Maulid

Warga Selong makan bersama ''dulang-dulangan'' usai zikir memeringati Maulid 12 Rabiul Awal Nabi 1436 Hijriyah atau bertepatan dengan 3 Januari 2015.

Warga Selong makan bersama ”dulang-dulangan” usai zikir memeringati Maulid 12 Rabiul Awal Nabi 1436 Hijriyah atau bertepatan dengan 3 Januari 2015.

Perayaan Maulid bukan lah monopoli umat Islam. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, misalnya. Peristiwa hari kelahiran nabi Muhammad SAW itu juga menjadi kegembiraan penganut agama lain. Mereka turut merayakan sekadar untuk berbagi kebahagiaan dengan saudaranya, sekaligus merawat kebersamaan dalam keberagaman.

Di Ampenan, Kota Mataram, masyarakat merayakan dengan menggelar aneka lomba layaknya 17 Agustusan seperti panjat pinang. Nonmuslim pun ikut berpartisipasi. Bukan soal hadiahnya, melainkan spirit merawat kebersamaan dalam keberagamaan tadi.

Lain halnya dengan masyarakat Selong. Di ibu kota Lombok Timur ini ada tradisi ’’Dulang-dulangan’’ alias saling menyuapi. Mirip tradisi dulang-dulangan pengantin baru dalam tradisi masyarakat Jawa. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menjalin silaturahim sekaligus menambah keakraban di antara anggota masyarakat. Menariknya, penganut agama lain turut menyumbang untuk meramaikan tradisi ini. Sebaliknya, mereka mendapat bingkisan makanan yang diantarkan ke rumahnya.

Warga Desa Rempung, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, punya tradisi berbeda lagi. Mereka berkumpul memadati pusat desa dan menggelar pawai Kembuli. Kembuli berasal dari kata ’’Kembul’’ (berkumpul bersama-sama) dan ’’Li’’ (Kembali). Jadi, filosofinya, warga bisa bergembira ria bisa berkumpul kembali setelah lama tidak berkumpul.

Pawai Kembuli menampilkan beberapa miniatur yang identik dengan Islam. Ada masjid, Alquran raksasa, Musala dan sebagainya. Miniatur tersebut dihiasi beberapa lembar uang hasil tanam dan jajanan tradisional khas warga setempat, lalu diarak dengan cara dipikul ke setiap ruas jalan di desa. Warga sesekali meletakkan aneka jajan ke dalam miniatur ketika arakan berlangsung.

Aneka jenis perayaan maulid nabi di Lombok mengajarkan pentingnya kebersamaan dalam keberagaman sekaligus turut berbagi kebahagiaan, tanpa masuk ke wilayah iman dan akidah. Ketika sudah masuk ke wilayah ibadah seperti membaca Alquran, salawat, istighotsah dan ceramah sekitar akhlak Nabi yang perlu diteladani, tentu penganut agama lain tidak ikut di dalamnya. Di sinilah batas toleransi itu.

Maulid dirayakan di Indonesia setiap 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah atau jatuh pada 3 Januari 2015 pada penanggalan Masehi. Maulid merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Masyarakat Muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan salawat nabi, zikir, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Ini ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi terakhir ini.

Meski Nabi Muhammad tidak pernah merayakan Maulid dan tidak ada hadis sahih yang secara tekstual menganjurkan Maulid, para ulama fuqaha dan ahli hadis dari berbagai mazhab tetap menganggap baik dan menganjurkan perayaan Maulid Nabi SAW.

Bagi umat Islam, maulid Nabi Muhammad tidak hanya berhenti pada perayaan, melainkan berusaha meneladani keagungan akhlaknya dan melanjutkan misinya. Nabi Muhammad diutus untuk semua manusia, yang mempunyai misi memberikan rahmat bagi semesta alam, memberikan kedamaian dan keamanan bagi seluruh manusia. (*)

~ by ariyanto on 5 January 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: