Gambaran Anak Zaman

Bermain gambar tanpa harus berlari-lari di bawah terik matahari.

Bermain gambar tanpa harus berlari-lari di bawah terik matahari.

Melihat anak-anak main kartu bergambar di depan rumah, tiba-tiba pikiran saya terbang ke masa kecil di daerah Tambaksari, Surabaya. Kalau sudah main gambar (anak saya menyebutnya main gambaran), saya sampai lupa segala-galanya. Lupa waktu. Lupa makan. Lupa mandi. Juga lupa kalau kulit saya makin legam gara-gara berlama-lama bermain di bawah terik matahari. Meski ibu saya ngomeli tiap hari, rasa-rasanya omelan itu hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Permainan yang umumnya dilakukan secara outdoor ini bisa dilakukan dua, tiga, empat, atau lima orang. Bebas. Tapi, biasanya, paling banyak lima orang dan paling sedikit dua orang. Cara bermainnya, masing-masing anak menyerahkan gambar. Gambar itu punya dua sisi. Sisi pertama ada gambarnya, sisi kedua kosong alias tak bergambar. Saat itu umumnya bergambar pahlawan-pahlawan yang ada di film-film. Bisa pahlawan nasional, bisa lokal. Di antaranya, Kaisar Ming, Flash Gordon, The A Team, Elang Perak, Mantili, Lasmini, Brama Kumbara, Joko Sembung, atau Si Buta dari Gua Hantu.

Setelah gambar diserahkan dan dikumpulkan, gambar-gambar itu lalu diterbangkan. Yang gambarnya tertelungkup atau tengkurap, dia dinyatakan kalah. Sebaliknya, jika gambarnya terlentang atau di atas, dia menang. Kalau ada beberapa yang foto gambarnya di atas, mereka lah yang diadu dan berhak masuk babak ’’final’’. Namun, kalau masih ada beberapa gambar terlentang, maka permainan terus dilakukan hingga benar-benar terpilih satu pemenang.

Si pemenang berhak mendapatkan kartu gambar sesuai dengan ’’taruhan’’ yang disepakati. Kalau taruhannya 20 gambar, maka pemenangnya dapat 20 gambar. Kalau ada lima ’’musuh’’ yang dikalahkan, berarti pemenang dapat 20 gambar kali 5 (100 gambar). Saya pernah punya koleksi gambar hingga satu bak dengan berbagai jenis gambar. Untuk memudahkan, gambar-gambar itu saya kareti. Satu karet rata-rata setinggi 8 cm.

Meski permainan ini melenakan, toh saya tidak kapok diomeli ibu. Walaupun saya lupa makan, lupa mandi, dan lupa segala-galanya, saya yakinkan ke ibu saya bahwa lupa-lupa yang tadi itu bisa dirapel. Lupa sarapan, nanti makannya bisa dirapel dengan makan siang. Namanya dirapel ya berarti dua porsi makan dijadikan satu alias makannya sebanyak dua piring. Hmmm..kalau sudah begitu, persis porsinya kuli bangunan hahaha…

Lalu, kalau lupa mandi, gimana cara merapelnya? Ya, dirapel saja dengan mandi sore. Mandi yang lama. Disabun yang bersih. Lalu dibilas. Setelah itu disabun lagi, lalu dibilas lagi. Kalaupun mandi sore juga lupa, dirapel saja mandinya pada keesokan harinya wkwkwk…Hmmm…bisa dibayangkan baunya? Seharian bermain, berlarian ke sana ke mari, berkeringat, terus tidak mandi.

Itu lah permainan gambar di masa kecil saya di era 80-an. Berbeda dengan permainan gambar di zaman anak saya di tahun 2015 ini. Anak-anak tidak perlu berpanas-panas ria, karena mainnya di dalam atau di halaman rumah. Tidak perlu berlarian ke sana ke mari hingga berkeringat, karena mainnya cukup dengan duduk.

Permainan diawali dengan jumlah gambar yang ’’dipertaruhkan’’. Tak perlu dihitung. Cukup disamakan ukuran ketinggiannya. Misalnya, lawan mengambil gambar setinggi 2 cm, maka lawan-lawan lainnya menyiapkan gambar setinggi 2 cm. Selanjutnya, gambar-gambar tadi disusun berdiri. Lalu, di antara mereka (pemilik nomor tertinggi setelah diundi) merobohkan gambar.

Bagaimana cara merobohkannya? Kesepuluh jari dirapatkan sejajar mirip kipas, lalu ditepukkan ke lantai sekuat-kuatnya hingga angin yang ditimbulkan bisa merobohkan gambar. Gambar yang roboh itu lah yang menjadi miliknya. Ada pun gambar sisanya, ditepuk lagi oleh kedua, ketiga, dan seterusnya hingga habis.

Di tengah permainan itu, saya iseng mendatangi mereka, lalu saya bilang ke mereka, ’’Saya dulu cara memainkannya dengan cara diterbangkan.’’
’’Ah, itu uda nggak zaman Om. Capek! Jawab mereka serempak tanpa dikomando, lalu kembali meneruskan permainannya dengan kartu-kartu bergambar seperti Boboi Boy, Hot Wheels, Disney Frozen, dan Marvel Heroes.

Duh, anak zaman sekarang! Saya jadi teringat kata-kata Pak Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, bahwa setiap generasi memiliki zamannya sendiri, dan setiap zaman memiliki generasinya sendiri. Jadi konsekuensinya, generasi baru tidak harus meniru habis generasi sebelumnya. Akan tetapi akan lebih baik jika generasi baru menemukan caranya sendiri. (*)

~ by ariyanto on 17 May 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: