Agama

Perbincangan santai Zhongwen dengan Asma bergeser ke hal-hal serius. Pemuda bermata sipit ini mengungkapkan alasannya kenapa ajakan Asma untuk masuk masjid ditolak.

’’Saya tidak beragama. Tapi percaya Tuhan. Agama itu memicu peperangan dan berbagai persoalan buruk di dunia,’’ kata Zhongwen, lelaki tampan asal Tiongkok itu.

’’Jika tidak ada agama, tidak akan ada peperangan, saling bunuh, kekerasan,’’ lanjut pria yang memperkenalkan legenda cinta Ashima, putri cantik dari Yunan, kepada Asma.

Namun, Asma yang cerdas berkilah.

’’Peperangan dan penjajahan terjadi bukan hanya karena agama. Orang-orang menyalakan api peperangan dan menduduki sebuah negara untuk untuk rempah-rempah, minyak, juga emas,’’ jawab gadis cantik berjilbab yang sedang bertugas meliput di Beijing, Tiongkok, itu.

’’Peperangan juga terjadi antara penganut agama yang sama. Bahkan, negara-negara yang tak percaya pada Tuhan pun, berperang juga,’’ lanjut Asma.

Masih panjang percakapannya dengan gadis itu. Rangkaian dialog yang tercipta, lalu kian mendorong Zhongwen menghampiri masjid.

Ini adalah penggalan dialog film “Assalamualaikum Beijing”. Film ini diangkat dari novel karya Asma Nadia dengan judul sama terbitan AsmaNadia Publishing House. Di film ini, Zhongwen (Morgan Oey) akhirnya memilih beragama dan menikahi Asma. Melalui ’’Ashima’’-nya ini lah Zhongwen mendapatkan petunjuk.

Bertuhan tanpa agama ala Zhongwen ini mengingatkan pada Bertrand Russell. Filsuf ini dikenal dengan pandangannya yang keras dan kritis terhadap agama. Bertuhan tanpa agama merupakan karya paling provokatif yang dihasilkan sejak awal hingga akhir hidupnya. Dia menolak keras terhadap akar-akar fundamentalisme, irasionalisme dan dogmatisme dalam beragama.

Berbagai macam ilmu pengetahuan baru pada zaman pencerahan di Barat (Renaisans) makin memperkuat perlawanan terhadap agama. Pengetahuan dan teknologi bertarung adu kuat dengan doktrin agama yang berusaha dipertahankan penguasa.

Masih ingat cerita Copernicus? Dia digantung karena dengan bantuan teleskop telah menemukan fakta baru bahwa pusat tata surya adalah matahari (teori heliosentris). Dia dibunuh karena dianggap melanggar doktrin gereja yang telah mengatakan bahwa pusat tata surya adalah bumi (teori geosentris).

Masih ingat juga dengan pernyataan filsuf Friedrich Nietzsche bahwa Tuhan telah mati (Got ist Tot)? Pernyataan Nietzsche ini jangan dimaknai secara harfiah. Secara filosofis, dia sebenarnya mengkritik para penganut agama yang dengan beragama justru membuat mereka terbelakang. Tidak maju. Tidak berperadaban.

Filsuf asal Jerman ini juga mengkritik orang-orang beragama yang dengan agama ijustru membuat manusia saling berperang. Saling bunuh. Berperang atas nama agama. Berperang atas nama Tuhan.

Itu sebabnya, Nietzsche meniadakan nilai-nilai tuhan yang dianggap membuat manusia terbelakang dan tidak berperadaban itu (Nihilisme) dan melahirkan manusia-manusia unggul (Superman).

Ini sebenarnya kritik atas praktik agama di zamannya yang hanya menghambat kemajuan. Bagi para penganut agama, kritik Nietzsche ini bisa menjadi vitamin bagi kesehatan beragama. Bahwa beragama itu tidak menjadikan manusia terbelakang dan tidak berperadaban.

Kalau demikian halnya, mengapa ada orang berperang atas nama agama? Ini ada aspek internal di dalam agama itu sendiri yang mengajarkan kekerasan melalui teks-teks suci keagamaan atau ada faktor eksternal?

Seperti dijelaskan Asma kepada Zhongwen, peperangan dan penjajahan terjadi bukan hanya karena agama. Tapi karena ingin menduduki sebuah negara untuk untuk rempah-rempah, minyak, juga emas.

Kalau jawabannya karena agama, tentu peperangan tidak akan terjadi antara penganut agama yang sama. Negara-negara yang tak percaya pada Tuhan pun mestinya juga tidak berperang.

Agama mana pun tidak mengajarkan kekerasan. Cuma masalahnya, agama sering dijadikan alat justifikasi untuk melakukan tindakan kekerasan. Agama juga ’’dibajak’’ untuk mencapai tujuan-tujuan sosial, politik, dan ekonomi.

Lantas, apa kah kemudian agama patut disalahkan dan harus dibubarkan?

Kalau dua pemuda saling bunuh untuk memperebutkan gadis pujaan hati, apakah kemudian yang disalahkan gadis pujaan hati dan harus dibunuh?
Kalau dua negara saling berperang memperebutkan kekayaan alam, apakah kemudian yang disalahkan kekayaan alam dan harus dienyahkan?

Kalau seorang politisi saling bunuh demi memperebutkan kekuasaan, apakah kemudian yang disalahkan kekuasaan dan harus dihapuskan di muka bumi?

Kalau seorang ibu rumah tangga mengiris-iris bawah putih menggunakan pisau lalu pisaunya direbut penjahat untuk dipakai membunuh, apakah kemudian yang disalahkan pisau dan harus dibuang?

Kalau seorang pemuda memperkosa atas nama cinta, apakah kemudian cintanya yang disalahkan dan harus dibubarkan?

Kalau sebuah negara menindas negara lain atas nama demokrasi, apakah kemudian yang disalahkan demokrasi dan harus diganti?

Kalau sebuah media menghina dan melecehkan seorang nabi atas nama kebebasan berbicara, atas nama demokrasi, atas nama hak asasi, apakah kemudian yang disalahkan kebebasan berbicara, demokrasi, dan hak asasi?

Ini menjadi tantangan bagi para penganut agama, bagi penyembah Tuhan, bahwa agama bukan lah sumber konflik, pemicu kekerasan, dan berbagai hal buruk lainnya, seperti dipikirkan Zhongwen, Friedrich Nietzsche, Bertrand Russell, atau Karl Marx. Tapi, agama adalah sumber cinta kasih dan kemanusiaan.

Sekarang, daripada menyalahkan, mengutuk, dan menghujat agama, lebih baik menikmati indahnya beragama. Seperti Zhongwen yang menikmati agama yang dipeluknya dan merasakan kebahagiaan bersama Asma yang telah dinikahinya. (*)

~ by ariyanto on 15 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: