Diet Kantong Plastik

Saya termasuk orang yang tidak ada persoalan dengan berat badan, sehingga tidak perlu diet-dietan. Makan sebanyak apa pun, makan sesering apa pun, tidak berpengaruh. Tetap saja badan saya kurus.
Namun soal satu ini, saya mau tidak mau harus diet. Bagaimana pun caranya, sebesar apa pun susahnya. Saya sebut susah karena semakin ke sini, diet satu ini semakin tidak mudah. Apa itu? Diet kantong plastik! Ya, diet kantong plastik! Mengapa harus diet?

Setiap tahun, sekitar 500 juta hingga 1 miliar kantong plastik digunakan di seluruh dunia. Ini berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik tiap menit. Padahal, dampak negatifnya tidak sebesar fungsinya. Plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Butuh 1.000 tahun agar plastik terurai oleh tanah (terdekomposisi) dengan sempurna.

Racun-racun partikel plastik yang masuk ke tanah juga akan membunuh hewan-hewan pengurai seperti cacing. Selain itu, kantong plastik dapat mengganggu jalur air yang terserap dan menurunkan kesuburan tanah. Juga berbagai dampak negatif lainnya. Intinya, sampah plastik dapat mencemari tanah, air, laut, dan bahkan udara. Terbayang kan seperti apa kondisi bumi dan kehidupan generasi masa depan?

Sebuah tas plastik tampaknya seperti hal sepele. Tak usah dihiraukan. Tak perlu ditakutkan. Hingga kita menyadari bahwa miliaran sampah plastik dibuang setiap hari dan meracuni bumi tempat kita berpijak, terutama lautan dan saluran air kita.
Sungguh tepat jika Achim Steiner, Executive Director of the U.N. Environment Program, yang menganjurkan larangan global terhadap penggunaan kantong plastik. ’’Zero justification for manufacturing them anymore, anywhere.’’

Melarang kantong plastik di seluruh dunia merupakan salah satu langkah kunci menjadikan bumi ini ’’hijau’’. Namun, menyelesaikan masalah kantong plastik tidak lah mudah, karena ada relasi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang tidak selaras, serasi, dan seimbang. Tapi jika itu dijadikan sebagai sebuah gerakan bersama, bukan hal mustahil itu bisa terealisasi.

Kebijakan pemerintah San Francisco ini barangkali patut ditiru. Ini lah kota pertama di Amerika Serikat yang melarang sekali pakai plastik carryout tas pada 2007. Jack Macy, Senior Commercial Zero Waste Coordinator di San Francisco, menceritakan bahwa 77 kota dan kabupaten di California telah bergabung dengan gerakan ini. Mereka tidak hanya melarang sekali pakai kantong plastik, tetapi juga mengenakan biaya bagi penggguna tas plastik. Hal ini mendorong sebagian besar pelanggan membawa tas sendiri serta mengurangi sampah dan dampak lingkungan.

Berbicara diet kantong plastik, saya jadi teringat pesan ibu saya agar bawa tas sendiri kalau belanja ke Pasar Bok Tuwowo, Pasar Bulak Rukem, atau Pasar Kapas Krampung di Tambaksari, Surabaya. Tas itu terbuat dari kain yang bisa dipakai kembali (reusable). Saya yang pada 1980-an masih duduk di bangku SD itu patuh begitu saja. Tidak banyak bertanya ini itu.

Lagi pula ibu saya juga tidak menjelaskan bahwa tas reusable dapat menghentikan polusi plastik dan dampak beracun pada manusia, hewan dan lingkungan.

Ibu saya pun tidak menerangkan bahwa tas kantong plastik (plastic carrybags) merupakan sikap negatif terhadap kehidupan dan alam. Juga tidak menyebutkan bahwa tindakan itu tidak ramah lingkungan, perbuatan pidana, atau makar terhadap alam.

Saya juga tidak pernah menanyakan mengapa peralatan dapur di rumah tidak banyak menggunakan bahan plastik. Saya pakai begitu saja. Lagi pula ibu saya juga tidak menjelaskan mengapa harus begini-begitu.
Yang saya tahu kala itu, kalau kami minum air putih pakai kendi (tempat air seperti teko yang terbuat dari tanah liat), bukan ceret plastik. Langsung dituangkan dari kendi ke mulut (Baca: ngglogok). Terasa lebih segar dan dingin alami, seperti minum air pegunungan.

Yang saya tahu kala itu, kalau kami mau jus buah tinggal iris-iris buah sesuai selera pakai pisau atau diaduk-aduk pakai sendok. Tidak perlu pakai botol plastik yang biasa dijumpai di pusat perbelanjaan modern. Minum susu juga tidak perlu dari kemasan. Ada penjual susu murni langganan yang tiap pagi mengantarkan ke rumah. Air susu itu dimasukkan di botol kaca. Kalau makan pakai kecap juga tidak perlu kecap sachet atau botol plastik, tapi botol kaca.

Yang saya tahu kala itu, kalau kami membersihkan rambut, pakai sampo lidah buaya yang ditanam di rumah atau sampo merang. Bukan sampo sachet atau botol plastik. Kalau membersihkan badan juga tidak pakai sabun cair yang biasa ditaruh di botol plastik atau kemasan plastik.

Yang saya tahu kala itu, para pedagang makanan keliling yang lewat depan rumah juga menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan. Penjual Rujak Cingur, penjual Nasi Pecel, penjual Bubur Sumsum, campur Ketan, Kelanting, dan Lupis masih pakai piring dari daun pisang. Enak sih. Lebih alami, higienis, dan beraroma wangi, dan tidak mencemarkan lingkungan.

Tapi tidak semua penjual makanan pakai daun pisang. Kalau Gado-gado, Tahu Tek, Tahu Campur, Lontong Kupang, dan Lontong Balap sudah pakai piring kaca. Ya, iya lah, kalau dibungkus pakai daun pisang nanti bumbu dan kuahnya bisa merembes hehehe…

Yang saya tahu kala itu, ketika belanja kebutuhan dapur di pasar tradisional, penjualnya menggunakan daun jati. Bukan kantong plastik.

Yang saya tahu kala itu, sampah rumah tangga yang dibuang di keranjang kayu juga tidak dibungkus kantong plastik. Langsung dibuang begitu saja ke keranjang sampah. Petugas kebersihan tinggal membuang sampah itu di gerobak sampah. Jadi, sampah itu tidak perlu dibungkus kecil-kecil pakai kantong plastik agar petugas kebersihan dapat mengangkut dengan mudah.

Yang saya tahu kala itu, nyaris semua jenis permainanku dan teman-teman kecilku tidak berbahan plastik. Di antaranya, mainan mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, rodanya juga dari kulit jeruk bali yang diiris sedemikian rupa mirip roda. Ada mobil-mobilan dari papan dengan memakai roda klaker, lalu kawan sepermainan menariknya secara bergantian. Ada kereta kuda dari daun Blarak (ranting pohon kelapa kering), lalu kawan sepermainan menjadi kuda dan menarik sekencang-kencangnya.

Selain itu, ada juga permainan perang-perangan yang semua senjatanya nonplastik. Ada Tulup dengan peluru biji Kacang Hijau atau biji Kedelai dan ada pula pistol kayu yang pelurunya dari biji Jambu Air.

Situasi sosial, ekonomi, dan budaya kala itu memang sangat ramah lingkungan. Barangkali, manusia modern dan Postmodern perlu belajar kearifan lokal (local wisdom) dari orang-orang tradisional di kampung-kampung di Indonesia. Jauh sebelum ada gerakan ’’Hari Bebas Tas Plastik Internasional’’ (International Plastic Bag Free Day), ternyata nenek moyang kita sudah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sudah membuat setiap hari bebas kantong plastik di rumah.

Patut diapresiasi jika sejumlah komunitas dan organisasi yang concern terhadap pengurangan penggunaan kantong plastik telah berkoalisi membentuk Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik. Gerakan ini diharapkan dapat menggedor kesadaran kita semua tentang bahaya kantong plastik.

Diet Kantong Plastik ini menyasar empat target. Yakni, pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, pihak retailer, komunitas, dan masyarakat sebagai pengguna. Selama ini Diet Kantong Plastik getol memberikan advokasi terhadap pemerintah.

Salah satu hasilnya penerbitan Perda Kota Bandung No 17 Tahun 2012 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik. Juga, dalam pelaksanaan Festival Jakarta Great Sale 2013, Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan Surat Seruan Gubernur No 6 Tahun 2013 tentang Gerakan Diet Kantong Plastik.

Semoga saja ’’virus’’ ini dapat menular cepat ke daerah-daerah lainnya di Indonesia, agar berbagai masalah mendesak seperti perubahan iklim, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan berkelanjutan dapat terpecahkan.

Berpikir besar agar bisa bertransformasi ke masyarakat ’’Zero Waste’’ (Bebas Limbah) bisa diawali dari diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil, dan mulai lah dari sekarang. (Think Big, Start Small, Act Now). Yuk, diet kantong plastik ramai-ramai! (*)

~ by ariyanto on 12 May 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: