Cerita Joni

Hold on to your seats! (Berpegang pada kursi anda!). Ini bukan mau nonton aksi artis seksi Salma Hayek di film action ’’Everly’’ yang berdarah-darah. Tapi ini peringatan bagi siapa saja yang hendak mendengarkan cerita-cerita Joni yang seru dan menegangkan.

Bukan cerita tentang ’’Godam’’, Superman ala Indonesia dari Planet Godam yang punya kekuatan super. Bukan cerita soal Gundala sang putra petir, Flashman ala Indonesia yang kekuatannya bersumber dari petir dan dapat berlari secepat kilat. Bukan pula cerita tentang Sangkuriang yang mampu membuat telaga dan bahtera hanya dalam waktu semalam atau cerita-cerita rakyat seru lainnya.

Cerita Joni ini soal kinerja pemerintahan Jokowi. Ia kalau soal ini memang sangat antusias. Heboh. Tapi ia bukan pembenci Jokowi. Bukan pula pemuja Jokowi. Ia bukan timses Jokowi. Juga bukan pula timses lainnya. Ia bukan politisi. Ia rakyat biasa. Ia karyawan sebuah perusahaan swasta yang kondisinya kembang kempis didera berbagai krisis akut. Kehebohannya ini semata-mata refleksi kecintaannya kepada Jokowi dan refleksi kepeduliannya kepada masa depan nasib rakyat dan bangsa Indonesia.

’’Braakkk!’’ tangan kanan Joni menggebrak meja bakso yang biasa mangkal di depan Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, hingga membuat penjual dan kawan-kawannya kaget. Aku, Andi, dan Sofyan yang sedang ’’reuni eksklusif’’ ini sontak ’’memoratorium’’ makan baksonya. Para penikmat kuliner yang siang itu usai menunaikan Salat Jumat juga sempat ’’memoratorium’’ obrolan ringan mereka gara-gara aksi Joni yang lebay.

’’Era Jokowi ini kalau aku amat-amati isinya itu ribuuuuuut melulu. Gaduh, heboh, rame thok. Koyok pithik gorong dipakani. Kemriyek goro-goro keluwen. Ngelu ndasku. (Seperti ayam belum dikasih makan. Guaduh gara-gara kelaparan. Pusing kepalaku),’’ Joni, sapaan akrab pria bernama lengkap Subagio Suwondo asli Malang, Jawa Timur, ini.

Joni terus bercerita penuh penjiwaan. Sangat ekspresif. Seperti saat penyair membaca puisi. Sementara aku dan teman-temanku memegang erat mangkok dan sendok. Khawatir Joni menggebrak meja lagi dan menumpahkan kuah panas bakso.

Kegaduhan itu, menurut Joni, diawali dengan lambannya Presiden mengumumkan ’’Kabinet Kerja’’. Lokasi pelantikan kabinet di halaman Istana dan mengenakan batik juga mengundang polemik. Rencana pelantikan menteri di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang menghabiskan dana besar juga memproduksi kontroversi.

Namun, setelah lama ditunggu, ternyata komposisi kabinet tidak sesuai ekspektasi publik. Kabinet ramping dan profesional yang didengung-dengungkan tidak sesuai harapan. Ibarat orang lapar menunggu lama menu makanan yang dipesan, ternyata setelah dihidangkan dan disantap makanannya tidak menggugah selera. Mood makan hilang.

Kegaduhan berlanjut setelah kabinet terbentuk. Masing-masing menteri seolah-olah berlomba-lomba mencari sensasi dan mengejar kontroversi. Agar dimuat di media massa atau entah apa motifnya. Ada menteri melompat pagar, ada menteri merokok, ada menteri yang mengekspose besar-besaran peledakan kapal asing ilegal, dan ada menteri yang mewacanakan boleh mengosongkan kolom agama.

Ada menteri yang memberikan pernyataan tidak jelas bahwa pendukung KPK itu orang-orang tidak jelas dan tsunami manusia, ada menteri yang mengintervensi parpol dan berencana memberikan remisi koruptor, ada menteri yang mewacanakan penjualan gedung Kementerian BUMN, ada menteri yang menghapuskan kurikulum baru, dan jaksa agung yang tak kunjung mengeksekusi mati gembong narkoba hingga April. Padahal ’’show’’ eksekusi mati sudah dilakukan sejak Februari dengan memindahkan para terpidana ke Nusakambangan dan mengirimkan alat-alat berat untuk antisipasi keamanan yang dinilai terlalu berlebihan.

Selain itu, ada menteri yang melarang PNS rapat di hotel dan kemudian meralat sendiri kebijakannya, ada menteri yang mengeluarkan kebijakan masuk tol dikenai pajak dan kemudian meralat kembali kebijakannya, dan berbagai kontroversi lainnya.

Terakhir muncul penangkapan terduga kelompok organisasi radikal di luar negeri sana dan berlanjut kepada pemblokiran 22 situs dakwah Islam yang dinilai berpaham radikal. Tanpa cek dan ricek terlebih dulu. Tanpa menjelaskan alasan pemblokiran terlebih dulu. Tanpa berdialog dengan mereka terlebih dulu. Tanpa menjelaskan definisi radikal dan nonradikal terlebih dulu.

Mengapa hanya situs itu yang diblokir, yang lain tidak? Kenapa situsnya yang diblokir, bukan penanggung jawab situsnya yang diadili? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang belum terjawab. Aksi pemblokiran Menkominfo ini juga ditentang Wapres Jusuf Kalla. Ia meminta Menkominfo tidak asal blokir. Loh, memang sebelum memblokir tidak dikoordinasikan dengan pimpinan kabinet?

Ralat meralat kebijakan dan mengundang polemik ini bukti bahwa pemerintahan ini tidak matang dalam perencanaan dan tidak koordinatif. Grusa-grusu. Kesusu. Tidak cermat. Pernyataan di antara kalangan pemerintah juga kerap bertolak belakang. Perhatikan saja soal kasus beras mahal. Menteri Perdagangan menyebut ada mafia beras, yang lainnya mengatakan tidak ada. Tidak satu kata, seolah kabinet bekerja sendiri-sendiri tanpa koordinasi.

Bos kabinet (baca: Presiden) juga kerap mengundang kontroversi. Di antaranya, menaikkan harga BBM ketika harga minyak dunia turun, kebijakan menaikkan dan menurunkan BBM secara mendadak, mengangkut kembali ratusan traktor yang sudah dipamerkan ke para petani, dan menunjuk jaksa agung dari partai politik.

Tak hanya itu. Presiden juga mengajukan calon Kapolri yang telah ditetapkan KPK sebagai tersangka untuk di-fit and proper test DPR. Namun, setelah Calon Kapolri diloloskan DPR dan gugatan praperadilan calon Kapolri dimenangkan pengadilan, Presiden toh tetap tidak melantiknya dan menunjuk Plt kapolri.

’’Dan, paling menguras energi publik adalah ketika Presiden membiarkan terlalu lama ketika KPK ’’dilemahkan’’ dan satu per satu pimpinannya ditersangkakan. KPK nyaris lumpuh dan sekarang hampir tidak pernah kita dengar ada penetapan tersangka koruptor kakap karena KPK sibuk menghadapi gugatan praperadilan dari para tersangka,’’ tegas Joni dengan mata melotot dan ’’menelanjangi’’ satu per satu mata temannya.

’’Tapi kan banyak juga Jon program Jokowi yang sukses. Menteri yang bagus juga banyak, meski jarang publikasi. Masak jelek semua? Proporsional dong, Jon?’’ pinta Andi.

Sofyan juga menguatkan pendapat Andi. Ia melihat berbagai terobosan telah dilakukan sejumlah menteri, di antaranya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dalam menyelamatkan lingkungan dan kehutanan. Bikin layanan keluhan online, mencegah dan memberantas illegal logging, serta menyikat mafia perizinan dan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan yang kerap menabrak hutan lindung dan konservasi.

Juga mengurangi bencana kebakaran hutan dan lahan di provinsi-provinsi kritis dengan bikin sekat-sekat kanal di areal gambut, modifikasi cuaca, patroli wilayah dan peningkatan partisipasi dunia usaha, penegakan hukum, melibatkan semua unsur agar terus mengikuti perkembangan titik api dari sumber data sipongi KLHK dan lain-lain. ’’Aksinya substantif, bukan sekadar seremonial simbolis yang tidak membawa perubahan apa-apa,’’ beber Sofyan.

’’Iya, aku tahu itu, tapi kan lebih terasa kebijakan kontroversialnya. Jangan berkontroveri ria terus lah, berseri terus kayak sinetron Jodha Akbar? Kadang ceritanya berbingkai, di dalam cerita ada cerita lain lagi. Rakyat saat ini sedang ’berdarah-darah’ sekadar menyambung hidup untuk menyesuaikan roller coaster naik turunnya harga BBM yang berimbas kepada naiknya harga komoditas dan jasa. Benar nggak Ar,’’ Joni menanyakan pendapat kepadaku.

’’Sampean gagal paham dan gagal fokus ya ngeliat kinerja kabinet kerja? Pasti sampean juga gagal paham dan gagal fokus pas nonton film Everly: nonton action Salma Hayek apa ngeliat keseksian Salma Hayeknya hahaha…Bener nggak Jon?’’ aku balik bertanya.

’’Hahaha…tau aja sampean. Tapi pendapatku tadi gimana? Benar nggak?’’ Joni bertanya lagi.

’’Iya…tapi sampean juga jangan berseri terus ceritanya, kayak sinetron ‘Tersanjung’ atau ‘Cinta Fitri’ saja? Ini kuah bakso sudah pada dingin. Beliin lagi aku satu mangkok,’’ jawabku. Teman-temanku pun ikutan protes dan minta ditambah lagi kuahnya. (*)

~ by ariyanto on 7 April 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: