BELAJAR

Belajar tentang teknik penulisan di emperan Taman Ismail Marzuki saat hujan jatuh pada dinihari.

Belajar tentang teknik penulisan di emperan Taman Ismail Marzuki saat hujan jatuh pada dinihari.

’’Aku akan belajar sampai mati,’’ begitu jawaban Sarah (Cornelia Agatha) dalam sinetron ’’Si Doel Anak Sekolahan’’ ketika ditanya sampai kapan kamu terus belajar.

Entah siapa yang bertanya, apakah Si Doel (Rano Karno) atau Zaenab (Maudy Koesnaedi). Pokoknya di antara kedua orang itu. Yang jelas bukan Mandra (Mandra), Atun, (Suti Karno), Karyo (Basuki), atau Pak Bendot (Bendot).

Jawaban Sarah ini mengingatkan pada sebuah kata hikmah yang banyak dikutip di ceramah-ceramah: ’’Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.” (uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi).

Belajar memang sepanjang hayat. Tidak mengenal kedaluwarsa. Andaikan ada batas berlakunya, expired-nya ketika roh telah berpisah dari jasad.
Belajar tidak mengenal usia, karena memang tidak ada kedaluwarsanya. Anak-anak, remaja, dewasa, hingga kakek-kakek. Bahkan, ketika bayi sebenarnya sudah proses belajar.

Belajar juga tidak kenal waktu. Bisa pagi, siang, sore, malam, atau dinihari. Lokasinya pun bisa di mana saja. Di rumah, kampus, tempat ibadah, pesantren, sekolah, kampus, pasar, taman, di gedung teater, di puncak gunung, atau di tepi pantai. Singkat kata, di mana pun boleh, asal tidak di tengah jalan, nanti bisa ’’pindah alamat’’.

Belajar juga bisa kepada siapa saja. Tak hanya kepada orangtua, kiai, guru, atau dosen. Tapi bisa pula belajar ke awan, angin, embun, pohon, air, tanah, bumi, matahari, planet, dan semua yang ada di Jagat Raya ini. Banyak pelajaran di sana jika kita mau berpikir.

Kita juga bisa belajar kepada anak, pembantu, bawahan, tukang parkir, tukang ojek, petani, pedagang, buruh, nelayan, dan bahkan belajar kepada koruptor sekalipun. Kepada anak kita bisa belajar tentang ketulusan, kepolosan, kejujuran, dan terpenting adalah orangtua bisa belajar tentang pentingnya memberikan keteladanan. Lantas, bagaimana dengan koruptor?

Tentu bukan belajar bagaimana menjadi koruptor sukses yang bisa lolos dari jerat KPK. Tapi bisa mengambil hikmah bahwa perbuatan itu sungguh menyengsarakan rakyat dan pelaku berikut keluarganya akan dipermalukan. Tentu saja masa depan mereka juga hancur. Dimiskinkan, dipenjara, dan dicabut hak politiknya.

Lalu, apa yang harus dipelajari?
Belajar tidak harus sesuatu yang kita cintai, melainkan mencintai semua yang kita pelajari. Belajar apa saja. Ilmu apa saja. Niatnya atas nama Tuhan dan cinta, sehingga apa yang kita pelajari mendapatkan keridaan. Juga bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Belajar, menurut kamusbahasaindonesia.org, adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Kedua, berlatih. Ketiga, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

Merujuk kepada definisi ini, belajar tidak hanya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, tapi bisa juga belajar dari sebuah pengalaman. Pengalaman adalah guru terbaik.

Kita bisa belajar kesuksesan dan kebahagiaan orang lain, bahkan kita juga bisa menimba ilmu dari kegagalan diri sendiri maupun orang lain. Belajar tentang kenapa bisa gagal serta bagaimana bisa bangkit dan sukses lagi.

Dengan ilmu yang kita dapatkan dari proses belajar tadi, maka derajat kita akan ditinggikan Tuhan beberapa derajat. Juga diharapkan bisa bermanfaat bagi kemajuan diri sendiri, keluarga, orang lain, kemakmuran negeri ini, dan juga kelestarian alam ini.

Kenapa orang berilmu akan ditinggikan derajatnya? Selain janji Tuhan, orang berilmu itu bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Mampu berbuat adil. Tidak zalim. Tidak menganiaya diri sendiri, dan juga orang lain.

Orang berilmu tidak akan mengulangi kesalahan serupa dan kegagalan yang sama.

Orang berilmu tidak akan makan dan minum melebihi dosis yang bisa mengganggu keseimbangan tubuh. Apalagi memasukkan zat berbahaya ke dalam tubuhnya, yang bisa membahayakan nyawanya.

Orang berilmu tidak akan berbuat dosa dan kejahatan yang dapat menghinakan dirinya.

Orang berilmu tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menyengsarakan dan mengancam jiwa orang lain.

Orang berilmu mampu mengenali dan mengendalikan dirinya.

Orang berilmu juga akan memuliakan dan mengagungkan Tuhan. Takut dan khawatir kepada-Nya. Cinta dan berharap kepada-Nya. Tawakal dan rida terhadap qadha’-Nya. Dan, sabar atas segala ujian-Nya.

Orang berilmu mengetahui apa saja yang Tuhan suka dan ridai, memahami apa saja yang dibenci dan dimurkai.

Itu sebabnya, orang berilmu bersegera menunaikan apa saja yang bisa mendatangkan cinta dan rida-Nya dan menjauhi apa saja yang bisa mendatangkan kebencian dan murka-Nya.

Inilah ilmu yang bermanfaat, yang kita diperintahkan untuk mengajarkan juga ke orang lain.

Apakah kita sudah belajar dan berilmu dalam arti sesungguhnya?
Sungguh, ternyata ilmu kita sangat sedikit, seperti air yang menempel di ujung jarum setelah jarum itu dicelupkan ke samudera luas. Buktinya kita masih tidak adil, masih mengulangi kesalahan serupa, masih suka berbuat dosa, masih sering tidak terkontrol emosinya, dan masih-masih lainnya.

Sungguh, ternyata aku malas belajar.
Sungguh, ternyata aku bodoh! (*)

~ by ariyanto on 15 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: