Belajar dari ”Si Bodoh” Bob Sadino

BCe6xAFCIAAPdwI.jpg large

Meski memeluk Islam sejak lahir, Bob Sadino yang suka mengenakan celana jeans pendek ini, sama sekali tidak mengerti agama. Dia juga tidak menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.

Di sebuah situs www.ciputraentrepreneurship.com disebutkan, selama puluhan tahun ia tenggelam dalam urusan duniawi yang sangat melelahkan dan menguras tenaga serta pikirannya. Meski itu sangat dinikmatinya, hingga bisa dibilang ia sebagai pengusaha sukses.

Nah, pada suatu hari, putri pertama Bob Sadino bertanya:
”Pa, aku kok tidak pernah melihat Papa salat?” pertanyaan itu keluar dari mulut putri pertamanya, pada pertengahan 1982.

Pertanyaan tak terduga dari anaknya itu bagai petir di siang bolong. Menggelegar. Jiwa Bob bergetar dan terus memikirkan isi kata-kata putrinya itu. Bapak yang suka berpenampilan nyentrik ini terus gelisah, resah, dan banyak lagi perasaan lain ketika itu.

Sehari setelah pertanyaan anaknya, giliran Bob yang memberikan pertanyaan. Bukan kepada putrinya, melainkan kepada sang istri, ”Bu..mau berangkat ke Makkah nggak? Umrah yuk…!” Gantian sang istri kaget bukan kepalang. Ia tidak mengira sama sekali, suami yang dikenalnya selama puluhan tahun mengajukan pertanyaan dan ajakan semacam itu.

Apa jawaban sang istri? Tentu saja jawabannya ’iya’, karena tidak lama kemudian mereka berangkat ke Makkah untuk umrah. Padahal, saat itu Bob sama sekali belum mengerti tata cara ritual Islam tersebut. Bahkan Bob mengaku belum bisa gerakan salat dan tidak hafal satu surat Alquran, termasuk surat al-Fatihah yang harus dibaca setiap salat.

Ketika di depan Kakbah, Bob hanya bisa tersenyum tanpa melakukan apapun karena memang tidak bisa. Tanpa membaca surat apa pun karena tidak ada yang dihafalnya.

”Saya sudah berusaha menghafal al-Fatihah, tapi sulitnya minta ampun. Tidak bisa sama sekali,” ceritanya. ”Ya sudah di depan Kakbah saya hanya tersenyum saja.”

Bob mengaku, peristiwa itu sangat luar biasa. Ia yang merasa penuh dosa dan tidak pernah melaksanakan perintah Allah, tetap mendapat panggilan Allah ke tempat suci Makkah. ”Perasaan itu muncul ketika berada di depan Kakbah, makanya saya hanya tersenyum,” katanya.

Hari-hari berikutnya, setelah berjumpa dengan Kakbah, Bob bisa menghafal al-Fatihah dan langsung lancar shalat. ”Luar biasa, setelah tersenyum di depan Kakbah, semua menjadi lebih mudah.”

Setahun kemudian, Bob dan istri meneruskan ibadahnya melaksanakan ibadah haji. Meski sudah haji, sepulang dari Makkah Bob tetap saja Bob Sadino, yang selalu berpenampilan seadanya, santai, cuek dan nyentrik.

Ke mana pun pergi, ia tetap dengan pakaian ’kebesarannya’: baju lengan pendek kotak-kotak dan celana jeans cekak di atas atas lutut.

Pengalaman spiritual Bob ini sungguh menyadarkan kita bahwa segala sesuatu yang baik harus disegerakan. Jangan berlambat-lambat. Jangan tar sok tar sok tar bosok. Keburu basi. Begitu ada keinginan umrah langsung berangkat. Tidak memikirkan sudah hafal sekian ayat dan surat. Juga tak peduli sudah tahu tata cara umrah atau belum. Yang penting umrah dulu, nanti akan dipandaikan kemudian.

Allah SWT berfirman, ’’Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Ali Imran: 133).

Dalam hal bisnis, Bob Sadino juga menerapkan prinsip: ’’Dan bersegera lah (Wa saari’u). Tidak perlu berpikir terlalu jauuhhhh. Tidak perlu dianalisis terlalu dalaaammmm. Hhingga akhirnya lupa untuk memulai usaha.

”Anda berpikir seribu mil, wah pasti terasa jauh. Sedangkan saya tidak pernah berpikir karena hanya melakukan selangkah saja. Ngapain pakai mikir kan hanya selangkah.” Itu lah kata-kata Bob yang sering disampaikan ketika diundang di acara-acara seminar bisnis atau motivasi.

Kata Bob, sebagian besar orang ‘pintar’ memang sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap. Mulai modal, untung rugi, sampai break event point. Tapi orang ’bodoh’ tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.

Orang ’pintar’ juga terlalu banyak pertimbangan. Harus ini itu. Jangan ini itu. Kelemahan banyak orang itu terlalu banyak mikir untuk membuat rencana. Akibatnya ia tidak segera melangkah. Beda dengan orang ’bodoh’. Lebih berani dibanding orang ’pintar’. Kenapa ? Karena orang ’bodoh’ sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose.

Paling penting harus segera bertindak. Wa saari’u. Kata ini bermakna bersegera dengan membuat langkah konkret. Bikin gerakan. Action!

Bob pernah disarankan kawannya untuk memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk mengobati depresinya setelah usaha sebelumnya gagal. Tanpa pikir panjang, ia langsung bergerak. Dan kesegaraan itu lah yang menjadikan pria bernama asli Bambang Mustari Sadino ini menjadi pelopor. Pria kelahiran Tanjung Karang (Sekarang Bandar Lampung), 9 Maret 1933, ini pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Dan, sekarang, ia memiliki jaringan usaha Kemfood dan Kemchick.

Pertanyaannya adalah mengapa Bob lebih memilih membuat usaha sendiri? Jadi pedagang? Bahasa kerennya jadi entrepreneur? Barangkali, ia ingin menjalankan hadis Nabi SAW yang berbunyi: ’’Sesungguhnya sebaik-baik usaha adalah usaha pedagang.’’ (HR BAihaqi).

Ya, Nabi Muhammad SAW memang pedagang sukses. Sebelum menjadi Rasulullah di usia 40 tahun, ia sukses berwirausaha. Namanya tersohor ke seluruh masyarakat Arab. Para pengusaha pun ramai-ramai bergabung bisnis dengan Muhammad yang dijuluki Al Amin (bisa dipercaya) itu. Ada yang ikut dalam bentuk modal (sharing modal), dan ada pula yang titip barang dagangan untuk dijualkan ke negeri lain (konsinyasi).

Itu sebabnya, dalam berbagai seminar motivasi, Bob selalu mengajak untuk menjadi wirausahawan. Dan bagi yang sudah terlanjur menjadi karyawan, ia sering menanyakan dan terkesan menagih, ’’Kapan kamu resigned)? Mengapa itu ia lakukan?

’’Setinggi apa pun pangkat yang dimiliki, Anda tetap seorang pegawai. Sekecil apa pun usaha yang Anda punya, Anda adalah bosnya. Karena itu, jika ingin bahagia, jangan jadi karyawan,” kata Bob.

Bob juga berpesan, dalam berbisnis harus menyertakan Tuhan. Jangan pernah melupakan Tuhan, karena dalam setiap kesuksesan itu ada campur tangan Tuhan. Jangan pernah berpikir kesuksesan itu hasil jerih payah diri sendiri.

Kini, Bob Sadino telah berpulang ke rahmatullah pada Senin, 19 Januari 2015, pukul 18.05, setelah sempat dirawat dua pekan di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta. Namun, dia pernah berpesan. Ketika mati kelak, dia tidak mau pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya terkubur bersama tubuhnya.

Selamat jalan sang inspirator. Semoga spirit, pengalaman, dan pengetahuan mu tetap hidup dalam diri orang-orang yang ingin membawa perubahan. (*)

~ by ariyanto on 20 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: