Qisas, Konstitusi, dan Peradaban

Qisas dalam hukum Islam berarti pembalasan atau memberi hukuman setimpal. Mirip istilah ’’utang nyawa dibayar nyawa’’. Pada kasus pembunuhan, qisas memberikan hak kepada keluarga korban untuk meminta hukuman mati kepada pembunuh atau memaafkan.
Qisas disyariatkan dalam Alquran, hadis, dan ijma’ (kesepakatan ulama).

’’Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atasmu qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita…(QS Al Baqarah: 178).

Sebagaimana diinformasikan di Alquran, kitab Taurat (kitab suci umat Yahudi) dan Injil (kitab suci umat Kristen) yang mendahului Alquran juga diperintahkan melaksanakan hukum qisas.

’’Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisasnya.’’ (QS al- Maidah: 45)

’’Dan hendak lah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. (QS Al Maidah: 47).

Sedangkan dalam hadis riwayat Abu Hurairah disebutkan, ’’Barangsiapa menjadi keluarga korban terbunuh, maka ia ada dua pilihan, bisa memilih diyat (denda) dan bisa juga dibunuh (qisas).’’ (HR. al-Jama’ah).

Sedangkan dalam riwayat at-Tirmidzi dinyatakan, ’’Barangsiapa menjadi keluarga korban terbunuh, maka ia ada dua pilihan, bisa memilih memaafkannya dan bisa membunuhnya.’’

Ayat dan hadis ini menunjukkan bahwa keluarga korban pembunuhan dengan sengaja memiliki dua pilihan. Pertama, qisas. Kedua, diyat dan pengampunan.

Islam menghukum berat pembunuh, karena Islam sangat menghargai kehidupan. Membunuh satu jiwa, seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya. Sebab, hak hidup itu adalah hak semua manusia, hak bersama yang dimiliki semua orang. Pembunuhan berarti pelanggaran terhadap hak hidup itu sendiri.

Dengan demikian, qisas mempunyai empat tujuan.

Pertama, menjamin kelangsungan hidup (Inna fil qishoshi hayatun). Masyarakat akan terlindungi dari kejahatan dan menahan setiap orang menumpahkan darah orang lain. (QS. al-Baqarah: 179).

Kedua, mewujudkan keadilan dan menolong orang terzalimi dengan memberikan kemudahan bagi keluarga korban untuk membalas kepada pelaku (S Al Isra’: 33).

Ketiga, sarana taubat dan penyucian dosa (kafarah) bagi pelaku. (QS. al-Maidah 5:45). (HR Imam Ahmad)).

Keempat, qisas aman dari perilaku melampaui batas kepada selain pelaku pembunuhan. (QS Al Isra’: 33). Kelima, terwujudnya kemakmuran dan berkah bagi negeri yang menegakkan qisas (HR. Ibnu Majah).

Hukuman mati juga ada di dalam Konstitusi kita. Pertimbangan sembilan hakim konstitusi sudah jelas. Tidak ada kontradiksi dalam keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka sepakat hukuman mati. Mereka satu pendapat bahwa hukuman mati itu sah berdasarkan penafsiran sistematis. Tidak ada dissenting opinion soal substansi. Itu bisa dibaca pada putusan No 2 dan 3 MK tahun 2007.

Memang benar, di dalam Bab X tentang Hak Asasi Manusia disebutkan bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya (Pasal 28 a).

Memang benar, setiap orang berhak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (Pasal 28 I ayat 1).

Namun, dalam Pasal 28 I ayat 5 dinyatakan bahwa untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.

Dan, Pasal 28 tentang hak asasi manusia ini diakhiri dengan Pasal 28 J ayat 2 bahwa dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

Jadi, hukuman mati tidak melanggar hak asasi karena semua hak asasi itu bisa dikurangi.

Delapan instrumen hukum internasional juga menyatakan hukuman mati itu sah. Instrumen hukum internasional tersebut sudah menjadi konstitusi di negara-negara Eropa.

Mereka memang menyatakan bahwa hukuman mati itu berat. Beraaat sekali. Tapi, mereka mengakui bahwa apa yang dilakukan pelaku tindak pidana berat itu sangat berbahaya jika tidak dihukum mati.

Selain membunuh, produsen dan pengedar narkoba juga kategori pidana berat. Bahkan bahayanya melampaui pembunuhan. Gara-gara narkotika jenis LSD (lysergic acid diethylamide), pengemudi Outlander Sport Christopher Daniel, 22, kehilangan orientasi hingga menyebabkan empat nyawa melayang. Ia tidak bisa membedakan jarak, masih jauh atau sudah dekat.

Gara-gara mengonsumsi alkohol dan narkoba, pengemudi Xenia Afriyani Susanti telah menewaskan sembilan orang di Gambir, Jakarta Pusat. Belum lagi berbagai kasus kecelakaan lalu lintas, penyakit, maupun kejahatan yang disebabkan barang haram itu.

Narkoba itu kejahatan tingkat tinggi (extra ordinary crime). Penanganannya pun harus dijalankan secara luar biasa. Maka wajar jika Negara Indonesia yang sudah darurat narkoba ini menerapkan hukuman mati kepada mafia narkoba. Sudah tepat pula jika presiden menolak pemberian grasi terhadap terpidana mati narkoba. Sebab, dari ulah para bandar itu lah generasi bangsa Indonesia mati sia-sia. Setiap hari rata-rata 40 orang tewas karena narkoba.

Para penolak hukuman mati beralasan bahwa hukuman itu sangat kejam, tidak manusiawi, tidak beradab, kemunduran, brutal, barbar, dan sematan negatif lainnya. Pendapat ini bisa dipahami dan dimaklumi, karena ia melihat dari perspektif terpidana mati. Tapi, coba lah melihat dari perspektif korban.

Bagi korban pembunuhan, hak hidup mereka telah dirampas. Keluarga yang ditinggalkan sangat menderita, apalagi jika yang dibunuh tulang punggung keluarga. Bagi korban narkoba, masa depan mereka hancur, masa depan bangsa rusak, harta keluarga habis dipakai beli narkoba dan sebagainya.

Justru hukuman mati itu sangat manusiawi, beradab, dan sebuah kemajuan. Perencana pembunuhan akan berpikir seribu kali karena hal paling berharga bagi manusia adalah hidupnya. Model hukuman yang ingin menjaga hak hidup dan menyelamatkan peradaban manusia itu sebuah kemajuan.

Lalu, kenapa di negara-negara yang menerapkan hukuman mati angka kejahatan masih tinggi?

Jika logikanya seperti itu, maka logikanya bisa dibalik begini: ’’Sudah diberlakukan hukuman mati saja masih banyak kejahatan, apalagi tidak dihukum mati?’’

Terkait dugaan rekayasa kasus masih tinggi bukan berarti menghapus hukuman mati. Itu sudah persoalan lain. Berarti penegak hukumnya perlu dibenahi. Tapi penyelewenangan itu tidak banyak, karena sudah melalui pengadilan tingkat pertama, kedua, dan MA. Putusan MK sendiri juga memungkinkan bagi terpidana mati yang sudah 10 tahun belum dieksekusi bisa dilakukan penurunan hukuman menjadi seumur hidup.

Bagaimana dengan tudingan bahwa hukuman mati itu sama dengan mengambil alih Tuhan?

Loh, bukan kah Tuhan sudah memberikan mandat untuk menghukum mati bagi pelaku tindak pidana tertentu? Bukan kah Tuhan juga telah mewajibkan hamba-Nya untuk menerapkan hukuman mati dan mewarning siapa saja yang mengingkarinya? (QS Al Baqarah: 178 dan Al Maidah: 44, 45, 47, 50). Maka, tak ada alasan bagi orang berakal untuk menolak hukuman mati, karena di dalamnya ada kehidupan.

Tiap-tiap orang punya hak hidup, sehingga hak hidup harus dihormati. Jika tak ingin dihukum mati dengan dalih hak asasi, maka jangan lah melanggar hak hidup orang lain yang merupakan hak asasinya. (*)

~ by ariyanto on 23 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: