SIKUR

Sawah Terasering di Desa Kembang Kuning, Sikur, Lombok Timur. Sikur adalah ''Ubud''-nya Lombok.

Sawah Terasering di Desa Kembang Kuning, Sikur, Lombok Timur. Sikur adalah ”Ubud”-nya Lombok.

Memasuki Kecamatan Sikur, Lombok Timur, seolah memasuki lorong waktu di belahan lain surga. Detik seakan berhenti berdetak ketika tiba di tiga desa yang berada di kaki selatan Gunung Rinjani: Desa Tetebatu, Desa Kembang Kuning, dan Desa Jeruk Manis.

Sejauh mata memandang terhampar panorama alam hijau, tenang, sejuk, dan menyimpan ’’daya magis’’ di mana kita ingin tinggal lebih lama. Menatap eksotika alam dengan latar gunung Rinjani lebih lama dari biasanya. Mendengar suara-suara alam yang menggetarkan jiwa lebih lama dari biasanya. Dan, menghirup udara yang menyegarkan paru-paru lebih lama dari biasanya. Seperti pengantin baru yang ingin berlama-lama di kamar pada malam pertama dan tak ingin beranjak dari tempat tidurnya.

Sejauh mata memandang, ke mana pun melempar pandang, tampak hamparan sawah menghijau. Bentuknya berundak-undak. Membentuk piramida terbalik. Mirip stadion Gelora Bung Karno. Model ini biasa disebut terasering. Orang Lombok menyebut terasan.

Bangunan konservasi tanah dan air secara mekanis ini dibuat untuk memperpendek panjang lereng atau memperkecil kemiringan lereng dengan jalan penggalian dan pengurugan tanah melintang lereng. Pembuatan teras bertujuan mengurangi kecepatan aliran permukaan (run off) dan memperbesar peresapan air, sehingga kehilangan tanah berkurang (Sukartaatmadja 2004).

 Siluet pohon kelapa memantul di atas sawah yang baru saja ditanami di Desa Jeruk Manis, Sikur, Lombok Timur.


Siluet pohon kelapa memantul di atas sawah yang baru saja ditanami di Desa Jeruk Manis, Sikur, Lombok Timur.

Kita bisa bersepeda di areal persawahan dan perkebunan. Tapi harus bawa sepeda sendiri, karena di ’’surga tersembunyi’’ ini tidak ada tempat persewaan sepeda secara khusus, kecuali kita menyewa sepeda warga. Kalau pun tidak bawa sepeda, berjalan kaki (trekking) juga asyik. Melewati persawahan dan perkebunan yang berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, dengan latar pemandangan Rinjani yang berharmoni dengan kebun pala, vanili, cabai, atau tembakau.

Atau sekadar duduk-duduk di atas pematang sawah atau Beruga (Gazebo), sembari menikmati wajah cantik Rinjani yang seringkali dihijabi kabut dan awan. Kemolekan tubuh dan paras ayunya memang nyaris selalu tertutup hijab. Butuh kesabaran kalau ingin menatap wajahnya.

Namun, sekali hijab itu tersingkap, kita akan tertegun dan terpukau. Jauh melebihi keterpukauan Jack ketika melihat Rose tak mengenakan sehelai kain pun saat Jack diminta melukis dirinya di film ’’Titanic.’’

Di Sikur kita juga bisa menikmati hutan Taman Nasional Gunung Rinjani yang masih terjaga baik. Aneka satwa berkeliaran bebas. Kera-kera hitam bergelayutan dari satu ke pohon lainnya. Burung-burung bersahutan seolah mengucapkan selamat datang.

Di Taman Nasional Wilayah III ini juga terdapat air terjun Jeruk Manis atau Jukut setinggi 40 meter. Airnya sangat jernih. Dingin sekali. Air menari-nari mengikuti irama alam dengan ritme teratur menjadi kawan di tengah alam yang tenang. Butuh waktu sekitar satu jam dari kantor resort Kembang Kuning untuk menggapai gemericik keindahan lukisan alam.

Ada pula air terjun Tibutopat. Jalan kaki sekitar 30 menit dari pusat desa Tetebatu. Airnya tidak terlalu tinggi. Di bagian bawah air terjun terdapat kolam sedalam 4 meter. Airnya kehijauan. Airnya dingin menyegarkan ketika bersentuhan dengan kulit.

Kalau kaki masih kuat melangkah, kita bisa mengunjungi air terjun Joben yang terletak di barat laut Desa Tetebatu. Di sini memang tidak ada angkutan umum. Pengunjung harus bawa kendaraan sendiri atau berjalan kaki selama satu setengah jam dari Tetebatu. Tapi jangan khawatir, sejak 2013, infrastruktur jalan di Sikur ini sudah mulus.

 Memandang areal persawahan dan perkebunan dengan latar belakang Gunung Rinjani yang dihijabi kabut dan awan dari atas Beruga.


Memandang areal persawahan dan perkebunan dengan latar belakang Gunung Rinjani yang dihijabi kabut dan awan dari atas Beruga.

Sunrise dan sunset bisa disaksikan di Prempungan. Butuh lima belas menit jika ditempuh dengan kendaraan dari Tetebatu. Di pagi hari, pucuk-pucuk pohon kelapa berebut ingin mendapatkan kehangatan pertama sinar mentari pagi. Lalu, sinarnya membuat siluet pohon kelapa memantul di hamparan sawah menghijau yang baru saja ditanami.

Para petani pergi ke sawah menanam atau memanen padi, anak-anak bermain kuda-kudaan dari blarak (janur pohon kelapa yang sudah mengering), bermain gasing atau egrang, menjadi daya tarik tersendiri. Pemandangan khas alam pedesaan yang indah permai. Sulit dijumpai di masyarakat perkotaan. Bagaimana mencapai Sikur?

Kita harus naik bus dari terminal utama di Mataram ke Pomotong yang jaraknya 12 km dari Tetebatu. Dari Pomotong, kita bisa naik bemo ke Kotaraja diteruskan dengan cidomo ke Tetebatu. Kalau dari bandara, kita bisa naik Damri Bandara Internasional Lombok (BIL)-Selong lalu turun di Pomotong. Karcisnya cuma Rp 30 ribu. Baru tiga bulan ini beroperasi. Atau jika ingin mudah lagi, kita harus menyewa taksi atau mobil dengan biaya sekitar Rp 300 ribu.

Di Sikur, kita harus benar-benar menyiapkan logistik dan waktu cukup. Sebab, objek wisata alam, religi, budaya di Sikur ini tak cukup dinikmati sehari. Setidaknya, kita butuh waktu minimal 3 hari. Jangan khawatir soal penginapan. Di Desa Tetebatu banyak sekali vila bagus. Terserah kita pilih paket mana. Juga disediakan pemandu wisata.

Kalau kita mau, bisa pula menginap di rumah warga (homestay). Lebih asyik. Mengikuti keseharian dan kebudayaan warga Sasak ini dapat menumbuhkan rasa cinta kepada bangsa Indonesia yang memiliki beragam adat istiadat dan budaya.

Kalau tiga hari dirasa belum cukup, kita bisa menambah seminggu di sini. Kalau masih belum cukup juga, coba lah sebulan di sini. Kalau masih belum cukup juga, kita bisa menikah dengan gadis Sasak dan menjadi warga Sikur hahaha…Kita akan masuk ke lorong waktu yang kita tidak ingin lepas dari dekapan sang waktu. (*)

 

~ by ariyanto on 12 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: