Tedjoisme

Obrolan di sebuah angkringan di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, siang itu benar-benar ’’Tedjo’’ (nggak jelas). Apa saja jadi bahan perbincangan. Apa saja jadi bahan pembicaraan. Tapi, ujung-ujungnya tetap ’’Tedjo’’. Nggak jelas.

’’No (Parno), kamu pernah nonton Sitkom ’’Tetangga Masa Gitu’’ yang ditayangkan Net TV ndak?’’ tanya Paijo sambil tangannya meraih sate usus di depannya.

’’Yo ndak pernah, wong aku ndak punya tv berlangganan. Ada apa se?’’ jawab Parno sambil mengunyah sate jeroan.

’’Lucu sinetronnya. Cerita tentang 2 pasangan suami istri bertetangga. Seringkali timbul kesalahpahaman yang sifatnya kekanak-kanakan. Kayak Menteri Tedjo itu haha…,’’ Paijo ngakak.

’’Iyo e. Kalau Net TV bikin Sitkom Tetangga Masa Gitu, nanti harus ada sinetron berjudul Menteri Masa Gitu,’’ Parno terkekeh geli sambil menuangkan segelas kopi pahit panas ke piring kecil.

’’Terlalu se, masak rakyat pendukung KPK dibilang rakyat nggak jelas. Nasib kita memang nggak jelas, tapi prinsip kita jelas,’’ tukas Karyo lalu tertawa, diikuti Paijo dan Parno. Keras sekali tertawanya. Sambil memukul-mukul gerobak.

Tak lama kemudian Mimik Paijo mendadak serius. Kedua kawannya terdiam.

’’Ada apa Jo?’’ tanya Parno dan Karyo bersamaan.

’’Gimana kalau kata ’Tedjo’ itu kita usulkan ke Pusat Bahasa agar dimasukkan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)?’’ ujar Paijo.
’’Maksudnya apa sih Jo. Ndak mudeng (ngerti) aku,’’ tanya Parno sambil garuk-garuk pipi.

Paijo lalu menjelaskan. Gini lo. Gara-gara ucapan Menteri Tedjo itu, sekarang kata Tedjo jadi trending topic. Bahasa mudahnya jadi bahan omongan.

Kalau ada orang yang ngomongnya nggak jelas, kawan lainnya menyahut gini: ’’Tolong dong bilang setedjo-tedjo-nya’’ (maksudnya ngomong sejelas-jelasnya). Terus orang yang disindir tadi balas gini: ’’Ratedjo rapopo (nggak jelas tidak apa-apa)’’.

Ada juga cewek yang sudah dipacari lama tapi nggak segera dinikahi. Lalu, cewek itu bilang gini: ’’Tedjo Lu, ah. Lo gue end!’’

Ada pula seorang pimpinan di sebuah perusahaan swasta yang menyemangati anak buahnya agar tidak terpengaruh hiruk pikuk politik. Ia memotivasi gini: ’’Tetep semangat meski Tedjo kabeh (para pejabat negara tidak jelas semua).

Ada juga seorang pembantu yang dimarahi majikannya gara-gara kerja nggak becus lantas bilang gini: ’’Jangan men-Tedjo diriku. Pembantu juga manusia. Majikan masak gitu.’’

Kata ’’Tedjo’’ benar-benar sudah menjadi bahasa keseharian. Kata ini punya beberapa arti sekaligus: ’’nggak jelas’’, ’’menghina’’, dan ’’kekanak-kanakan’’. Makna teks mengikuti konteks.

Setelah mendapat penjelasan panjang lebar dari Paijo soal kata ’’Tedjo’’, Parno dan Karyo menjawab serempak,’’Kalau begitu, kita sih setedjo.’’
Selagi Parno dan Karyo yang bekerja sebagai kuli bangunan itu makan nasi Kucing, Paijo yang menjadi mandornya itu ’’ngomel’’ sendiri:

Kebijakan Gubernur DKI Jakarta ini juga men-Tedjo. Masak untuk mengurangi macet malah motor yang dilarang melintas di Thamrin-Medan Merdeka. Besar mana motor sama mobil? Terus motornya disuruh markir di Monas. Lah sehari berapa harus keluar duit? Dikali sebulan? Tekor dong. Tedjo tenan.

Sekarang ada rencana pembatasan mobil tua, dengan mengenakan pajak lebih mahal. Alasannya niru Singapura dan supaya orang beralih ke transportasi publik. Lah, banyak mana mobil baru yang keluar dan mobil tua? Yang penting kan meski tua tapi tetap dirawat dan laik jalan. Terus kalau dilarang, mobil tuaku mau dikemanakan? Mau dipakai di mana? Kalau mau dijual, dijual di mana? Transportasi publik masih amburadul saja niru Singapura? Tedjo tenan.

’’Jo (Paijo), kalau urusan Komjen BG (Kapolri yang ditunda pelantikannya) apa benar men-Tedjo? BW (Wakil Ketua KPK) jadi tersangka, ia langsung mengundurkan diri. Nah BG ini kan juga jadi tersangka, malah lebih dulu, kok ndak mundur-mundur se?’’ tanya Parno.

’’Presidennya juga men-Tedjo kok No (Parno). KPK sudah minta BG jangan diajukan jadi calon Kapolri karena terindikasi rekening gendut, eh tetep diusung jadi calon tunggal kapolri. Bahkan setelah ditetapkan jadi tersangka, tetep diajukan juga. DPR-nya juga Tedjo. Masak tersangka diloloskan? DPR Masak Gitu? Eh ladalah, presidennya malah ngangkat Plt Kapolri. Wong Kapolri-nya saja belum ada kok nunjuk Plt. Tedjo tenan,’’ Karyo menimpali.
’’Yo ngunu kuwi Tedjoisme. Rakyat mintanya apa, presiden menjawabnya apa. Rakyat minta pelantikan BG dibatalkan dan ganti calon baru, malah dijawab dengan membentuk Tim 7. Coba kalau dari awal BG tidak diajukan mungkin tidak serunyam ini. Sampai ada KPK versus Polri. Kata para pengamat sih karena BG itu titipan Mega (Ketum PDIP), jadi dibela-belain’’ jelas Paijo.

’’Belum tentu Jo. Bisa jadi itu skenario presiden sendiri,’’ jawab Parno.
’’Ojok ngawur kowe No,’’ sahut Karyo.

’’Ngene lo. Akhir-akhir ini banyak pengamat bilang BG ini titipan Mega. Terus aku ikuti berita-berita juga mengarahkan Mega dalang ini semua dan seolah rakyat diajak membencinya. Lah, belakangan bermunculan berita dan survey bahwa Jokowi layak jadi Ketum PDIP menggantikan Mega. Ini sudah ndak Tedjo lagi bahwa Jokowi ngincar Ketum PDIP,’’ terang Parno.

’’Ngawur kowe No. Jokowi kan sudah jadi presiden,’’ kata Karyo lagi.
’’Lo dulu saja masih jadi walikota Solo ngincer Gubernur DKI. Terus pas sudah jadi gubernur, ngincer jadi presiden. Bisa saja kan sekarang ngincer Ketum PDIP?’’ Parno memberikan analogi.

Karyo tidak terima. Paijo mendebat. Ribut sekali siang itu.
’’Heh Mas!’’ teriak si pemilik angkringan sambil memukulkan gayung ke gerobak keras sekali hingga membuat ketiganya kaget dan diam seribu bahasa.

’’Dari tadi njelek-njelekno Tedjo terus. Aku dieeeem saja. Tak sabar-sabarno aku. Tapi sampean ini masih saja menjelek-jelekkan. Aku ndak terima,’’ si penjual itu emosi stadium 4.

’’Loh, kok sampean sing marah?’’ Paijo penasaran.

’’Yo jelas marah. Masak aku dijelek-jelekkan terus. Aku dikasih nama Tedjo sama bapakku itu ndak sembarangan. Ngerti! Nyingkrih (pergi)!”

’’Ada apa ini kok pada ribut?’’ tanya Ustad yang baru saja tiba di angkringan.
Setelah dijelaskan duduk perkaranya, si ustad ceramah.

’’Manusia tempat khilaf dan lupa. Mungkin beliau khilaf. Mungkin maksudnya baik, supaya nggak terjadi gesekan dan menciptakan situasi kondusif. Bisa pula yang dimaksud rakyat nggak jelas itu rakyat yang mana? Ada rakyat yang membela Polri, ada rakyat yang membela KPK, ada rakyat yang membela keduanya, ada rakyat yang membela pemberantasan korupsinya dan sebagainya. Rakyat itu banyak.’’

’’Soal kosakata Tedjo itu jangan diteruskan lah. Jangan ada lagi Tedjoisme, Tedjoisasi, men-Tedjo, setedjo-tedjonya, ratedjo rapopo, Tedjo Lu, ah dan sebagainya. Apalagi diusulkan jadi kosakata baru di kamus. Juga jangan membully Jonru yang diasosiasikan dengan tukang fitnah saat ramai-ramainya pilpres. Jangan ada istilah Jonruisme, Jonruisasi, menjonru, dan sebagainya. Apalagi diusulkan jadi kosakata baru di kamus.”

’’Lagi pula kasihan Tedjo-Tedjo dan Jonru-Jonru lainnya yang tidak terlibat. Nama Tedjo kan banyak. Nama Jonru mungkin juga banyak. Jangan lah kamu menimpakan kesalahan kepada mereka yang tidak tersangkut dengan peristiwa itu. Sudah, mulai sekarang tidak ada lagi Tedjo-Tedjoan dan Jonru-Jonruan.’’

Setelah mendengarkan ceramah ustad, Paijo, Parno, Karyo, dan Tedjo si pemilik angkringan saling bermaafan dan berpelukan. (*)

~ by ariyanto on 28 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: