Lombok

Salah satu pura yang berada di kawasan Cakranegara.

Salah satu pura yang berada di kawasan Cakranegara.

Ingin melihat Bali dan Lombok dalam satu waktu sekaligus? Datang saja ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di pulau yang terletak di antara Pulau Bali dan Pulau Sumbawa ini kita bisa melihat Bali. Ya, kita bisa melihat Pulau Dewata itu dari Lombok. Tapi tidak sebaliknya, bisa melihat Lombok dari Bali.

Di Lombok kita bisa menemukan kampung-kampung Bali, dengan bangunan-bangunan khas layaknya di Bali. Lengkap dengan segala ornamen khasnya. Mulai bentuk pekarangan, tembok penyengker, hingga bentuk rumah. Dalam keseharian, masyarakatnya juga menggunakan bahasa Bali, bahasa ibu layaknya di Bali. Kampung-kampung Bali ini ditandai banyaknya pura, tempat peribadatan umat Hindu, agama mayoritas masyarakat Bali.

Di Kota Mataram, ibu kota NTB, kampung Bali terdapat di tiga kecamatan: Cakranegara, Mataram, dan Ampenan. Di Cakranegara (orang Lombok biasa menyebut Cakre), hampir semua wilayah terdapat nama ’’Karang’’ di depan nama pemukiman itu. Sebut saja Karang Blumbang, Karang Batuaye, Karang Sampalan, Karang Jasi dan beberapa nama lainnya. Di sini penghuninya etnis Bali. Di sana-sini berdiri pura-pura besar. Maklum, Cakre pusat ibu kota kerajaan Karangasem-Lombok.

Di Kecamatan Mataram, hampir semua wilayah di Kampung Bali juga menggunakan nama ’’Karang’’ di depan nama pemukiman. Di antaranya, Karang Terune, Karang Medain, Karang Baru, Pagesangan, Monjok, Cemara, Gubug Batu, dan Pajang. Sebagaimana di Cakre, di sini juga banyak berdiri pura. Begitu pula Kampung Bali di Kecamatan Ampenan, banyak menggunakan nama Karang dan berdiri pura-pura besar.

Pura Meru adalah Pura terbesar dan salah satu yang tertua di Lombok. Pura ini simbol alam semesta dan penghormatan terhadap tiga dewa utama agama Hindu: Brahma, Syiwa dan Wishnu. Meru juga mewakili 3 gunung: Gunung Agung Bali, Gunung Rinjani dan Gunung Semeru. Uniknya keberadaan Pura Meru ini bersebelahan dengan masjid dan gereja, yang juga sama-sama besar. Para pemeluknya hidup berdampingan, rukun, dan mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian.

Menyusuri tiga kecamatan ini membuat saya serasa di Bali. Tak ubahnya ketika menyusuri jalan-jalan di Kabupaten Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Klungkung, Tabanan, dan Kota Denpasar yang banyak berdiri pura di sepanjang jalan.

Kesan berada di Bali juga saya rasakan hingga di Lombok Barat. Di antaranya ketika di Lamper, Tambang Eleh, Jagaraga, Adeng, Suranadi, Narmada, Lendang Bajur, Pemuun, dan Karang Bayan. Bahkan, saya juga menjumpai sebuah pura besar bernama Lingsar yang juga bersebelahan dengan dua masjid besar di depan dan kirinya layaknya di Pura Meru. Bangunan ini berada di areal sama, yaitu Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar. Di sini pemeluknya juga hidup berdampingan, rukun, serta mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian.

Dari penelusuran saya, beberapa kampung di Tanjung dan Pemenang Lombok Utara dan beberapa dusun di Pelangan Lombok Selatan, termasuk di Sengkongo, dan Gerung, juga berdiri pura dan bale banjar yang menandakan pemukiman Bali.

Begitu pula ketika masuk pemukiman di sekitar Pura Lingsar Kelod yang juga disebut Karang Kubu Keling, Lombok Tengah. Kesan ’’berada di Bali’’ itu masih terasa, meski sudah sedikit berkurang.

Namun, ketika saya masuk Lombok Timur, ’’kesan Bali’’ itu tidak tampak. Saya justru serasa berada di Timur Tengah. Sebab, di ujung timur Pulau Lombok ini banyak berdiri masjid megah berarsitektur Timur Tengah. Ada puluhan masjid yang saya jumpai.

Untuk pura hanya ada satu buah. Lokasinya di halaman Mapolres Lombok Timur. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, pura itu dibangun belakangan karena ada sejumlah warga Selong beragama Hindu. Sebagaimana di wilayah lain, di Selong ini antarpemeluk agama juga hidup berdampingan, rukun, serta mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian.

Keberadaan warga Bali di Lombok terjadi dalam tiga gelombang. Pertama, sebelum Kerajaan Karangasem berdiri di Lombok. Sebelum Kerajaan Karangasem Bali berkuasa, Kerajaan Gelgel Klungkung pernah mengutus Dhanghyang Dwijendra datang ke Lombok. Di daerah ini, Dhanghyang yang di Bali dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wau Rauh banyak membangun tempat suci seperti Pura Suranadi dan Pura Batu Bolong.

Kedua, ketika Kerajaan Karangasem berkuasa di Lombok mulai sekitar 1720. Sebelum dipersatukan Kerajaan Singasari Lombok (Karangasem Lombok), terdapat sejumlah kerajaan kecil seperti Kerajaan Pagesangan, Kerajaan Sengkongo, Pagutan, Mataram Lombok, dan Kediri. Pada masa itu, warga Bali, khususnya warga Karangasem berbondong-bondong datang ke Lombok. Ada yang ngiring sesuhunannya raja yang berkuasa saat itu, ada juga yang ikut keluarga masing-masing.

Ketiga, era kemerdekaan. Saat ini keberadaan warga Bali di Lombok tak lagi berhubungan dengan kerajaan. Tapi, berhubungan dengan tugas sebagai PNS, TNI/Polri, termasuk wiraswasta. Merasa nyaman tinggal di Lombok, mereka akhirnya menetap dan menjadi warga Bali Lombok. Ada yang menghuni pemukiman baru, namun ada pula yang membuat kampung-kampung baru dengan cara ngapling tanah bersama di daerah-daerah tertentu.

Itu saja nuansa Bali yang bisa dilihat? Tentu tidak. Masih banyak dijumpai ’’Bali-Bali’’ lainnya. Di antaranya, di Lombok bisa melihat Ubud. Ya, melihat Ubud dengan persawahan model terasering yang khas itu. Orang Sasak menyebutnya terasan. Nuansa Ubud paling terasa di Kecamatan Sikur, Lombok Timur. Khususnya ketika menyusuri desa-desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani seperti Desa Tetebatu, Desa Jeruk Manis, dan Desa Kembang Kuning. Serasa benar-benar di Ubud. Ya, ini lah ’’Ubud’’-nya Lombok. Hawanya sejuk di sini.

Itu saja? Tentu tidak. Di Lombok juga ada Pantai Kuta. Lokasinya di Desa Kuta, Lombok Tengah. Di sini pasirnya putih lembut, seperti bubuk merica halus, sehingga pantai ini juga dinamakan dengan Pantai Merica.

Itu saja? Tentu tidak. Lalu, apa lagi? Enak saja dikasih tahu. Datang sendiri dong ke Lombok untuk mencari tahu hehehe….(*)

~ by ariyanto on 7 January 2015.

3 Responses to “Lombok”

  1. Assalamu’alaikum. Salam kenal Mas Ariyanto. sukses buat anda. saya ijin info ini sebagai inspirasi untuk salah satu Bahan pembuatan Buku Anak yang sedang saya tulis, yang berjudul Persahabatan Firman dan Komang. Thanks sebelumnya. Semoga ada waktu ketemu langsung. Wassalamu’alaikum.

  2. mantap gan perkembangan teknologi sekarang, , klw kita gak ikuti bisa ketinggalan kereta , Aerith

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: