Memotret

Areal persawahan di kaki Rinjani di Desa Tetebatu, Sikur, Lombok Timur.

Areal persawahan di kaki Rinjani di Desa Tetebatu, Sikur, Lombok Timur.

Memotret, mengambil gambar dengan kamera, kini bisa dilakukan siapa saja. Berkat kecanggihan teknologi, seorang amatir pun bisa jeprat-jepret. Dan, jepretannya pun bagus, meski tidak sebagus fotografer profesional. Bahkan, dengan sedikit editing, hasilnya makin kinclong. Seindah warna aslinya. Benarkah bidikan kamera, paling canggih sekali pun, bisa seindah warna aslinya?

Aku kerap melihat-lihat hasil jepretan keindahan panorama alam yang aku simpan di laptop di kala aku rindu. Foto-foto ketika mendaki gunung, menyusuri pantai, menjelajahi air terjun, berjalan-jalan di pematang sawah, atau saat menyelam. Hasilnya kok tidak seindah warna aslinya ya? Tidak menggambarkan apa yang aku lihat langsung. Padahal itu sudah foto paling bagus menurut ku lo? Sedangkan beberapa foto ’’mengecewakan’’ aku delete.

Oke lah gak papa. Lumayan, foto-foto itu bisa menjadi dokumentasi. Atau sekadar bukti bahwa aku pernah ke objek-objek itu. Dulu, duluuuu sekali, jauh sebelum ada kamera digital, fota-foto tak bisa ’’seboros’’ sekarang. Satu rol film yang biasanya berisi 20 gambar harus dipakai sehemat mungkin. Sepentingnya saja. Seperlunya saja. Memotretnya juga harus hati-hati, agar gambarnya tidak terbakar.

Tapi, pada zaman baheula, sebelum era kamera canggih, aku hampir tak pernah foto-foto. Tak punya duit untuk beli kamera, tak punya duit beli film, dan tak punya duit cetak film. Mahal. Sayang, duitnya bisa dipakai keperluan lain yang jauh lebih penting, lebih mendesak. Makanya, aku hampir tak punya foto-foto kecil dan remaja. Kalau pun punya biasanya dikirimi kawan. Satu-satunya dokumentasi, dan Alhamdulillah terpelihara baik hingga sekarang, ada di pikiranku dan di hatiku. Juga ada di mimpi-mimpiku.

Ketika aku kecewa hasil jepretan tak dapat melukiskan dengan presisi, aku menutup laptop. Aku rebahan, pejamkan mata, lalu menghadirkan kembali kenangan-kenangan yang aku simpan di memori pikiranku dan hatiku. Maka, keindahan-keindahan itu hadir.

Membayangkan sawah, misalnya, maka terpapar lah hamparan sawah menghijau atau menguning di lereng gunung, pematangnya, terasiringnya, kerbau-kerbaunya yang dipakai membajak, irigasinya yang dipakai mengairi sawah, sinar matahari yang membelainya, kabut yang menyelimutinya dan lain-lain. Semuanya hadir. Lengkap. Tak kurang sedikit pun.

Udara sejuk, angin semilir menyentuh kulit, suara kicau riang burung bersahutan, suara gemericik air dan lain-lain juga hadir. Lengkap. Tak kurang sedikit pun. Maka, terkadang, keindahan alam yang berhasil aku potret menggunakan pancaindra, bisa hadir di dalam mimpi. Mengulang kembali pengalaman yang pernah aku lalui.

Kamera ’’pancaindra’’ bikinan Tuhan ini sesungguhnya kamera super super super canggih yang tak pernah tertandingi apa pun dan siapa pun. Sebab, mata mampu mengindera keindahan jauh lebih detail dibandingkan kemampuan kamera tercanggih buatan manusia, meski juga memiliki keterbatasan melihat benda-benda kecil seperti kuman, bakteri, dan sejenisnya.

Mata terdiri atas otot mata, bola mata, saraf mata, dan alat tambahan mata yaitu alis, kelopak mata, dan bulu mata. Alis mata berfungsi melindungi mata dari keringat, kelopak mata melindungi mata dari benturan, dan bulu mata melindungi mata dari cahaya kuat, debu, dan kotoran.

Kornea mata berfungsi menerima rangsang cahaya dan meneruskannya ke bagian mata lebih dalam. Lensa mata berfungsi meneruskan dan memfokuskan cahaya agar bayangan benda jatuh ke lensa mata.

Iris berfungsi mengatur banyak sedikitnya cahaya masuk ke mata. Pupil berfungsi sebagai saluran masuknya cahaya. Retina berfungsi membentuk bayangan benda yang kemudian dikirim oleh saraf mata ke otak. Otot mata berfungsi mengatur gerakan bola mata. Dan, saraf mata berfungsi meneruskan rangsang cahaya dari retina ke otak.

Jadi, fungsi dan pembagian jelas dari organ-organ mata itu tidak akan membuat jepretan ngeblur atau kabur, kecuali jika bagian mata tak berfungsi baik.

Sehebat-hebatnya kamera, sejago-jagonya fotografer mampu mengombinasikan cahaya, sudut pengambilan gambar, kecepatan dan jenis lensa, tetap tak mampu melampaui hasil jepretan mata. Bidikan indra penglihatan makin dahsyat jika dikombinasikan bersamaan dengan indra pendengaran, indra penciuman, indra peraba, dan indra perasa.

Apalagi kemudian gambaran objek tadi ditafakkuri dan ditadabburi, direnungkan dan diambil pelajaran, lalu disimpan di pikiran dan hati, maka gambaran tadi tak kan terlupakan. Sebanyak apa pun gambar yang disimpan ke memori kita juga tidak akan overkuota.

Kelebihan lainnya, kamera ’’pancaindra’’ bisa menjepret tanpa jeda. Jika kamera canggih sekali jepret bisa menghasilkan hingga enam gambar, kamera bikinan Tuhan ini sekali jepret bisa menghasilkan gambar tak terbatas. Orang bijak mengatakan satu gambar mewakili seribu kata. Itu adalah gambar hasil jepretan kamera manusia. Kalau kamera ’’pancaindra’’, ia mampu menggambarkan dan mewakili berjuta kata.

Bahkan, seringkali aku tak bisa berkata-kata ketika hendak melukiskan keindahan alam terbentang di hadapanku, kecuali kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan pengagungan lainnya kepada Tuhan. Kosakataku juga terbatas ketika mendeskripsikan pesona Mahakarya-Nya melalui tulisan. Kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacanaku terlalu miskin untuk bisa menjelaskannya secara objektif.

Gambaran objektif yang mampu dipotret kamera ’’pancaindra’’ ini lah barangkali yang mengilhami metode blusukan pejabat kita. Dengan blusukan, pancaindra akan mampu memotret maksimal berbagai persoalan sosial, politik, budaya, dan ekonomi rakyat yang dipimpinnya. Bukan katanya atau laporan asal bapak senang. Sehingga, diharapkan, apa yang menjadi kebutuhan rakyat dapat dipenuhi dan apa yang membebani rakyat dapat diangkat. Selamat jeprat-jepret memakai kamera ’’pancaindra’’. (*)

~ by ariyanto on 7 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: