Kancut

Jangan berpikir jorok dulu. Kancut itu bukan celana dalam (bahasa Jawa), tapi singkatan dari Kantin Kerucut.

Mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Depok, biasa menyebut kantin di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) ini dengan istilah Kancut. Lokasinya di dekat “jembatan cinta” Teksas (Teknik-Sastra).

Kancut ini cukup terkenal. Tempat tongkrongan mahasiswa berbagai fakultas. Khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Hukum karena lokasinya berdekatan dengan Kancut.

Kancut menjadi “titik kumpul”. Sebab, di tempat ini lah gadis-gadis cantik biasa makan dan berbincang-bincang. Mahasiswi FIB memang terkenal cantik-cantik. Banyak artis juga. Dulu, artis Dian Sastro juga biasa kongkow-kongkow dan berdiskusi di sini.

Bicara tentang diskusi, siang itu ada tiga mahasiswi duduk di dekatku yang datang hampir bersamaan di Kancut. Dua di depanku, satu lagi di kananku. Kami makan siang satu meja.

Kami pun saling berkenalan dan ternyata tiga gadis itu dari fakultas berbeda. Mia dari FISIP, Adel dari Hukum, dan Kristeva dari Filsafat.

Kami pun berbincang-bincang sambil menyantap makanan sesuai selera masing-masing.

“Kacau. Aku baca berita hari ini. Presiden bukannya batalkan pelantikan Kapolri BG yang telah ditetapkan sebagai tersangka dan mencari penggantinya, eh malah mengangkat Wakapolri jadi Plt,” Mia membuka pembicaraan.

“Anehnya lagi, kuasa hukum BG malah melaporkan Abraham Samad (Ketua KPK) dan Bambang Widjojanto (Wakil Ketua KPK) ke Kejaksaan Agung. Pasti nanti juga dibelain ama menteri hukum dan partainya. Ini tidak hanya Cicak versus Buaya, tapi Cicak vs Buaya, Komodo, dan Banteng. KPK dikeroyok. Nggak tahu ya KPK itu dicintai rakyat,” Mia melanjutkan dengan nafas agak tersengal karena terbawa emosi.

“Ya, itu hak prerogatif Presiden. Sah secara hukum. Presiden tidak membatalkan pelantikan, tapi menunda pelantikan. Itu harus diapresiasi karena presiden telah menerapkan azas praduga tak bersalah,” Adel menimpali dengan tenang, setenang Telaga Ranu Kumbolo.

“Kalau gue sih nggak ngerti politik, juga nggak ngerti hukum. Tapi gue punya akal sehat. Katakan lah BG itu titipan yang harus digolkan presiden sebagai bentuk politik balas budi, tapi apakah etis seorang tersangka tetap diajukan sebagai calon tunggal kapolri? Kayak nggak ada yang lain aja?” Kristeva mempertanyakan.

“Akal sehat kedua gue, masak tunjuk Plt, padahal kapolrinya aja nggak ada. Plt ini juga aneh. Masak pejabat yang belum dilantik kok sudah dibikinkan Plt-nya, sementara Kapolri sebelumnya baru pensiun akhir tahun. Ada apa?” Kristeva masih berusaha menegakkan akal sehatnya.

”Lagipula kalau sudah jadi tersangka KPK pasti dia jadi terdakwa. Tidak ada SP3 juga. Tapi biasanya sih kalau KPK menetapkan tersangka, pasti jadi terpidana,” tukas Mia.

Obrolan itu makin lama makin seru. Ibarat mesin diesel, makin lama makin panas. Saling adu argumentasi. Ada yang mempertanyakan langkah presiden, ada pula yang membela.

Aku hanya menyimak sembari menikmati mata-mata bening itu.

“Heiii! Kalau gue amatin, Lo kok diem aja sih dari tadi? Ikut ngomong kek! kata Kristeva yang duduk di kananku sambil mukanya di dekatkan ke mukaku dan memelototi mataku hingga membuyarkan lamunanku.

“Eh, iya, eh nga nga nganu… Boleh minta nomor PIN BB mu?” tanyaku gelagapan sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatal.

“Daripada nganu nganu, mending Lo yang bayarin makan kita deh!” kata Kristeva sambil ngacir, diikuti Mia dan Adel.

Asem. Kancut tenan. Apeq….(*)

~ by ariyanto on 22 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: