Banjir Menuntut Keadilan

Menjadi narasumber tentang banjir di BeritaSatu TV, 14 Februari 2015.

Menjadi narasumber tentang banjir di BeritaSatu TV, 14 Februari 2015.

Ternyata, bukan hanya manusia yang menuntut keadilan. Banjir pun ingin diperlakukan adil. Ingin hak-haknya dipenuhi. Ingin dikembalikan lagi ke fitrahnya. Apa sih adil itu?

Kata adil berasal dari bahasa Arab (’adilun) yang berarti seimbang. Secara istilah adil berarti wadh’u syai’ fi mahallihi. Menempatkan sesuatu pada tempatnya atau aturannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata adil juga punya pengertian sama, yaitu tidak berat sebelah; tidak memihak; berpegang pada kebenaran; dan sepatutnya.
Jadi, intinya, adil itu menempatkan sesuatu sesuai tempatnya, menempatkan sesuatu sesuai aturannya, dan menempatkan sesuatu dengan sepatutnya.

Sepatu itu letaknya di kaki, bukan di jidat. Itu adil. Kalau sepatu ada di jidat, itu zalim namanya.
Peci itu letaknya di kepala, bukan di tumit. Itu adil. Kalau peci ada di tumit, itu zalim namanya.
Sampah itu letaknya di tong sampah, bukan di meja makan. Itu adil. Kalau sampah ada di meja makan, itu zalim namanya. Maka, ada seruan berbunyi: ’’Buang lah sampah pada tempatnya.’’

Orang mengantuk atau kelelahan itu harus tidur atau beristirahat, bukan bekerja. Itu adil. Kalau mengantuk atau lelah tapi masih dipaksa bekerja, itu zalim namanya. Kalau dipaksa, kita bisa jatuh sakit. Apalagi kalau dipaksa menyetir, bisa-bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Zalim itu lawan kata dari adil. Tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang zalim tidak hanya mencelakan diri sendiri dan orang lain, tapi juga bisa dianggap sinting. Tidak percaya?

Coba saja taruh sepatu di jidat atau pasang peci di kaki, terus mengelilingi bundaran Hotel Indonesia, orang-orang yang kebetulan melintas di sana akan bilang, ’’Awas, jangan dekat-dekat, ada orang sinting.’’
Segala sesuatu ada tempatnya sendiri, karena itu letakkan lah sesuatu itu sesuai tempatnya, sesuai aturannya, atau sepatutnya. Ketika sesuatu itu tidak diletakkan sebagaimana mestinya, maka terjadi lah ketidakseimbangan. Ketika berada pada posisi tidak seimbang, maka terjadi lah kecelakaan, kehancuran, kerusakan, malapetaka, dan bencana lainnya.

Ketika hutan-hutan digunduli, misalnya, maka terjadi lah banjir dan tanah longsor. Ketika daerah resapan air dibangun perumahan, mal atau bangunan di atasnya, maka terjadi lah banjir. Ketika daerah itu lebih rendah dibandingkan daerah lainnya, maka terjadi lah banjir di tempat rendah itu. Dan, ketika sampah dibuang di sungai hingga dada sungai terasa sesak, maka terjadi lah banjir. Mengapa?

Tidak pada tempatnya hutan itu digunduli, karena penggundulan itu adanya di kepala. Rambut digundul sampai botak juga tidak apa-apa, karena perempuan penyuka kepala botak lagi ngetren. Bahkan, ada komunitasnya. Namanya ’’Ikatan Perempuan Pecinta Kepala Botak”. Disingkat ”Keren Kepo”.

Tidak pada tempatnya bangunan berdiri di atas daerah resapan air, karena daerah resapan air itu ’’rumahnya’’ air. Ketika air ’’rindu rumah’’, ia akan ’’pulang’’, seperti rindunya para perantau yang ingin mudik ke kampung halamannya.

Sudah menjadi fitrah air ’’pulang’’ ke ’’rumahnya’’. Sudah menjadi sunnatullah atau ketentuan Allah bahwa air itu menuruni tempat lebih rendah, menyesuaikan diri dengan sekelilingnya, dan memasuki celah-celah kecil. Tidak ada perubahan pada sunnatullah itu.

Karena itu, sebenarnya tidak ada istilah ’’banjir kiriman’’ itu, yang ada hanya lah kiriman paket, kiriman uang, kiriman surat, atau kiriman ucapan sayang. Semua itu jelas siapa pengirimnya. Kalau ’’banjir kiriman’’, siapa pengirimnya? Itu sudah menjadi sifat air untuk mencari tempat lebih rendah. Air laut pasang (rob) pun demikian, pasti ia akan mencari tempat lebih rendah.

Tidak pada tempatnya pula sampah dibuang ke sungai, karena sampah tempatnya di tong sampah. Jadi, jangan komplain ketika air sungai meluap ke jalan-jalan karena sungai tidak bisa bernafas akibat sampah. Komplain lah pada diri sendiri, karena telah berbuat zalim pada sungai, telah berbuat aniaya pada alam.

Nah, semua ketidakadilan atau kezaliman itu lah yang mengakibatkan kehancuran dan bencana. Wajar terjadi banjir dan longsor, karena itu lah cara air dan tanah menyeimbangkan dirinya. Ia sedang menstabilkan dirinya. Dan, si banjir itu seolah menceramahi kita dengan menyitir QS Ar-Ruum: 41:

’’Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).’’

Meski banjir itu cara ia menyeimbangkan dirinya, bukan berarti ia senang. Ia sangat sedih dan turut merasakan pedihnya korban banjir. Ia tidak tega menyaksikan orang-orang yang rumahnya terendam banjir. Hatinya perih ketika melihat mereka terserang penyakit akibat banjir. Dan, ia pun tak rela kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat banjir.

Karena itu, banjir pun menuntut keadilan. Ia ingin dikembalikan ke ’’rumahnya’’ sendiri, tempat seharusnya, tempat sepatutnya. Kembali ke ’’fitrah’’-nya. (*)

~ by ariyanto on 15 February 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: