Sandiwara

Erwin, Irwan, dan aku masih saja mendiskusikan Teater Gandrik yang 20 Februari 2015 lalu pentas di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Kami ngobrol santai sembari menikmati makan malam di sebuah kedai di halaman TIM. Bukan soal lakon ’’Tangis’’ yang baru dipertontonkan. Bukan pula soal akting pemain. Tapi soal sandiwara, lakon, atau pertunjukan drama itu sendiri dan ekspresi penonton.

’’Win (Erwin), kamu kok kayaknya nggak menjiwai banget sih nonton teaternya? Orang pada ketawa kamu biasa aja. Orang pada sedih kamu juga biasa aja. Orang pada tegang kamu juga biasa aja. Nggak ekspresif,’’ kata Irwan sembari menyeruput kopi yang baru saja dihidangkan di atas meja.

’’Wan, namanya sandiwara, lakon, pertunjukan drama, teater, atau apa pun namanya, hanya lah akting. Pura-pura. Nggak beneran,’’ jawab Erwin sambil menggosok-gosokkan batu akik Bacan Doko Pancawarna yang melingkar di jari manis tangan kanannya di celana jeans.

’’Pura-pura gembira, pura-pura sedih, pura-pura nangis, pura-pura tertawa, pura-pura peduli, pura-pura merakyat, pura-pura bersih, pura-pura sederhana, dan pura-pura lainnya. Ya, namanya juga sandiwara, ya bohongan. Mereka (para pemain) hanya menjalankan peran yang diberikan kepadanya,’’ Erwin melanjutkan tanpa melihat wajah Irwan.

’’Oke, aku tahu itu. Semua orang juga tahu itu. Oke lah itu bohong-bohongan. Cuma akting. Tapi sandiwara itu kan sarat kritik sosial, refleksi realitas sosial,’’ Irwan kembali menyeruput secangkir kopi pahitnya itu.

’’Lakon Tangis ini, misalnya. Kisah ini memang berlatar belakang perusahaan batik dan konflik keluarga. Tapi sesungguhnya ia menjadi alegori situasi lebih besar. Soal syahwat untuk memperoleh kekuasaan, ambisius sekaligus kerapuhan, intrik dan persaingan, juga kepercayaan dan pengkhianatan,’’ mata Irwan tertuju pada Bacan yang digosok-gosokkan ke celana jeans.

’’Seorang yang kalah bisa kalap, dan tak lagi memedulikan harga diri dan kehormatannya. Orang rela melakukan apa pun agar bisa selamat. Termasuk menangis.’’

’’Ah, tetap aja sandiwara. Bohong-bohongan,’’ Erwin menjawab singkat dan masih asyik dengan akik yang baru diperolehnya dari Kecamatan Doko, Pulau Halmahera, Maluku Utara, itu.

’’Kayak kejadian politik. Hanya dipertunjukkan untuk mengelabui mata. Tidak sungguh-sungguh. Pura-pura peduli. Pura-pura membela rakyat. Halah, padahal hanya membela perutnya sendiri.’’

’’Kamu nggak boleh menghakimi. Kamu tahu dari mana kalau politisi itu pura-pura?’’ tanya Irwan dengan nada meninggi.

Erwin melepaskan akik dari jari manisnya. Sembari menggosok-gosokkan ke celananya, dia menceritakan tentang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang marah kepada Wali Kota Jakarta Barat Anas Effendi dalam rapat mediasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis (5 Maret 2015).

“Pas Ahok telepon Anas (Walikota Jakbar), Ahok bilang Pak Anas enggak usah stres, karena dirinya cuma akting pas marahin Anas. Gitu kan kata Ahok pas ngasih keterangan ke media di Balai Kota, Jakarta, pada keesokan harinya,’’ terang Erwin.

Dalam rapat mediasi itu, Ahok memang bertanya kepada Anas soal pengadaan unit Uninterruptible Power Supply (UPS) di Jakarta Barat. Pasalnya, Ahok menemukan ada kecurangan terkait pengadaan UPS.

Pada saat itu anggota DPRD marah-marah dan panik. Ahok menyatakan kemarahannya hanya untuk memancing emosi anggota Dewan. Pasalnya, Ahok menyebut Anas sudah memberitahu tidak pernah mengajukan anggaran untuk pengadaan UPS. Maksud Ahok, begitu Anas ngomong enggak pernah dibahas, DPRD langsung kena skak.

Sembari terus menggosok-gosokkan batu akiknya, Erwin menyanyikan lagu ’’Panggung Sandiwara’’ karya Nicky Astria.

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura
Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara

’’Uda Win nyanyinya, bikin gatel kuping. Ngasah akik aja deh kamu,’’ Irwan mencandai Erwin.

’’Iya deh setuju. Dunia ini memang panggung sandiwara. Tapi penulis skenario dan sutradaranya Tuhan. Kita-kita ini lah pemainnya. Terserah mau memerankan apa. Mau memerankan jadi kolektor dan pengasah akik juga silakan haha… Bebas. Berakting lah sebaik-baiknya. Sesuai peran yang ingin kita mainkan. Kelak, Tuhan meminta pertanggungjawaban akting kita,’’ Irwan menambahkan.

Di tengah ceramahnya itu, Irwan tiba-tiba ’’menyemprot’’ aku:

’’Hei! Dari tadi kamu bengoooong aja. Ngomong kek! Ikut nimbrung kek!’’ Irwan menepuk pundakku cukup keras.

’’Aku tuh bingung ngeliat kalian seriuuuus banget ngebahas sandiwara. Nggak biasa-biasanya gitu loh. Kalian ini memang serius atau bersandiwara?’’ kataku. (*)

~ by ariyanto on 11 March 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: