Anjing

Anjing adalah mamalia yang telah mengalami domestikasi dari serigala sejak 15.000 tahun lalu. Atau mungkin sudah sejak 100.000 tahun lalu. Ini berdasarkan bukti genetik berupa penemuan fosil dan tes DNA. Penelitian lain mengungkap sejarah domestikasi anjing yang belum begitu lama.

Di Wikipedia.org disebutkan bahwa anjing telah berkembang menjadi ratusan ras dengan berbagai macam variasi. Mulai anjing tinggi badan beberapa puluh sentimeter seperti Chihuahua hingga Irish Wolfhound yang tingginya lebih dari satu meter. Warna rambut anjing bisa beraneka ragam. Mulai putih, merah, abu-abu, cokelat, hingga hitam.

Selain itu, anjing memiliki berbagai jenis rambut, mulai sangat pendek hingga panjangnya bisa mencapai beberapa sentimeter. Rambut anjing bisa lurus atau keriting, dan bertekstur kasar hingga lembut seperti benang wol.

Anjing termasuk binatang pertama yang dipelihara sejak 10.000 tahun lalu. Sebagai binatang peliharaan, anjing memiliki keistimewaan tersendiri bagi setiap pemiliknya. Bahkan, bukan hanya sebagai hewan kesayangan, melainkan juga sahabat setia. Mengajaknya berlari, berwisata, berpelukan, dan bahkan mengajaknya tidur bersama dan menciumnya. Ini karena sifatnya memang setia dan bersahabat.

Namun bagi keyakinan sebagian orang (yang tidak meyakini juga tidak apa-apa), anjing adalah binatang najis berat (mugholladzoh). Jika terkena liurnya harus dibersihkan dengan air sebanyak tujuh kali dan permulaan atau akhirnya dengan air bercampur tanah (disamak). (HR At-Tumudzy).

Itu sebabnya, siapa memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga hewan ternak, berburu, dan menjaga tanaman, maka akan dikurangi pahalanya setia hari sebanyak satu qirath. (HR. Muslim)

Terlepas dari persoalan keyakinan, anjing termasuk salah satu binatang unik dan menakjubkan sebagai tanda kekuasaan Allah. Selain itu, ia juga istimewa. Ya, istimewa karena namanya diabadikan di dalam kitab suci Alquran, selain binatang lainnya seperti Unta, Lalat, Burung Gagak, Kuda, Rayap, Burung Hudhud, Lebah, dan Semut.

Di dalam kitab suci yang diturunkan kepada nabi Muhammad itu memang beberapa kali menyebutkan nama binatang, baik untuk menceritakan kisahnya maupun sebagai perumpamaan supaya manusia mengambil pelajaran.

Hal itu seperti terdapat di dalam Alquran Surat Al A’raaf: 176 yang berbunyi:

’’Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan ayat-ayat itu. Tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing (kamatsalil kalbi). Jika kamu menghalaunya lidahnya diulurkan dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga (in tahmil alaihi yalhats au tatrukhu yalhats)…’’

Ada yang menarik dari ciptaan Allah bernama anjing ini, yaitu soal anjing yang selalu menjulurkan lidah. Ilmu pengetahuan modern telah berhasil membuktikan bahwa anjing tidak memiliki kelenjar keringat, kecuali dalam jumlah sedikit di telapak kakinya.

Fungsi kelenjar keringat bagi makhluk hidup adalah untuk mengatur, menurunkan dan menjaga kestabilan suhu tubuhnya. Bagi anjing jumlah kelenjar keringat untuk mengatur suhu tubuhnya tidak mencukupi, karena sangat sedikit.

Kekurangan jumlah kelenjar keringat inilah yang membuat anjing selalu berusaha menjulurkan lidahnya untuk menurunkan temperatur tubuhnya. Karena pada saat itu lidah dan rongga mulut dapat melakukan kontak langsung dengan udara, sehingga air menguap dari rongga mulut dan pharynx (tenggorokan)-nya, maka dari lidahnya tersebut akan keluar air liur.

Selain sebagai perumpamaan, di dalam Alquran juga terdapat kisah anjing Ashabul Kahfi yang masuk surga bersama beberapa pemuda Ashabul Kahfi. Mereka hidup di negeri kafir yang dipimpin Raja Dikyanus (Decius). Ia dikenal zalim dan suka menyombongkan diri.

Anjing dan pemuda Kahfi itu pun bertekad hijrah untuk mempertahankan agama. Ini dilakukan setelah mereka mendakwahi kaumnya lalu mendapatkan penolakan, tekanan, dan intimidasi. Kisah anjing (ada yang menyebut namanya Raqim, sebagian lagi Kithmir) dan pemuda Ashabul Kahfi yang tertidur selama 309 tahun di gua itu bisa dibaca di QS Al Kahfi ayat 9-26).

Dari kisah ini jelas bahwa jangan meremehkan dan memandang sebelah mata anjing, karena anjing juga bisa masuk surga karena kesetiaannya bersama pemuda Kahfi.

Karena itu, jangan mengolok-olok atau memaki seseorang yang kita benci atau bikin kita emosi dengan perkataan: ’’Dasar a****g Lu!’’. Sebab, ia tidak ikut berdosa dan tidak tahu apa-apa. Janganlah menimpakan kesalahan kepada anjing yang tidak ikut berbuat kesalahan. Itu namanya melanggar ’’hak asasi binatang’’. Itu juga namanya tidak ’’berperikebinatangan’’.

Siapa tahu, anjing-anjing itu bisa memberikan kepada kita tiket untuk masuk surga, seperti kisah seorang pelacur yang diampuni dosanya karena telah memberikan minum kepada anjing yang hampir mati kehausan.

Seorang ahli ibadah tidak serta-merta mendapat jaminan akan masuk surga, karena surga lebih diutamakan bagi mereka yang mencintai Allah dengan sesungguh-sungguhnya kecintaan dan mengharapkan keridaan Allah semata. (*)

~ by ariyanto on 22 March 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: