Toleransi

Mahfud MD dan Akhmad Hafandidi Vihara Avalokitervara Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Mahfud MD dan Akhmad Hafandi di Vihara Avalokitervara Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Mobil Vellfire hitam yang kami tumpangi bertiga, Mahfud MD, Akhmad Hafandi, sahabat Mahfud MD, dan saya melaju pelan saat memasuki Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura. Kami menuju Vihara Avalokitervara atau biasa disebut Kelenteng Kwan Im Kiong yang berada di dusun ini. Lokasinya tak jauh dari lokasi wisata Pantai Talang Siring. Sekitar satu kilometer.

’’Saya senang tempat itu (vihara). Waktu kecil sering ke sana karena ingin lihat anjing. Vihara ini besar sekali, di tengah-tengahnya ada Masjid,’’ cerita Mahfud.

’’Huk huk…huk huk…..,’’ anjing di depan vihara menggonggong keras, seolah hendak mengucapkan selamat datang kepada kami yang baru tiba.
’’Nah, itu anjingnya masih ada,’’ kata Mahfud sembari jari telunjuknya mengarah ke anjing berwarna cokelat muda itu.
’’Tapi sekarang anjingnya sudah ndak galak,’’ tukas Hafandi lalu terkekeh. Mahfud pun turut tertawa. Mahfud dan Hafandi yang sore itu kompak mengenakan baju koko putih memang sering datang ke sana saat kecil.

Bangunan seluas 3 hektare ini didirikan pada abad 18. Sekitar 1.800 sebelum Masehi. Dinamakan juga Kelenteng Kwan Im Kiong karena di dalamnya ada patung Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara, Dewi Welas Asih. Tingginya 155 sentimeter, tebal tengah 36 cm dan tebal bawah 59 cm.

Menariknya, di Vihara Avalokitesvara ini terdapat masjid, tempat ibadah umat Islam. Tepatnya musala, karena ukurannya tidak terlalu besar. Berukuran hanya 4×4 meter. Masjid berwarna hijau tua itu kubahnya berbentuk piramid berundak tiga, mirip Masjid Demak maupun masjid umumnya di pulau Jawa. Lokasinya tepat di kanan depan vihara. Meski tidak besar, pihak Vihara menyediakan tempat berwudu, sajadah (alas untuk salat), mukena (baju putih yang harus dikenakan muslimah untuk salat), dan tasbih. Jarak musala dengan Vihara hanya 10 meter.

Tak hanya musala. Di areal vihara ini juga ada tempat ibadah umat lain. Saya lihat di sana ada Pura untuk umat Hindu. Lokasi Pura paling dekat dengan Vihara. Namun ukuran Pura lebih kecil dari Musala, hanya 3×3 meter. Pembangunan Pura atas prakarsa Kapolwil Madura saat itu, yang berasal dari Bali dan menganut Agama Hindu.
’’Ini bukti bahwa umat beragama di Madura ini bisa hidup rukun dan berdampingan. Kalau tidak toleran tidak akan berdiri Vihara, apalagi di dalamnya ada tempat ibadah penganut agama lain,’’ terang Mahfud yang masa kecilnya dihabiskan di Pamekasan ini sambil keliling Vihara.

Tak hanya di Madura. Sebenarnya, di seluruh Indonesia, toleransi sudah menjadi kebudayaan adiluhung. Sejak dulu tak pernah mempermasalahkan perbedaan agama dan keyakinan. Itu urusan masing-masing individu dalam menjalin hubungan manusia dengan Tuhannya. Antarpenganut agama tidak saling bermusuhan, saling menghormati, dan saling menghargai dengan tetap memegang teguh ajaran agama dan keyakinan.

Di Desa Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), juga terdapat perpaduan dua agama Hindu dan Islam. Tempat ini dijadikan objek wisata sekaligus tempat ritual bagi umat Hindu dan Islam. Lokasinya sama tetapi tempat ritualnya berbeda.

Hal-hal semacam ini banyak di Tanah Air. Kalau kita ke Maluku dan Papua, misalnya, sering kita jumpai masjid dan gereja berhadap-hadapan atau bersebelahan. Juga sama-sama besar dan megah tempat ibadahnya. Mereka berdampingan. Hidup rukun.

Begitu pula di Sulawesi Utara. Gereja dan masjid berdiri berdampingan. Masyarakatnya toleran dan bergotong royong. Kerukunan itu kemudian disimbolkan dengan ’’Bukit Kasih’’ yang berada di Desa Kanonang, sekitar 55 kilometer dari Manado.

Dinamakan Bukit Kasih karena pemeluk agama dapat berkumpul dan berdampingan dalam beribadah sebagai simbol keharmonisan beragama. Terdapat lima rumah ibadah di sini, sebuah gereja Katolik, sebuah gereja Kristen, kuil, mesjid dan candi Hindu yang dibangun di puncak kedua. Pada puncak pertama adalah sebuah salib putih dengan tinggi 53 meter yang dapat dilihat bahkan dari pantai Boulevard di Manado.

Ini semua bukti rakyat Indonesia ini sangat toleran sejak dulu. Toleransi bukan berarti mengikuti acara-acara ritual pemeluk agama lain. Juga bukan berarti menganggap semua agama sama. Punya iman dan akidah sama. Namun, toleransi di sini berarti saling menghormati dan menghargai pemeluk agama lain. Tidak memaksakan keyakinan dan kepercayaannya sendiri. Dengan demikian, para pemeluk agama ini bebas menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan yang diyakini.

Iman dan akidah tiap agama bisa jadi berbeda, namun tiap agama mengajarkan hal sama tentang kebaikan universal yang bisa diterima semua agama. Kebaikan universal ini lah kekuatan yang bisa membawa bangsa ini lebih maju, lebih sejahtera, dan lebih beradab. (*)

~ by ariyanto on 31 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: