Rinjani, Film, dan Pariwisata

Romeo dan Sharon bertemu di Rinjani dengan latar Danau Segara Anakan di film Romeo+Rinjani.

Romeo dan Sharon bertemu di Rinjani dengan latar Danau Segara Anakan di film Romeo+Rinjani.

Tak perlu jauh-jauh mengambil latar film di luar negeri. Keindahan alam Indonesia itu sangat menakjubkan. Salah satunya panorama Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ibarat perempuan, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Kerinci di Jambi ini sungguh ayu. Dipandang dari sudut manapun, gunung setinggi 3.726 mdpl ini tampak jelita. Bahkan tanpa make up dan usai bangun tidur sekalipun.

Itu sebabnya, Wonderful Rinjani menjadi daya tarik sineas untuk meningkatkan daya tarik penonton. Dibingkai dengan kisah cinta, rumah produksi Starvision menghadirkan film terbarunya berjudul Romeo + Rinjani.

Film besutan sutradara Fajar Bustami ini menghadirkan beberapa aktor dan aktris berbakat. Mereka di antaranya Dave Mahenra, Alexa Key, Kimberly Ryder, Donna Harun, Gary Iskak, Sam Brody, Fico Fachriza, Ryn ‘Cherrybelle’, dan Novi ‘Cherrybelle’.

Film yang ditayangkan perdana pada Kamis (23/4/2015) ini mengangkat kisah Romeo (Dave Mahenra). Fotografer freelance ini sering bergonta-ganti pacar alias playboy. Setiap sang kekasih meminta menikahinya, ia buru-buru meninggalkannya.

Romeo takut menikah karena melihat kedua orangtuanya kerap cekcok dan terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang berujung perceraian. Hingga kemudian Raline (Kimberly Ryder), kekasihnya, meminta Romeo menikahinya dengan alasan hamil.

Untuk menikahi Raline, Romeo meminta izin untuk menyelesaikan pekerjaannya mengabadikan gambar pemandangan alam di Gunung Rinjani. Sharon (Alexa Key)kemudian hadir saat Romeo hendak menunaikan tugasnya itu. Petualangan Romeo memasuki babak baru bersama Sharon saat keduanya sama-sama mendaki Rinjani.

Romeo pun diliputi rasa bimbang sekembalinya mendaki Rinjani. Di satu sisi, ia terikat perjanjian dengan Raline yang memaksanya menikah karena hamil. Akan tetapi, ia juga terpesona dengan kecantikan Sharon.

Namun, takdir berkata lain. Romeo dan Sharon terjadi satu frekuensi cinta. Dalam pendakian kedua kalinya, mereka yang sama-sama memuja kebebasan itu menyadari bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup bebas. Orang yang mengaku menjunjung tinggi kebebasan pun pada dasarnya telah dibelenggu dengan kebebasan itu sendiri. Bahkan, alam bebas pun sesungguhnya tidak benar-benar bebas, karena ia tunduk pada hukum alam yang membatasi kebebasan dengan kebebasan yang lain.

’’Rinjani. 3.726 mdpl. Are you marry me?’’ tanya Romeo kepada Sharon saat berada di Anjani, nama puncak Gunung Rinjani. Sharon pun mengangguk. Dan, keduanya pun berpelukan. Lalu….(maaf mestinya Lembaga Sensor Film menyensor bagian ini).

Dari segi cerita film ini menarik. Sayangnya, saya sebagai penonton dan pernah mendaki ke sana, film berdurasi 90 menit ini kurang mengeksplorasi keindahan Rinjani untuk mendukung kisah cinta dan romantisme Romeo dan Sharon. Padahal, jika ini dilakukan, latar fisik Rinjani yang menawan dapat mendukung ide cerita.

Kenapa tidak dibuat bermalam di Pos 3. Kemah di sana, yang kalau pagi puluhan kera bergelayutan dengan riang menyambut matahari terbit bersama embun pagi. Kenapa tidak dibuat bermalam lagi di Plawangan yang view-nya sangat menggetarkan jiwa. Hamparan Edelweis, simbol keabadian cinta, danau Segara Anakan yang bermata hijau, dan Gunung Sangkareang yang perkasa di seberangnya.

Kenapa tidak bermalam juga di Segara Anakan, yang ketika menatapnya bibir akan senantiasa basah dengan kalimat yang mengangungkan-Nya. Di sini kita bisa melihat lebih dekat gunung Barru Jari yang tumbuh di tengah danau. Kita juga bisa memancing, berenang, atau mandi di bawah air terjun yang airnya ada tiga jenis: dingin, netral, dan hangat.

Dari segi eksplorasi keindahan alam, film ini tidak semenarik film terdahulunya, 5 CM, yang mengambil gambar di Gunung Semeru dengan Danau Ranu Kumbolonya yang memikat dan padang savana Oro-Oro Ombo-nya yang memukau.

Tapi, barangkali film ini ingin menekankan kepada Romeo yang takut menikah dan mengedukasi kepada masyarakat agar menjaga ikatan tali suci pernikahan. Kedua, mungkin cuacanya kurang bersahabat. Jika dilihat dari langitnya yang mendung dan tidak ada pengambilan gambar ketika sunrise, syuting film ini dilakukan pada cuaca kurang bagus.

Terlepas dari itu semua, saya mengapresiasi film yang mengambil setting di Rinjani, di tanah air kita sendiri. Film ini bisa menjadi sarana promosi pariwisata Indonesia yang cukup efektif. Seperti halnya film 5 Cm. Pasca pemutaran film ini, orang berbondong-bondong ingin mendaki ke gunung yang terletak di Provinsi Jawa Timur itu.

Keindahan alam Indonesia itu menakjubkan. Jangan sia-siakan. Ke depan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perikanan dan Kelautan serta Badan Ekonomi Kreatif bisa makin bersinergi untuk mempromosikan wisata alam Indonesia melalui film, sinetron, novel, buku, media sosial, dan tentu saja juga melalui media massa.

Saya yakin pariwisata Indonesia akan bangkit. Dan, hal itu sudah diawali dengan menetapkan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, NTB, sebagai Taman Nasional pada 11 April 2015 lalu dan akan digelar Festival Tambora setiap tahun untuk mendongkrak wisatawan. Wonderful Indonesia! (*)

~ by ariyanto on 24 April 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: