Film

Ada yang berbeda dari aktivitas Ira, Maria, dan Aisha. Biasanya ’’trio lajang’’ ini mengisi Sabtu malam minggu dengan ’’cuci mata’’ di mal. Tapi kali ini, mereka pergi ke Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Sebab, sejak Jumat, 27 Maret 2015, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf membuka Film and Art Celebration (FILARTC) 2015. Program yang mempertemukan berbagai unsur perfilman ini akan memutar puluhan film Indonesia. Ini bagian dari memeringati Hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret.

FILARTC 2015 berpusat di Teater Besar, Teater Kecil, Kineforum dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang berada di kompleks TIM. Film-film yang diputar berasal dari lintas era yang menjadi wajah industri film Tanah Air. Di antaranya, ’’Darah dan Doa’’ (1950), ’’Lewat Djam Malam’’ (1954), ’’Tjoet Nyak Dhien’’ (1988), ’’Cinta Dalam Sepotong Roti’’ (1990), ’’Bibir Mer’’ (1991), ’’Ca Bau Kan’’ (2002), ’’Ayat-ayat Cinta’’ (2008), ’’Laskar Pelangi’’ (2008), ’’Ngulon’’ (2013) hingga ’’Cahaya Dari Timur’’ (2014).

Selain pemutaran film juga ada rangkaian diskusi dengan semua stakeholder perfilman Indonesia, pertunjukan tari dari berbagai daerah, aksi teatrikal dari kelompok-kelompok teater, serta pameran
fotografi dan poster film.

Menariknya lagi juga dipamerkan kostum-kostum yang pernah dipakai dalam film ’’Soegija’’, ’’Quickie Express’’, ’’Habibie & Ainun’’, ’’Soekarno’’, dan film ’’Pendekar Tongkat Emas’’. Pengunjung bisa selfie dengan latar kostum-kostum itu. Tapi pengunjung dilarang menyentuhnya, apalagi memakainya. ’’Trio lajang’’ pun banyak menghabiskan waktu foto narsis di sini.

’’Mana film Indonesia paling bagus?’’ tanya Ira.

’’Aku tuh suka film-film inspiratif, seperti ’’Habibie & Ainun’’, ’’Soekarno’’, ’’Jokowi’’, ’’Sang Kiai’’, ’’Sang Pencerah’’, ’’Laskar Pelangi’’, dan ’’Negeri Lima Menara’’ dan lain-lain,’’ kata Maria.

’’Kalau gue sih film-film religi. Kalau bisa sebagian setting-nya di luar negeri, biar nggak jenuh, kayak ’’Ayat Ayat Cinta, ’’Ketika Cinta Bertasbih’’, ’’Assalamualaikum Beijing’’, ’’La Tahzan’’, ’’Haji Backpacker’’, ’’99 Cahaya di Langit Eropa’’, de el el,’’ tukas Aisha.

’’Kalau luh sendiri apa Ra?’’ tanya Aisha.

’’Gua sih yang percintaan-percintaan gitu deh….mau religi kek, komedi kek, nggak papa, asal tema utamanya percintaan hahaha,’’ Ira tertawa geli.

’’Eh ada tiga sarat lagi, gua nggak suka film berbau kekerasan, mistik horor, dan seks. Kalau ada tiga hal itu nggak gua tonton,’’ tambah Ira.

’’Gimana kalau horornya sudah nggak horor lagi?’’ tukas Aisha.

’’Maksudnya?’’ tanya Ira.

’’Sekarang kan film horor itu sudah lucu-lucu. Ada ’’Suster Ngesot, ’’Pocong juga Pocong’’, atau ’’Pocong Ngesot’’,’’ Aisha memberikan contoh.

’’Tetep aja gua nggak suka. Pokoknya tiga hal itu pantang bagi gua,’’ Ira keukeuh terhadap pilihannya.

’’Jadi, mana nih film Indonesia paling bagus?’’ Ira mengulangi pertanyaannya.

’’Yang inspiratif,’’ jawab Maria.

’’Yang religius,’’ jawab Aisha.

’’Yang romantis,’’ jawab Ira.

Di tengah ’’sesi tanya jawab’’ itu pengunjung pameran film nyeletuk: ’’Salah mbak e, sing bener itu film pilihan panitia FFI (Festival Film Indonesia).’’

’’Oh, nggak bisa mas e. Paling bagus itu ya film pilihan-pilihan penontonnya sendiri. Kita lah jurinya,’’ ketiga jomblowati itu kompak menjawab.

Melihat gelagat seorang pengunjung itu yang terkesan tidak terima, buru-buru cewek-cewek geulis itu menimpali, ’’Hayo, kamu mau protes? Nggak bisa, kamu kalah suara. Kamu sendirian. Kita di sini bertiga hahaha…..’’ (*)

~ by ariyanto on 31 March 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: