Simbol

Akhirnya kesampaian juga mengantarkan teman saya Herman ke tukang asah batu akik andal. Sejak batu alam itu booming beberapa bulan lalu, ia memang ingin pesan batu akik khusus berbentuk simbol hati alias love untuk kekasihnya. Kebetulan, teman sekantor saya bernama Kaji Patah seorang pecinta batu akik, pemburu batu akik, perajin batu akik, sekaligus penjual batu akik.

’’Bisa nggak Pak Kaji dibikinkan akik berbentuk hati separo. Jadi kalau dua batu akik itu digabungin akan berbentuk simbol hati?’’ tanya Herman sembari menyodorkan bongkahan batu Kecubung (Amethyst) berwarna merah muda sebesar kepalan tangan bayi.

’’Oh, bisa. Pasti buat pacarnya ya? Kecubung emang bagus banget untuk sarana menarik cinta atau pengasihan. Juga dipercaya dalam hal pesona, percaya diri, cinta, wibawa, dan sensualitas. Mitosnya sih gitu,’’ Kaji Patah tersenyum.

’’Loh, Pak Kaji nggak percaya khasiat Kecubung ya?’’ Herman mencoba menebak pikiran Kaji Patah.

’’Ane nggak percaya. Ane cinta akik karena estetika dan bisnis aja. Ane juga nggak suka simbol-simbol, karena lebih suka substansi. Ya ini kalau ane, kalau ente percaya ya silakan aja. Orang kan beda-beda,’’ jawab Kaji Patah.

Sambil mulai mengasah batu alam, Kaji Patah terus berceloteh tentang mengapa ia tak suka simbol-simbol. Menurut dia, banyak manusia terjebak kepada simbol-simbol sampai lupa substansi. Simbol-simbol itu juga banyak menipu manusia. Simbol seringkali tak sesuai dengan apa yang disimbolkan.

Kaji Patah lalu memberikan contoh-contoh simbol. Ada orang yang suka mencitrakan dirinya sebagai kiai, ustad, atau apalah dengan pakai peci, sorban, atau gamis. Masyarakat kemudian memanggilnya kiai atau ustad. Eh, nggak tahunya dia penipu misalnya. Ada juga yang dijebloskan KPK ke penjara. Padahal substansi orang beragama itu tidak menipu dan korupsi.

Ada juga orang yang dimabuk asmara ngungkapin perasaan cintanya dengan ngasih bunga, cokelat, dan juga batu akik hati qiqiqiqiqi…Bahkan, akibat terlanjur cinta (atlanta) dan akibat terlanjur sayang (atlas), seseorang sampai rela menyerahkan hal paling ’’berharga’’ dari dirinya.

Ada juga yang sengaja melangsungkan pernikahannya di tempat-tempat suci dengan harapan bisa kekal abadi cintanya, meski kemudian putus dan bercerai juga haha…. Padahal substansi orang menikah itu menjaga janji setia teramat dalamnya untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

Ada pula calon kepala daerah, calon presiden, dan calon anggota legislatif ketika kampanye make simbol-simbol tertentu untuk mencitrakan dirinya sederhana, merakyat, bersih, berani, tegas, dan peduli. Orang lalu terpukau dengan simbol-simbol itu pun memilihnya tanpa memverifikasi kebenaran simbol itu. Dan, setelah terpilih, ternyata banyak kebijakan dan programnya tidak pro rakyat kecil. Bahkan, banyak pula yang dijebloskan KPK ke penjara. Padahal substansi seorang pemimpin sederhana, merakyat, bersih, berani, tegas, dan peduli itu dilihat dari kebijakan, program-programnya, dan tidak menggarong uang rakyat.

’’Kalau Pak Kaji nggak suka simbol kenapa Pak Kaji salat, puasa, dan haji? Itu semua kan simbol juga? Simbol kebaikan seperti nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, juga simbol ketaatan kepada Tuhan?’’ tanya Herman serius.

’’Oh bukan. Itu bukan simbol. Itu syariat Allah yang harus dijalankan,’’ jawab Pak Kaji, juga tak kalah serius.

Herman tak mau menanggapi keyakinan Pak Kaji. Ia manggut-manggut saja. Apa pun itu adalah keyakinan seseorang yang harus dihargai.

Sejurus kemudian, sembari mengamati Kaji Patah mengasah batu akik, giliran Herman yang terus berceloteh. Presiden Jokowi sekarang juga mulai meninggalkan hal bersifat simbolis ya. Untuk menghindari simbolis, pada Selasa, 18 Maret 2015, Jokowi membawa 1.300 traktor ke Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Semua traktor itu dijanjikan akan diberikan kepada para petani. Tapi, 1.300 traktor itu bukan untuk satu desa, melainkan untuk 5 kabupaten di seluruh Jawa Timur. Traktor itu disebar-sebar.

Kata Pak Jokowi, ’’Kita gak mau simbolis. (hanya bawa ) Tiga atau lima traktor. Terus yang lain (1.297 traktor) ke mana?’’

Herman mengapresiasi langkah Jokowi ini, karena biasanya pejabat negara lebih suka simbolis seremonial. Namun, simbolis ini terkadang tidak transparan mengenai jumlah traktor yang benar-benar telah dibagikan. Dengan cara ini kan masyarakat jadi tahu bahwa traktor itu benar-benar berjumlah 1.300 buah.

Dalam kunjungannya ke berbagai daerah, Jokowi memang kerap memberikan bantuan traktor kepada kelompok-kelompok tani untuk produktivitas lahan mereka. Jokowi menginginkan agar pemberian bantuan tidak hanya di atas kertas, tapi harus didatangkan fisik traktornya.

Kaji Patah berhenti mengasah batu akik. Ia seolah ingin mendebat semua pernyataan Herman.

’’Ente tahu nggak, gara-gara itu petani kecewa. Kalau yang dibagikan cuma 207 unit, lalu sisanya diangkut kembali ke truk, itu kan mengecewakan,’’ kata Kaji Patah.

Ia lalu bercerita soal Tukul Arwana di acara ”(Bukan) Empat Mata” di sebuah stasiun televisi swasta. Kalau Ngatini (Vega) minta Tukul ngasih duit ke audiens berwajah ’’ndeso miskin’’, Tukul buru-buru ngeluarin beberapa lembar kertas Rp 100 ribu dan menghitung jumlahnya di hadapan penerima. Melihat bahasa tubuh si Tukul, si penerima berasumsi bahwa beberapa lembar uang kertas warna merah itu bakal dikasihkan semua. Eh, ternyata cuma yang lembar Rp 20 ribu misalnya. Tapi tentu saja tidak ada yang marah, karena Tukul memang pelawak. Guyonannya tidak akan dimasukin hati.

’’Nah, apa yang dilakukan presiden di Ponorogo itu mirip Tukul ini. Ribuan traktor di sepanjang jalan dipajang, sembari Presiden berjanji akan memberikan traktor gratis ke petani, tentu asumsinya akan diberikan semua. Ternyata tidak. Sebagian besar diangkut kembali. Wajar jika banyak petani keliru mengartikan seolah-olah traktor-traktor itu ditarik kembali,’’ Kaji Patah berceloteh panjang lebar.

Namun Kaji Patah ingin masalah ini tidak dibesar-besarkan. Niat Presiden sungguh baik untuk menunjukkan transparansi bantuan dan tidak terjebak kepada bantuan simbolis. Niat baiknya membantu para petani itu yang harus didukung. Toh rencananya traktor-traktor yang dibeli menggunakan dana APBN itu akan diubah sistem pembagiannya.

’’Betul Pak Kaji. Jangan sampai alih-alih ingin menghindari tindakan simbolis tapi justru terjebak kepada bentuk simbolis yang lain. Mending tetap simbolis dikasih 1 traktor tapi tetap dikawal pendistribusian traktor lainnya secara transparan,’’ Herman memberikan solusinya.

’’Tapi ane tetep nggak suka simbolis. Nggak penting. Yang penting itu substansinya. Jangan mempengaruhi ane,’’ tandas Kaji Patah.

’’Ji (Pak Kaji), temenku itu bukan bermaksud mempengaruhi, ia cuman ingin bilang simbol itu penting, tapi substansi juga jauh lebih penting. Simbol itu akan selalu mengingatkan kepada kita tentang pesan simbolik. Juga supaya kita berusaha mendekatkan yang simbolik kepada substansi. Kalau ente nggak suka simbol, ente trabas aja traffic light, ente bisa celaka. Atau belok nggak nyalain sign, ente juga bisa celaka. Itu semua kan simbol Ji. Kita dari tadi ngobrol itu juga pakai simbol bahasa, yang tiap-tiap daerah atau negara punya simbol bahasa berbeda-beda. Orang menyebut batu alam aja dengan istilah berbeda-beda pula. Bener nggak Ji?’’ tanyaku.

’’Bener juga ente. Ya udah ane juga mau bikin cincin hati kayak temen ente itu, biar bini-bini ane makin demen ama ane. Uppss. Bini ane maksudnya, bukan bini-bini ane,’’ Kaji Patah tertawa. (*)

~ by ariyanto on 19 March 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: