Ibu

Ibu
Kalau Tuhan tidak menyelamatkanku, melalui tangan ibuku, aku sudah mati dari dulu. Mati sejak masih kelas 1 SD. Dua kali ibuku mengulurkan tangannya untuk menarikku dari lembah kematian.

Pertama, ketika kawan-kawan sepermainanku menenggelamkanku di sebuah sumur daerah persawahan di Surabaya timur. Kedua, kala terseret ombak Pantai Kenjeran Surabaya.

Ketika di sebuah sumur gali tanpa dinding, aku bersama lima kawanku, sedang berendam. Airnya hangat. Kala itu hujan deras. Entah kenapa tiba-tiba mereka berusaha menenggelamkanku. Kawanku usianya jauh di atas aku, kira-kira usia anak SMA.

Aku berusaha muncul ke permukaan, tapi kepalaku ditahan sekuat tenaga. Entah sudah berapa detik atau menit kepalaku dibenamkan. Yang jelas, kala itu waktu terasa berjalan amat lambat. Lambat sekali, sampai-sampai aku terus berpikir kapan penderitaan ini berakhir. Aku pun sempat minum air keruh bercampur lumpur itu beberapa kali.

Aku terus berusaha. Aku menendang ke sana-sini dengan mata terpejam. Beberapa tendanganku mengenai mereka, dan akhirnya kepalaku bisa menyembul dan menarik napas. Belum sempat berteriak minta tolong, tangan-tangan kekar mereka kembali membenamkan kepalaku. Teriak pun belum tentu ada orang mendengar, karena siang itu hujan deras sekali.

Aku kembali meminum air keruh bercampur lumpur beberapa teguk. Aku mulai lemas. Tendangan dan pukulanku melemah. Aku hanya bisa pasrah. Saat aku berserah diri itu, tiba-tiba kawan-kawanku melepaskan cengkeramannya. Ada apa?

Di tengah kepala kliyengan, aku mendengar ada suara: ’’Hei, koen apakno anakku (kamu apakan anakku?).’’

Ternyata, ibu datang dan memarahi mereka. ’’Iki yok opo se dulinan kok koyok ngene? (Ini kenapa sih bermain kok seperti ini?),’’ kata ibuku lagi. Kawan-kawanku itu hanya tunduk terdiam.

Tangan kanan ibuku lalu meraih tanganku lalu menariknya dari kubangan sumur. Tubuhku yang dingin dipeluknya erat-erat lalu dibawa pulang.

Peristiwa kedua ketika bermain di Pantai Kenjeran. Aku lupa pastinya. Tapi kira-kira masih kelas 1 SD juga. Sebenarnya aku sudah diperingatkan ibuku agar tidak berenang ke tengah. Tapi, aku diam-diam menyelinap dan ingin mencoba ke tengah. Ibuku tidak tahu karena di sekitarnya banyak orang.

Saat agak ke tengah, sekitar 15 meter dari bibir pantai, pasir yang aku injak tiba-tiba tersedot ombak. Aku jatuh, lalu terseret. Aku berusaha berdiri tapi tidak bisa. Pasir yang aku pijak ketarik ombak. Lalu, aku tergulung ombak. Makin lama aku makin terseret ke tengah. Mataku perih kena air laut. Aku juga sempat meminum air laut. Aku berusaha berenang, namun besarnya ombak membuatku terus terseret.

Di saat itulah ibuku datang dan menarik tanganku. ’’Aku bengak-bengok ojok nang tengah gak direken (aku sudah teriak-teriak jangan berenang ke tengah tidak dihiraukan),’’ kata ibuku sembari menarik lenganku menepi ke bibir pantai.

Alhamdulillah Ya Allah Engkau telah menyelamatkanku, melalui tangan ibuku.

Kini, tiada terasa, ibuku sudah jadi nenek. Sekarang punya 9 cucu dari keenam anaknya. Kulitnya sudah mengeriput. Rambutnya sudah memutih. Untuk melihat sudah harus pakai kacamata. Namun, kasih sayang kepada anak-anaknya tak terhingga sepanjang masa, seperti mentari yang tak pernah letih menyinari bumi, tanpa mengharap kembali.

Bulan lalu, selama dua minggu di rumahku, kasih dan perhatiannya tak berkurang sedikit pun. Perlakuannya kepadaku persis seperti yang dilakukannya ketika aku masih kecil. Ia pagi-pagi pergi ke pasar dan memasak makanan-makanan kesukaanku. Juga mengingatkanku menjaga keseimbangan antara bekerja, istirahat, olahraga, jalan-jalan, dan beribadah.

Ibuku, seperti dalam lirik lagu ’’Ibu’’ karya Iwan Fals, telah menempuh ribuan kilo jalan, lewati rintang untuk anaknya. Ibuku sayang masih terus berjalan. Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah.

’’…Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu…’’

Aku memang tak mampu membalas apa-apa Ibu, kecuali dengan berbakti kepadamu dan selalu mendoakanmu:

’’Ya Allah, ampunilah aku dan ampunilah kedua orangtuaku. Sayangilah keduanya, sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.’’ (*)

~ by ariyanto on 22 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: