Menormalkan Abnormal

Innalillahi wa inna ilaihi roji’iun.

Turut berduka sedalam-dalamnya atas para TKI yang telah dieksekusi mati. Semoga mereka mendapat tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Sungguh menyayat hati setiap mendapat kabar satu per satu TKI di Arab Saudi dihukum pancung. Kabar itu seperti lagu lama yang terus diputar ulang. Dan, tentu saja itu lagu kesedihan dan keprihatinan.

Terlalu seringnya ’’pahlawan devisa’’ mendapat hukuman qisas (hukuman nyawa dibalas nyawa), sampai-sampai kabar itu menjadi banal, menjadi kabar biasa. Termasuk tindak kekerasan yang kerap dialami para TKI kita di luar negeri.

Namun, tragedi memilukan ini jangan lah menjadi banal. Cukup sudah warga negara kita di luar negeri dipancung. Cukup sudah warga negara kita di luar negeri mengalami perbuatan tidak menyenangkan. Jangan pernah ada lagi. Stop sampai di sini!

Mereka menjadi TKI tentu dengan nawaitu atau niat baik: ingin asap dapur tetap mengepul! Ingin anak-anaknya tetap sekolah! Ingin memperbaiki nasib! Ingin hidup lebih baik! Mereka inilah mujahid sejati. Orang yang bersungguh-sungguh berjuang demi kelangsungan hidup keluarga. Mereka menjadi tumpuan keluarga.

Ketika hendak berangkat, TKI dilepas anggota keluarganya dengan penuh harap sekaligus sedih. Penuh harap karena diharapkan bisa sukses di negeri orang dan mengirimkan uang ke kampung halaman. Sedih karena mereka harus berpisah. Tentu makin sedih lagi ketika harus berpisah selama-lamanya dengan orang tercinta.

Mereka sejatinya tidak mau jadi TKI kalau tidak ada desakan ekonomi. Mereka tidak akan jadi TKI kalau di dalam negeri ada lapangan pekerjaan layak. Tidak usah pekerjaan layak dengan penghasilan layak. Sekadar pekerjaan yang dapat menyambung kehidupan saja sudah syukur. Kemiskinan dan tidak adanya lapangan pekerjaan inilah yang memaksa mereka menjadi TKI.

Jadi, TKI itu merupakan kondisi abnormal. Kondisi normalnya ketika sudah tidak ada lagi TKI. Kalau pun ada harus terdidik, terlatih, dan punya keahlian. Juga memenuhi syarat-syarat administratif. Selama tidak memenuhi persyaratan tersebut, pemerintah jangan memberangkatkan. Swasta pun tidak boleh memberangkatkan.

Sampai kapan kemiskinan ini berakhir dan lapangan pekerjaan layak ini terpenuhi? Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Di negara maju sekalipun masih ada orang miskin, masih ada pula yang tidak punya pekerjaan layak. Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia. Namun setidaknya, perlu ada upaya masif, sistematis, dan terstruktur untuk menurunkan angka kemiskinan dan membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan. Pemerintah harus berjuang keras menormalkan kondisi abnormal ini. Harus ada kemajuan yang bisa dirasakan setiap tahun.

Kita tahu bahwa pemerintah selama ini tidak pernah absen membela kasus-kasus TKI. Kita tahu pula bahwa pemerintah selalu hadir memberikan perlindungan kepada warganya yang mengadu nasib di luar negeri. Pemerintah juga merasa sudah maksimal memberikan bantuan hukum kepada TKI.

Kalau pun ada para TKI kita dipancung, itu karena keluarga korban pembunuhan tidak memberikan maaf. Jadi, meskipun Presiden melobi mati-matian Raja Saudi, tapi kalau keluarga korban tidak memaafkan, eksekusi mati tetap dilakukan. Kuncinya memang ada di keluarga korban, karena hukum yang berlaku di Arab Saudi memang hukum Islam (baca: qisas). Hukum yang harus dihormati negara lain, sebagaimana negara lain harus menghormati hukuman mati yang diterapkan di Indonesia.

Saya ingin mengatakan bahwa selama kondisi abnormal ini belum dinormalkan, selama itu pula tragedi menimpa TKI. Ibarat asap rokok, selama ada api, asap akan terus mengepul. Kalau ingin tidak ada asap, maka jangan ada api. Kita selama ini sibuk menghalau asap tapi lupa mematikan penyebab asap.

Dengan kata lain, pemerintah harus hadir tidak hanya saat TKI mendapat musibah, tapi juga hadir mengatasi penyebab orang menjadi TKI. Pemerintah harus hadir tidak hanya dengan menyiapkan rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk melindungi TKI di luar negeri, tapi juga menyiapkan rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk mengurangi kemiskinan dan serba kekurangan lainnya yang memaksa orang menjadi TKI.

Kapan bangsa ”abnormal” ini segera normal? Jawabannya tentu dengan kerja, kerja, dan kerja! (*)

Menjadi narasumber di Berita Satu TV soal TKI yang dihukum pancung.

Menjadi narasumber di Berita Satu TV soal TKI yang dihukum pancung.

~ by ariyanto on 20 April 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: