KAHIYANG

 

DISOROT: Putri Jokowi saat wisuda, didampingi kedua orangtuanya. foto: indoberita.com

DISOROT: Putri Jokowi saat wisuda, didampingi kedua orangtuanya.
foto: indoberita.com

Susahnya jadi anak presiden. Apa yang dilakukan selalu disorot, dikomentari, dan bahkan dinyinyiri.

Barangkali, inilah yang akan dialami Kahiyang Ayu, Putri Presiden Joko Widodo. Ia telah mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Mendekati saat-saat pengumuman hasil seleksi, beredar rumor masyarakat Kota Solo dan sekitarnya bahwa Kahiyang akan diloloskan. Padahal, ini baru akan, masih belum diumumkan hehe….

Nah, nanti ketika benar-benar diumumkan, berbagai komentar akan bermunculan. Kalau pakai ’’kacamata’’ nyinyir, apapun hasilnya akan nyinyir. Lulus atau tidak tetap nyinyir.

Pertama, jika Kahiyang lolos seleksi. Masyarakat nanti mengatakan, ’’Pasti KKN’’, ’’La wong anaknya Presiden, masak gak diloloskan’’, ”Jelas saja lolos seleksi, mana berani tidak diluluskan.’’…

Deputi Bidang SDM Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Setiawan Wangsaatmaja sebelumnya sudah menegaskan bahwa kelulusan peserta tes CPNS harus mengacu pada Peraturan Menteri PAN-RB) No. 29/2014 tentang Nilai Ambang Batas Tes Kompetensi Dasar Seleksi CPNS Tahun 2014. Nilai Tes Karakteristik Pribadi (TKP) minimal 126, Nilai Tes Intelegensia Umum (TIU) minimal 75, dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) paling rendah 70.

Meski Deputi SDM Aparatur itu menegaskan putri pejabat bahkan putri Presiden tidak mendapatkan hak istimewa terkait kelulusannya, tetap saja masyarakat tidak percaya. Walaupun sang Deputi bersumpah sampai berbusa-busa mulutnya bahwa pihaknya tetap mengacu pada peraturan yang telah dibuat, tetap saja ada masyarakat yang bilang gini: ’’Ah, basa-basi lo!’’, ’’Pokoknya pasti curang!’’, atau nyinyir lainnya.

Kedua, jika Kahiyang tidak lolos seleksi. Masyarakat nanti mengatakan, ’’Masak anak Presiden bodoh’’, ’’Tes CPNS gitu aja kok gak lulus, ngisin-ngisini (memalukan)’’, ’’Ah, itu pencitraan Bapaknya saja, biar dikesankan tidak pandang bulu’’, dan lain-lain.

Seperti diketahui, Hasil Tes Kompetensi Dasar (TKD) Kahiyang dengan sistem Computer Assisted Test (CAT) nilai totalnya 300. Rinciannya, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) 50, Tes Intelegensi Umum (TIU) 95, dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) dengan nilai 155. Meskipun totalnya 300, tapi karena TWK tidak memenuhi standar yang ditetapkan, maka dia tidak lolos. Jika merujuk kepada standar ini, kemungkinan Kahiyang tidak diluluskan.

Sekali lagi, meski standar penilaiannya terukur, tetap saja akan ada yang bilang itu pencitraan Jokowi. Jokowi ingin dicitrakan sebagai Presiden yang menegakkan hukum, Presiden yang menegakkan kejujuran, Presiden tidak pandang bulu, Presiden yang tegas, dan sebagainya. Itu pasti sengajak dilakukan untuk menaikkan kembali popularitasnya yang mulai turun karena kebijakannya menaikkan harga BBM.

Nah, susah kan jadinya? Lulus tes CPNS salah. Tidak lulus tes CPNS juga salah. Terus, nanti seandainya benar tidak lulus dan memilih buka usaha sendiri, pasti nanti ada yang bilang,’’Halah pasti nanti minta ke Bapaknya diberikan kemudahan.’’ Atau kalau Kahiyang pilih membantu Bapaknya saja sebagai Presiden, pasti nanti juga dinyinyiri: ’’Anak kok jadi benalu’’, ’’Nggak punya malu”, ”Anak presiden kok pengangguran’’, dan sebagainya.
Singkat kata, mau berbuat apa saja akan dikomentari macam-macam.

Hal ini mengingatkan pada kisah bapak dan anak yang berpergian dengan menunggangi keledai. Di tengah perjalanan, sang anak naik keledai dan bapaknya berjalan di sampingnya. Orang-orang berkomentar: ’’Dasar anak gak tau diri! Gak hormat sama bapaknya. Anak durhaka. Gak pernah makan bangku sekolahan. Masa bapaknya disuruh jalan kaki”.

Perjalanan dilanjutkan kembali. Setelah mendengar komentar dari orang-orang itu, bapak-anak itu mengubah strategi. Sang Bapak yang menaiki keledai dan anaknya berjalan di sampingnya. Orang yang melihatnya lalu berkomentar begini: ’’Kok ada ya Bapak gak sayang anak. Masak anak dibiarkan jalan kaki?’’

Perjalanan berlanjut. Karena dikomentari terus, mereka berdua memutuskan menaiki keledainya bersama-sama. Orang-orang yang melihatnya berkomentar lagi:

’’Ohhh, dasar sama-sama gemblung. Bapak anak sama-sama tidak berperikebinatangan. Gak punya rasa kasihan sama hewan. Masak keledai kurus gitu dinaiki berdua yang beratnya segede gaban. Terlalu!’’
Karena salah lagi, maka bapak dan anak berjalan kaki sambil memegang tali keledainya yang juga berjalan tanpa dinaiki. Namun tetap saja ada orang yang berkata:

’’Wkwkwkwkwkwkwk…..Bapak dan anak kok sama-sama bodoh. Ditaruh di dengkul kali otaknya. Masa punya keledai malah dituntun?’’

Karena perjalanan sudah hampir sampai, bapak dan si anak menghindari komentar orang lalu gantian berdua menggotong keledai tersebut di punggung mereka.

Orang-orang yang kebetulan berpapasan pun geleng-geleng kepala tidak percaya. ’’Wong gendeng (gila). Dunyo kuwalek (dunia terbalik). Masa ada keledai menunggangi manusia.’’

Cerita ini mengajarkan bahwa apa pun yang kita lakukan, akan selalu ada komentar negatif.

Tidak usah terlalu dipedulikan orang semacam itu. Jika itu sudah terbaik menurut kita, membawa manfaat kepada kita, tidak merugikan orang lain, tidak berdosa, dan tidak melanggar hukum, jalan terus saja. Tak perlu juga menanggapi komentar miring itu.

Ada ungkapan dalam bahasa Arab yang patut direnungkan: ’’Lisaanul haal afshohu min lisaanil maqool’’ yang artinya ’’Berkarya berkarya dan berkarya lebih utama dari sekadar berbicara.’’ (*)

~ by ariyanto on 15 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: