Kanjeng Nabi

Dulu. Duluuuu sekali. Ketika aku masih SD. Aku hampir meninju penjual sayur di sebuah pasar di Surabaya. Gara-garanya, bapak si penjual sayur itu menggoda ibu ku. Merayu ibu ku. Melempari ibu ku dengan kulit kacang.

Emosi ku makin meledak ketika ia menghina ibu ku dengan perkataan tak senonoh lantaran mengabaikan rayuan gombalnya.
Ketika hendak aku datangi dan mau aku tinju dia, ibu ku mencegahku. Tangan ku dipeganginya.

’’Gae opo. Karuan nang kene ae ngrewangi ibuk mu dodolan (Buat apa. Lebih baik di sini saja membantu ibu mu berjualan),’’ kata ibu ku.

Kala itu, ibu ku baru hari pertama berjualan di sebuah pasar yang berjarak sekitar 6 km dari rumah. Jualan pentolan bakso. Pentolan itu bikin sendiri dan dijual sendiri. Tiap hari, sekitar pukul 02.00 WIB dinihari, aku mengantar ke pasar. Aku membantunya jualan. Pukul 05.30 mulai belanja bahan-bahan pentolan dan kemudian digiling. Setelah beres semua, kami pulang ke rumah. Dan, aku harus bergegas ke sekolah sebelum pukul 07.00.

’’Bu, aku nggak terima Ibu diperlakukan seperti itu. Ibu yang melahirkan ku dalam keadaan susah payah, bahkan mempertaruhkan nyawa, masak aku diam saja melihat ibu dihina?’’ kata ku di kala tidak sedang ada pembeli.

Ibu ku hanya tersenyum mendengar protes ku. Sejurus kemudian ibu ku bercerita.
’’Longgo nang sebelahe ibuk kene, tak ceritani. (Duduk di sebelah ibu sini, aku kasih cerita),’’ ujar ibu ku dengan suara datar.

Dulu, Kanjeng Nabi (Ibu ku menyebut Nabi Muhammad SAW dengan istilah Kanjeng Nabi) akan pergi ke masjid. Tiap melewati jalan menuju masjid itu (konon itu jalan satu-satunya), beliau dihina, dicaci, diludahi, bahkan dilempari kotoran oleh seorang sahabat. Tapi, Kanjeng Nabi itu sabar, sabar, dan sabar.

Bahkan, kata ibu ku, Malaikat Jibril sampai muntap (marah tak terkendali) atas kelakuan orang itu. Malaikat pun menawarkan diri ke Kanjeng Nabi untuk membalas-dendamkan. Namun, Kanjeng Nabi menolak dengan halus. ’’Tak usah ya, Jibril. Sahabat itu belum mengenal Islam. Biarkanlah dia dengan perilakunya.”.

Nah, suatu hari, tumben-tumbennya sahabat itu tidak melempari. Kanjeng Nabi heran dan berusaha mencari tahu. Ternyata, dari kabar yang diperolehnya, sahabat itu sakit keras. Sahabat itu tidak bisa bangun dari tidurnya. Sehari-hari sahabat itu hanya meringkuk di tempat tidur.

Kanjeng Nabi bergegas untuk menengoknya. Wajah sahabat itu pucat pasi ketika mengetahui orang yang menengoknya Kanjeng Nabi. ’’Keringete gemuobyos. Saking wedine. Dikiro Kanjeng Nabi kuathe balas dendam (Keringatnya bercucuran deras. Takut teramat sangat karena dikira akan balas dendam),’’ cerita ibu ku bersemangat.

Ternyata, tak disangka Kanjeng Nabi meletakkan tangan lembutnya di dahi. Lalu, mengusap-usap tangan sahabat. Dengan suara lembut, Kanjeng Nabi bertanya tentang penyakit dan perasaan yang dirasakan sahabat.

Singkat cerita, kepribadian dan kesantunan Kanjeng Nabi itu mengetuk hati sahabat dan mencium tangannya, lalu berkata dengan suara gemetar:
’’Wahai Muhammad. Ketika engkau akan beribadah, saya selalu mengganggumu. Saya selalu menyakitimu. Saya selalu berusaha agar kamu tidak dapat beribadah dengan segala caraku. Namun, semua usahaku ternyata gagal. Hari ini, saya sedang sakit. Tak seorang pun teman-temanku menengokku. Justru kamu adalah orang yang pertama menengokku. Sungguh hatimu teramat mulia. Maka, persaksikanlah wahai Muhammad bahwa saya masuk Islam.”

’’Ngunu akhlak Kanjeng Nabi iku (Begitu akhlak Kanjeng Nabi itu). Ya, udah, sekarang tolong belikan bapak-bapak tadi kacang rebus satu plastik, segelas kopi, dan nasi pecel untuk sarapan. Sampaikan salam perkenalan Ibu kepadanya,’’ pinta ibu ku.

Aku pun menurut. Setelah aku kasihkan ke bapak tadi dan aku sampaikan salam ibu, bapak itu tersenyum. ’’Waduuhhhh. Suwun-suwun. Suwun Mbak yo?’’ kata bapak itu kepada ku dan kepada ibu ku yang stannya ada di depannya.

Eh, keesokan harinya si bapak jahil itu tak usil lagi. Bahkan, hubungan ibu ku dan bapak itu menjadi akrab. Dan, ketika aku disunat pada kelas 3 SMP, bapak itu datang. Entah siapa yang ngasih tahu. (*)

~ by ariyanto on 8 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: