JERMAN

Suara Air Terjun Jerman setinggi sekitar 20 meter menghasilkan orkestra musik alam yang menenangkan.

Suara Air Terjun Jerman setinggi sekitar 20 meter menghasilkan orkestra musik alam yang menenangkan.

Alhamdulillaaaahhh…. Akhirnya, kami bisa mengunjungi Belanda, Bombay, dan Jerman hanya dalam sehari. Saat di Belanda bermain bola, di Bombay mancing lele, dan di Jerman mandi di air terjun. Istri senang. Anak-anak pun riang. Semua puas. Spesialnya lagi, berkat bantuan saudara-saudara, pergi ke tiga tempat itu tak perlu pakai paspor dan visa.

Beneran. Mendatangi tiga tempat itu tak perlu pakai paspor dan visa. Tanya saudara-saudaraku. Tanya istriku. Tanya anak-anakku. Kenapa? Karena lokasinya relatif berdekatan kok. Masih satu kabupaten. Apa? Satu kabupaten? Ngaco deh.

Beneran. Masih di wilayah Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Belanda itu maksudnya Belakang Lapangan Porda (Gelanggang Olahraga), Bombay itu Bombay Sari alias Desa Kembang Sari, dan Jerman itu akronim atau kependekan dari Jeruk Manis. Orang Lombok Timur biasa menyingkat tiga daerah itu menjadi seolah-olah nama negara. Jerman dan Belanda di Benua Eropa. Bombay kota terbesar dan pusat perdagangan di India. Tuh, nggak ngaco kan?

Di ’’dua negara’’ pertama kami silaturahim di rumah saudara. Dua daerah itu masuk Kecamatan Selong. Nah, di ’’negara ketiga’’, kami sengaja ingin menikmati segarnya Air Terjun Jeruk Manis alias Jerman. Air terjun setinggi sekitar 20 meter ini berada di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur. Bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Dari gerbang TNGR ke Jerman sekitar 1,5 kilometer.

Senyum Air Terjun Jerman dari jauh terlihat manis.

Senyum Air Terjun Jerman dari jauh terlihat manis.

Dari Selong kami naik motor. Butuh sekitar satu jam ke TNGR. Kecepatan rata-rata 40 kilometer per jam. Kami sengaja memacu kendaraan pelan-pelan, karena ingin menikmati indahnya panorama alam pedesaan yang tenang, damai, dan sejuk. Jauh dari polusi. Polusi udara, polusi suara, dan polusi viual.

Sawah hijau dengan model terasering memanjakan mata terhampar luas di kanan kiri jalan yang mulus. Benar-benar mulus. Tidak ada lubang. Apalagi genangan. Jalan ini baru selesai dibangun tahun lalu.

Sekitar satu jam menempuh perjalanan yang menyenangkan, tiba lah kami di gerbang bertuliskan Taman Nasional Gunung Rinjani dengan huruf kapital warna hijau lumut. Ini bukan lumut KW lo? Tapi benar-benar hijau lumut alias lumut sungguhan yang melumuti tulisan itu. Bagiku ini justru menarik, makin menambah kealamian kawasan TNGR hahaha…

Aku kemudian beli tiket masuk Rp 5 ribu per orang per hari di kantor Resort Kembang Kuning di kiri pintu gerbang. Wisatawan mancanegara dikenakan Rp 150 ribu per orang. Secara pribadi aku sebenarnya kurang setuju ada pembedaan harga tiket untuk wisatawan domestik dan asing.

Anak tangga yang harus dilalui untuk menggapai gemericik keindahan Jerman.

Anak tangga yang harus dilalui untuk menggapai gemericik keindahan Jerman.

Terkesan diskriminatif. Kalau kita diperlakukan seperti itu di luar negeri barangkali kurang nyaman juga kan? Tapi ya sudah lah, mungkin TNGR sudah punya berbagai pertimbangan matang.

Di depan kantor resort Kembang Kuning banyak orang berjualan. Kita bisa menyiapkan berbagai logistik sebelum memulai trekking. Di kanan kiri start jalur trekking terdapat banyak papan petunjuk dan informasi tentang Air Terjun Jerman.

Di antaranya pesan berbahasa Indonesia dan Inggris dengan huruf kapital: ’’TINGGALKAN JEJAK DAN KENANGANMU….TAPI JANGAN TINGGALKAN KERUSAKAN DAN SAMPAHMU…’’

Pesan-pesan lainnya soal aturan dan larangan yang harus ditaati. Misalnya membawa kembali sampah, tidak mengganggu dan memberikan makanan satwa di dalam kawasan, dan tidak memetik, mengambil, merusak, atau membunuh tumbuhan dan satwa.

Bismillahirrahmanirrahiiiiim…. Trekking dimulai. Anakku yang baru berusia 3,8 tahun tak mau digendong. Ia langsung lari mengikuti langkahku, menapaki bekas tapakku. Akibatnya, mukanya sering menabrak pantatku. Sementara istriku di baris paling belakang.

Di sini jalurnya bagus, meski tidak terlalu lebar. Sekitar 80 cm. Jalan setapak ditata sedemikian rupa agar tidak licin atau selip. Treknya juga dibikin landai. Tidak berundak-undak seperti anak tangga sebagaimana di trek air terjun Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Bogor, Jawa Barat.

Di kanan kiri trek banyak dijumpai Kemutung atau Rosberry (Rubus rosaefolius Smith). Tumbuhan jenis perdu yang tumbuh tegak atau memanjat dengan tinggi rata-rata 1 meter. Terkadang ada buahnya juga. Warnanya merah dan berair, tanda buah ini sudah masak.

Buah ini bisa dimakan mentah atau direbus dulu. Enak lo, mengandung antioksidan dan vitamin C. Berkhasiat untuk mengobati muntah darah. Juga bersifat adstringensia, yaitu memberikan rasa dingin. Buah ini juga dapat diberikan kepada anak-anak yang suka mengompol.

Banyak pula dijumpai Pakis, salah satu komodit Hasil Hutan Bukan Kayu. Berdasarkan tempat tumbuhnya, Pakis terdiri atas 3 jenis. Yaitu, Pakis Pohon (Epifit), Pakis Air dan Pakis Tanah. Namun, kita harus hati-hati jika ingin memakan Pakis. Sebab, dari 112 jenis Pakis di kawasan Rinjani, hanya 12 jenis Pakis yang dapat dimakan, yaitu dari marga Nephrolepis, Displazium, dan Chyathea.

Di beberapa batang kayu lapuk juga dijumpai pohon Jamur Tiram Merah (Pleurotus falbellatus). Jamur ini merupakan salah satu jenis jamur yang bisa dimakan (edibel). Tubuh buah mirip kerang atau kipas setengah lingkaran. Jamur ini memang biasanya tumbuh di ketinggian 500-2.000 mdpl dengan substrat berupa batang kayu lapuk dan dapat ditemukan di sepanjang musim basah. Paku-pakuan, bunga liar, Durian, Lemuru ( Ficus sp), Liuh-liluh (Lixoura sp), dan Bajur (Pterospernum javanicum) juga banyak menghiasi kawasan TNGR ini.

Di tengah perjalanan sebelum Pos I (total ada 3 pos), aku menjumpai beberapa Lutung (Trachypithecus auratus) bergelayutan dari satu ke ranting lainnya. Ketika aku menatapnya ia malu-malu, lalu bersembunyi di balik dahan basah.

Di Indonesia, bangsa primata ini ada tiga subspecies: T Auratus Sundaicus (sebaran di Jawa Barat), T Auratus Phyrrus (sebaran di Jawa Timur), dan T Auratus Auratus (sebaran di Bali dan Lombok). Tapi sayang, dalam perjalanan ini tidak bertemu Celepuk Rinjani/Rinjani Scops Owi/Burung Mpok (Otus Jolandae). Ini satu-satunya celepuk dan burung endemik pertama di Pulau Lombok.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit dengan berhujan-hujan ria, akhirnya sampai juga di Jerman. Siang itu sangat sepi. Tak ada orang satu pun. Mungkin karena hujan. Tapi tidak apa-apa. Justru ini lebih romantis dalam menikmati gemericik keindahan Jerman.
Kesunyian itu makin menggugah seleraku untuk mencecap manisnya Jerman. Aku pun langsung menceburkan diri. ’’Berrrrrr…..Duingiiiinnnnn….’’. Airnya sangat-sangat jernih dan segarrrr….

Kelelahan menggendong si kecil dari Pos I sampai Jerman langsung hilang setelah tubuh ini mendapatkan terapi water massage (pijat air). Pikiran dan badan pun fresh kembali. Jeruk Manis, paras dan senyummu memang manis, semanis namamu. (*)

~ by ariyanto on 13 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: