Mengabadikan Bunga Keabadian

Foto: barli halim LUKISAN ALAM: Dua insan berpose di dekat rerimbunan Edelweis dengan latar Segara Anak dan Gunung Barujari yang menyembul di tengah danau, di Gunung Rinjani, Lombok.

Foto: barli halim
LUKISAN ALAM: Saya dan adik saya berpose di dekat rerimbunan Edelweis dengan latar Segara Anak dan Gunung Barujari yang menyembul di tengah danau, di Gunung Rinjani, Lombok.

Sepasang kekasih menghentikan langkahnya di bibir kaldera Gunung Rinjani, Lombok, tak lama setelah turun dari Puncak Anjani. Dua sejoli itu foto selfie di dekat bunga Edelweis dengan latar Danau Segara Anak ’’bermata’’ biru muda mirip batu Bacan Doko, selaras dengan warna biru langit.

Puas jeprat-jepret menggunakan tongsis alias tongkat narsis, si cewek meminta cowoknya memetikkan bunga eksotis itu untuk dirinya. Katanya itu lambang keabadian cinta. Sang cowok dengan senang hati mengabulkan permintaan belahan jiwanya.

“Edelweiss.. Edelweiss.. Every morning you greet me. Small and white, clean and bright. You look happy to meet me..” si cowok mengambil satu tangkai sembari melantunkan salah satu lirik lagu berjudul ’’Edelweiss’’ yang dinyanyikan dalam film musikal ternama Sound of Music. Si cewek pun terlihat bahagia, dengan senyum terus mengembang dari kelopak bibirnya yang merekah merona.

Edelweis memang lambang keabadian, kesucian, ketulusan, perjuangan, kegigihan, dan pengorbanan. Lambang keabadian karena bunga endemik khas daerah Alpina atau Montana ini bisa awet.

Lambang kesucian, karena tanaman dari family Asteraceae ini bunganya putih bersih, meski ada juga yang secara morfologi berwarna ungu dan kuning.

Lambang ketulusan, karena Anaphalis Javanica ini tumbuh di daerah khusus di atas 2.000 m di atas permukaan laut, sehingga seolah ikhlas menerima takdirnya tanpa menuntut kondisi yang menyenangkan.

Lambang perjuangan, kegigihan, dan survival, karena bunga yang juga disebut Edelweis Jawa (Javanese Edelweiss) ini tumbuh di tempat gersang, kering, berkerikil, dingin, dan miskin unsur hara. Ia mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah tandus, karena mampu membentuk mikroriza dengan jamur tanah tertentu. Sehingga, ia secara efektif dapat memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara.

Bunga Senduro ini juga tidak mati atau layu meski berada di suhu di bawah 0 derajat Celcius.

Dan, untuk bisa mencapai lokasi Edelweis, seseorang harus bersusah payah mendaki gunung melewati jalur dan tantangan berat.

Lambang pelopor kebaikan dan pengorbanan, karena secara ekologis, Edelweis memiliki peran sebagai pelopor dalam revegetasi dan suksesi. Menjadi tanaman pertama yang tumbuh dan menghasilkan unsur-unsur hara sebagai media tumbuh tanaman lain. Tanaman pertama yang mengawali kehidupan.

Selain tanaman perintis, ’’bunga cinta’’ ini juga menjadi ’’benteng pertahanan’’ yang mampu menahan hempasan air hujan dan laju permukaan, sehingga meminimalkan risiko erosi.

Tanaman langka yang biasanya memiliki tinggi tak lebih dari 1 meter ini juga rela berkoban bagi satwa lain, dengan membiarkan ratusan jenis serangga yang hidup di dalam bunga untuk sekadar menghisap nectar atau berlindung di dalam rimbunya dedaunan.

Wajar jika Edelweis dengan berbagai lambang yang disandangnya itu diburu, dan dijadikan media untuk mengekspresikan cinta kepada belahan hatinya. Dua insan saling mencintai ini seolah ingin mengatakan bahwa dirinya akan menjaga kesetiaan, ketulusan, komitmen, kepercayaan, dan siap mempertahankan cintanya meski harus menghadapi ujian terberat apapun. Juga akan senantiasa menjaga keabadian cintanya sepanjang hidupnya dan bahkan sampai hidup lagi yang kedua setelah kematiannya.

Namun, bagi orang yang menghargai Edelweis sebagai bunga keabadian, ia tidak akan memetik atau mencabutnya. Itu sama saja dengan menempatkan Edelweis dalam ketidakabadian. Di beberapa tempat, bunga ini bahkan sudah dinyatakan punah karena telah diperdagangkan dan dieksploitasi oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Edelweiss itu akan abadi kalau berada di ’’rumah’’-nya sendiri, di habitat aslinya, di ecosystem dan socialsystem-nya sendiri. Bercengkerama dengan teman-temannya di sana. Bersama gunung, tanah, matahari, air, embun, angin, awan, kabut, langit, dan juga satwa lain. Di sanalah ia menemukan keseimbangan diri. Memetik berarti membuat kehidupannya tidak seimbang, karena dikeluarkan dari habitatnya dan dipisahkan dari kawan-kawannya.

Edelweis memang bisa ditanam di tempat yang bukan habitat asli. Namun, ia akan mengalami gangguan pertumbuhan. Daun dan bunganya akan kurus merana, tak akan serimbun di dataran tinggi pegunungan yang tumbuhnya terkadang bisa mencapai 8 meter. Meskipun ia bisa beradaptasi, pertumbuhannya tidak akan normal.

Karena itu, jangan pernah memetik bunga keabadian jika kita ingin mengabadikannya. Kalau kekasih ingin Edelweis, berikan saja Edelweis plastik. Itu lebih awet, karena ia baru terurai dengan sempurna oleh tanah setelah ribuan tahun. Biarkan lah Edelweis berada di tempatnya. Karena ketika segala sesuatu tidak diletakkan pada tempatnya, ia akan mengalami kehancuran.

Kalau hubungan cinta kita ingin abadi, belajar lah kepada Edelweis yang telah memegang teguh prinsip keabadian, kesucian, kesetiaan, ketulusan, kepercayaan, komitmen, perjuangan, kegigihan, dan pengorbanan dengan tetap berada di tempat yang telah digariskan Tuhan.

Meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, menjalankan tugas dan fungsi masing-masing sesuai skenario yang telah diberikan Tuhan sebaik-baiknya, adalah cara mengabadikan bunga keabadian cinta, sampai tidak ada lagi yang abadi, kecuali Yang Abadi. (*)

~ by ariyanto on 16 May 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: