingga eksekusi harus ditunda.

Penundaan (bukan dibatalkan) eksekusi ini sungguh tepat, karena terdapat bukti baru. Ini bukan plintat-plintut. Ini juga bukan mencla-mencle. Ini bukan berarti tidak konsisten. Isuk dele sore tempe (pagi kedelai sore tempe). Tapi bentuk kehati-hatian pemerintah dalam memutuskan. Justru sangat berbahaya dan akan menyesal seumur hidup jika eksekusi ini tetap dilaksanakan sementara ada bukti baru.

Eksekusi mati ini harus diputuskan sangat hati-hati, cermat, dan dipertimbangkan matang berdasarkan bukti-bukti kuat. Dipastikan sepasti-pastinya bahwa yang dieksekusi itu benar-benar gembong narkoba, bukan kurir, apalagi korban konspirasi.

Jika belum bisa memastikan apakah ia gembong narkoba, sebaiknya jangan dihukum mati. Cukup dipenjara seumur hidup hingga diketemukan kepastian kebenarannya. Sebab, sekali salah memutuskan, ia tidak bisa dihidupkan lagi. Ojo grusa-grusu. Grusa-grusu iku dulure setan. (Jangan tergesa-gesa. Ketergesaan itu saudaranya setan). (*)

Rinjani, Film, dan Pariwisata

•24 April 2015 • Leave a Comment
Romeo dan Sharon bertemu di Rinjani dengan latar Danau Segara Anakan di film Romeo+Rinjani.

Romeo dan Sharon bertemu di Rinjani dengan latar Danau Segara Anakan di film Romeo+Rinjani.

Tak perlu jauh-jauh mengambil latar film di luar negeri. Keindahan alam Indonesia itu sangat menakjubkan. Salah satunya panorama Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ibarat perempuan, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Kerinci di Jambi ini sungguh ayu. Dipandang dari sudut manapun, gunung setinggi 3.726 mdpl ini tampak jelita. Bahkan tanpa make up dan usai bangun tidur sekalipun.

Itu sebabnya, Wonderful Rinjani menjadi daya tarik sineas untuk meningkatkan daya tarik penonton. Dibingkai dengan kisah cinta, rumah produksi Starvision menghadirkan film terbarunya berjudul Romeo + Rinjani.

Film besutan sutradara Fajar Bustami ini menghadirkan beberapa aktor dan aktris berbakat. Mereka di antaranya Dave Mahenra, Alexa Key, Kimberly Ryder, Donna Harun, Gary Iskak, Sam Brody, Fico Fachriza, Ryn ‘Cherrybelle’, dan Novi ‘Cherrybelle’.

Film yang ditayangkan perdana pada Kamis (23/4/2015) ini mengangkat kisah Romeo (Dave Mahenra). Fotografer freelance ini sering bergonta-ganti pacar alias playboy. Setiap sang kekasih meminta menikahinya, ia buru-buru meninggalkannya.

Romeo takut menikah karena melihat kedua orangtuanya kerap cekcok dan terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang berujung perceraian. Hingga kemudian Raline (Kimberly Ryder), kekasihnya, meminta Romeo menikahinya dengan alasan hamil.

Untuk menikahi Raline, Romeo meminta izin untuk menyelesaikan pekerjaannya mengabadikan gambar pemandangan alam di Gunung Rinjani. Sharon (Alexa Key)kemudian hadir saat Romeo hendak menunaikan tugasnya itu. Petualangan Romeo memasuki babak baru bersama Sharon saat keduanya sama-sama mendaki Rinjani.

Romeo pun diliputi rasa bimbang sekembalinya mendaki Rinjani. Di satu sisi, ia terikat perjanjian dengan Raline yang memaksanya menikah karena hamil. Akan tetapi, ia juga terpesona dengan kecantikan Sharon.

Namun, takdir berkata lain. Romeo dan Sharon terjadi satu frekuensi cinta. Dalam pendakian kedua kalinya, mereka yang sama-sama memuja kebebasan itu menyadari bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup bebas. Orang yang mengaku menjunjung tinggi kebebasan pun pada dasarnya telah dibelenggu dengan kebebasan itu sendiri. Bahkan, alam bebas pun sesungguhnya tidak benar-benar bebas, karena ia tunduk pada hukum alam yang membatasi kebebasan dengan kebebasan yang lain.

’’Rinjani. 3.726 mdpl. Are you marry me?’’ tanya Romeo kepada Sharon saat berada di Anjani, nama puncak Gunung Rinjani. Sharon pun mengangguk. Dan, keduanya pun berpelukan. Lalu….(maaf mestinya Lembaga Sensor Film menyensor bagian ini).

Dari segi cerita film ini menarik. Sayangnya, saya sebagai penonton dan pernah mendaki ke sana, film berdurasi 90 menit ini kurang mengeksplorasi keindahan Rinjani untuk mendukung kisah cinta dan romantisme Romeo dan Sharon. Padahal, jika ini dilakukan, latar fisik Rinjani yang menawan dapat mendukung ide cerita.

Kenapa tidak dibuat bermalam di Pos 3. Kemah di sana, yang kalau pagi puluhan kera bergelayutan dengan riang menyambut matahari terbit bersama embun pagi. Kenapa tidak dibuat bermalam lagi di Plawangan yang view-nya sangat menggetarkan jiwa. Hamparan Edelweis, simbol keabadian cinta, danau Segara Anakan yang bermata hijau, dan Gunung Sangkareang yang perkasa di seberangnya.

Kenapa tidak bermalam juga di Segara Anakan, yang ketika menatapnya bibir akan senantiasa basah dengan kalimat yang mengangungkan-Nya. Di sini kita bisa melihat lebih dekat gunung Barru Jari yang tumbuh di tengah danau. Kita juga bisa memancing, berenang, atau mandi di bawah air terjun yang airnya ada tiga jenis: dingin, netral, dan hangat.

Dari segi eksplorasi keindahan alam, film ini tidak semenarik film terdahulunya, 5 CM, yang mengambil gambar di Gunung Semeru dengan Danau Ranu Kumbolonya yang memikat dan padang savana Oro-Oro Ombo-nya yang memukau.

Tapi, barangkali film ini ingin menekankan kepada Romeo yang takut menikah dan mengedukasi kepada masyarakat agar menjaga ikatan tali suci pernikahan. Kedua, mungkin cuacanya kurang bersahabat. Jika dilihat dari langitnya yang mendung dan tidak ada pengambilan gambar ketika sunrise, syuting film ini dilakukan pada cuaca kurang bagus.

Terlepas dari itu semua, saya mengapresiasi film yang mengambil setting di Rinjani, di tanah air kita sendiri. Film ini bisa menjadi sarana promosi pariwisata Indonesia yang cukup efektif. Seperti halnya film 5 Cm. Pasca pemutaran film ini, orang berbondong-bondong ingin mendaki ke gunung yang terletak di Provinsi Jawa Timur itu.

Keindahan alam Indonesia itu menakjubkan. Jangan sia-siakan. Ke depan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perikanan dan Kelautan serta Badan Ekonomi Kreatif bisa makin bersinergi untuk mempromosikan wisata alam Indonesia melalui film, sinetron, novel, buku, media sosial, dan tentu saja juga melalui media massa.

Saya yakin pariwisata Indonesia akan bangkit. Dan, hal itu sudah diawali dengan menetapkan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, NTB, sebagai Taman Nasional pada 11 April 2015 lalu dan akan digelar Festival Tambora setiap tahun untuk mendongkrak wisatawan. Wonderful Indonesia! (*)

Menormalkan Abnormal

•20 April 2015 • Leave a Comment

Innalillahi wa inna ilaihi roji’iun.

Turut berduka sedalam-dalamnya atas para TKI yang telah dieksekusi mati. Semoga mereka mendapat tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Sungguh menyayat hati setiap mendapat kabar satu per satu TKI di Arab Saudi dihukum pancung. Kabar itu seperti lagu lama yang terus diputar ulang. Dan, tentu saja itu lagu kesedihan dan keprihatinan.

Terlalu seringnya ’’pahlawan devisa’’ mendapat hukuman qisas (hukuman nyawa dibalas nyawa), sampai-sampai kabar itu menjadi banal, menjadi kabar biasa. Termasuk tindak kekerasan yang kerap dialami para TKI kita di luar negeri.

Namun, tragedi memilukan ini jangan lah menjadi banal. Cukup sudah warga negara kita di luar negeri dipancung. Cukup sudah warga negara kita di luar negeri mengalami perbuatan tidak menyenangkan. Jangan pernah ada lagi. Stop sampai di sini!

Mereka menjadi TKI tentu dengan nawaitu atau niat baik: ingin asap dapur tetap mengepul! Ingin anak-anaknya tetap sekolah! Ingin memperbaiki nasib! Ingin hidup lebih baik! Mereka inilah mujahid sejati. Orang yang bersungguh-sungguh berjuang demi kelangsungan hidup keluarga. Mereka menjadi tumpuan keluarga.

Ketika hendak berangkat, TKI dilepas anggota keluarganya dengan penuh harap sekaligus sedih. Penuh harap karena diharapkan bisa sukses di negeri orang dan mengirimkan uang ke kampung halaman. Sedih karena mereka harus berpisah. Tentu makin sedih lagi ketika harus berpisah selama-lamanya dengan orang tercinta.

Mereka sejatinya tidak mau jadi TKI kalau tidak ada desakan ekonomi. Mereka tidak akan jadi TKI kalau di dalam negeri ada lapangan pekerjaan layak. Tidak usah pekerjaan layak dengan penghasilan layak. Sekadar pekerjaan yang dapat menyambung kehidupan saja sudah syukur. Kemiskinan dan tidak adanya lapangan pekerjaan inilah yang memaksa mereka menjadi TKI.

Jadi, TKI itu merupakan kondisi abnormal. Kondisi normalnya ketika sudah tidak ada lagi TKI. Kalau pun ada harus terdidik, terlatih, dan punya keahlian. Juga memenuhi syarat-syarat administratif. Selama tidak memenuhi persyaratan tersebut, pemerintah jangan memberangkatkan. Swasta pun tidak boleh memberangkatkan.

Sampai kapan kemiskinan ini berakhir dan lapangan pekerjaan layak ini terpenuhi? Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Di negara maju sekalipun masih ada orang miskin, masih ada pula yang tidak punya pekerjaan layak. Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia. Namun setidaknya, perlu ada upaya masif, sistematis, dan terstruktur untuk menurunkan angka kemiskinan dan membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan. Pemerintah harus berjuang keras menormalkan kondisi abnormal ini. Harus ada kemajuan yang bisa dirasakan setiap tahun.

Kita tahu bahwa pemerintah selama ini tidak pernah absen membela kasus-kasus TKI. Kita tahu pula bahwa pemerintah selalu hadir memberikan perlindungan kepada warganya yang mengadu nasib di luar negeri. Pemerintah juga merasa sudah maksimal memberikan bantuan hukum kepada TKI.

Kalau pun ada para TKI kita dipancung, itu karena keluarga korban pembunuhan tidak memberikan maaf. Jadi, meskipun Presiden melobi mati-matian Raja Saudi, tapi kalau keluarga korban tidak memaafkan, eksekusi mati tetap dilakukan. Kuncinya memang ada di keluarga korban, karena hukum yang berlaku di Arab Saudi memang hukum Islam (baca: qisas). Hukum yang harus dihormati negara lain, sebagaimana negara lain harus menghormati hukuman mati yang diterapkan di Indonesia.

Saya ingin mengatakan bahwa selama kondisi abnormal ini belum dinormalkan, selama itu pula tragedi menimpa TKI. Ibarat asap rokok, selama ada api, asap akan terus mengepul. Kalau ingin tidak ada asap, maka jangan ada api. Kita selama ini sibuk menghalau asap tapi lupa mematikan penyebab asap.

Dengan kata lain, pemerintah harus hadir tidak hanya saat TKI mendapat musibah, tapi juga hadir mengatasi penyebab orang menjadi TKI. Pemerintah harus hadir tidak hanya dengan menyiapkan rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk melindungi TKI di luar negeri, tapi juga menyiapkan rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk mengurangi kemiskinan dan serba kekurangan lainnya yang memaksa orang menjadi TKI.

Kapan bangsa ”abnormal” ini segera normal? Jawabannya tentu dengan kerja, kerja, dan kerja! (*)

Menjadi narasumber di Berita Satu TV soal TKI yang dihukum pancung.

Menjadi narasumber di Berita Satu TV soal TKI yang dihukum pancung.