NIETZSCHE

Orang-orang di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta heboh dengan keberadaan Friedrich Nietzsche yang memanjat Patung ’’Selamat Datang’’. Nietzsche berusaha mencapai puncak sembari membawa sound system berkekuatan 100 ribu Watt. Sesampainya di atas dia ceramah dengan gaya berapi-api, sangat agitatif, dan provokatif di tengah guyuran hujan lebat pagi itu.’’Aku bangkit dari kubur khusus untuk membunuh Tuhan-Tuhan yang kalian sembah. Tuhan yang kalian bela mati-matian. Aku tak puas membunuh Tuhan hanya sekali. Makanya aku bangkit lagi dari kematian,’’ katanya mengawali pidatonya yang membuat para pengendara terperanjat dan mematikan mesin kendaraannya.

Seputar HI pun macet, ekor kemacetannya hingga Cinere, Depok, Jawa Barat, bahkan berlanjut sampai Cisauk, Tangerang, Banten.

’’Kalian tak perlu bertuhan. Kalian tak perlu beragama. Buat apa kalau hanya membuat hidup kalian tidak maju, tidak lebih sejahtera, dan tidak lebih berperadaban? Kadang di antara kalian terjadi adu mulut, bersitegang, berkelahi, dan bahkan saling membunuh atas nama Tuhan! Atas nama agama! Tuhan dan agama macam apa itu!’’ lanjut si kumis tebal yang sepanjang hidupnya sakit-sakitan ini.

Ceramah Nietzsche membuat sebagian besar pengendara marah dan memintanya segera turun. Sebagian lagi melemparinya dengan batu karena kesalnya. Wajah Nietzsche berdarah. Namun dia tetap melanjutkan ceramahnya.

’’Gott ist tot. Tuhan sudah mati. Aku yang telah membunuhnya, karena Tuhan tidak berguna,’’ dia meneruskan ocehannya.

Orang-orang yang mendengarnya makin marah. Kali ini mereka memanjat dan hendak menyeret Nietzsche. Belum sempat sampai puncak, Nietzsche kabur dengan membawa sound systemnya itu. Dia terbang menuju lapangan Monas yang pagi juga ramai orang berjualan, senam pagi, maupun aktivitas lainnya.

’’Saudara-saudara, dengarkan ceramahku ini. Aku ingin memberi kabar bahwa Tuhan sudah mati. Aku yang telah membunuhnya. Kita semua juga telah membunuhnya. Dan Tuhan memang harus mati, karena Dia hanya menghambat kemajuan kita,’’ Nietzsche lagi-lagi mengawali ceramahnya yang bikin merah telinga.

Sontak saja dia langsung dikeroyok. Tubuhnya babak belur. Dia pun terbang ke puncak Monas dengan tetap membawa seperangkat sound systemnya.

’’Heiiii…kamu. Iya, kamu! Tuhan kamu kah yang mengajarkan kekerasan itu? Suka main hakim sendiri. Kalau demikian, bunuh lah Tuhan kamu itu. Iya, Tuhan kamu! Jangan belaga bego deh! Canda Nietzsche sembari meringis menahan kesakitan karena mulutnya nyonyor dihajar massa.

’’Kita ini manusia-manusia unggul. Lebih unggul dari Tuhan. Punya moral, punya etika, dan punya rasa kemanusiaan, meski tidak punya rasa ketuhanan. Tidakkah kita sendiri yang seharusnya menjadi tuhan-tuhan?’’ Nietzsche terus mengoceh.

’’Dasar Fir’aun!’’ teriak orang-orang lalu berusaha naik lift untuk menyeretnya turun.

Nietzsche pun terbang lagi. Kali ini dia meninggalkan Jakarta yang dianggapnya sudah tidak ramah lagi, apalagi setelah ada larangan motor melintas di kawasan HI hingga Medan Merdeka. Loh, hubungannya apa? Emang Nietzsche dari Jerman ke Jakarta naik motor? Hahaha….

Dia terbang ke perairan Pangkalan Bun, ibu kota Kabupaten Waringin Barat, Kalimantan Tengah. Ia bangga dengan kebersamaan warga dunia berlomba-lomba tak kenal lelah mencari jenazah musibah AirAsia QZ8501 dan Cockpit Voice Radar (CVR) yang merupakan bagian black box. Tak mengenal warna kulit, suku, etnis, agama, negara, atau ideologi. Mereka bahu membahu untuk satu tujuan: misi kemanusiaan. Mereka bersama-sama mengibarkan bendera ideologi yang sama: ideologi kemanusiaan.

Di atas KRI Banda Aceh, Nietzsche berceramah di atas anjungan kapal. Dia ceramah di sini karena kabarnya CVR sudah ditemukan dan dibawa ke kapal ini.

’’Saudara-saudara, aku bangga dengan kalian. Aku bangga dengan Tuhan kalian. Aku bangga dengan agama kalian. Yang membuat kalian memiliki spirit kemanusiaan sangat tinggi. Sembahlah Tuhan kalian. Aku tidak akan membunuh Tuhan kalian: Tuhan kemanusiaan,’’ kata dia.

Beberapa detik kemudian, sebelum dia melanjutkan ceramahnya, tiba-tiba terdengar suara,’’gedubrakkkk!!!!’’

Ternyata, teman sekantor yang duduk di sebelah kanan ku terjengkang dari kursi hingga membuat teman sekantor menoleh.
’’Kenapa, Bro?’’ tanyaku.
’’Mimpi, Bro!’’ jawab dia lalu bergegas ke toilet untuk cuci muka. (*)

~ by ariyanto on 13 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: