Perempuan

Cara memperlakukan tubuh perempuan merefleksikan tubuh sosial. Ketika tubuh perempuan diposisikan sebagai objek, apalagi subordinat, itu berarti budaya patriarkhis menguasai tubuh sosial.

Dalam dominasi ’’dunia laki-laki’’, perempuan tidak bisa setara dan merdeka atas tubuhnya sendiri. Posisinya selalu di bawah laki-laki dan terjajah. Tubuh perempuan juga bebas dieksploitasi dan dieksplorasi, demi memuaskan hasrat dan selera laki-laki.

Kuatnya hegemoni sosial dan budaya membuat perempuan tidak menyadari. Ia tidak sadar bahwa tubuhnya sedang dieksploitasi dan dieksplorasi. Ia justru menganggap bagian dari seni. Tindakan itu dinilai wajar sebagai konsekuensi logis pekerja seni. Pendapat semacam itu muncul karena kuasa seni telah menguasai pikiran perempuan, lalu lahirlah tubuh-tubuh perempuan yang didisiplinkan. Ia didisiplinkan oleh pemilik tubuhnya sendiri.

Kalau pun perempuan menyadari tubuhnya dieksploitasi dan dieksplorasi, ia tak punya kuasa atas tubuhnya sendiri. Kuasa yang ia miliki atas tubuhnya dikalahkan kuasa di luar dirinya bernama desakan atau tuntutan ekonomi. Tubuh perempuan benar-benar terperangkap dalam jaring-jaring kuasa ekonomi dan laki-laki.

Teknologi Pendisiplinan
Tubuh perempuan tak hanya dieksploitasi dan dieksplorasi, melainkan juga didisiplinkan. Teknologi pendisiplinan melalui beberapa cara.

Pertama, melalui peraturan perundang-undangan yang bias gender.  Menurut data Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan hingga November 2013, terdapat 342 peraturan daerah mendiskriminasi perempuan dalam kebijakannya. Di antaranya, aturan jam malam di Kota Tangerang (Banten) dan Kabupaten Bulukumba (Sulawesi Selatan). Jika ada perempuan yang gerak-geriknya mencurigakan di atas jam tersebut, dia dianggap pelacur. Contoh lainnya, aturan soal semua perempuan diwajibkan berjilbab tanpa terkecuali wanita nonmuslim. Ini pendisiplinan tubuh perempuan melalui pakaian.

Kedua, melalui kebijakan. Contoh terbaru adalah tes keperawanan untuk calon polisi wanita (polwan). Dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Kepala Divisi Hukum Polri Inspektur Jenderal Pol Moechgiyarto mengatakan bahwa tes tersebut untuk menjaga moral calon perwira kepolisian dan merupakan aturan internal kepolisian. Tes itu dilakukan berdasarkan Peraturan Kapolri No 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Pemeriksaan Kesehatan Penerimaan Calon Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pasal 36 menyebutkan calon anggota perwira perempuan harus menjalani pemeriksaan obstetrics dan gynecology (rahim dan genitalia).

Moralitas
Soal alasan tes keperawanan bagi calon polwan sebenarnya bisa dipahami: masalah moralitas. Bukankah agama melarang keras seks di luar nikah dan memasukkan ke dalam dosa besar? Namun, alasan seperti itu sulit diterima.

Pertama, masalah moral urusan individu. Negara tak berhak intervensi privasi seseorang, kecuali jika sudah masuk ranah pidana.

Kedua, moralitas tidak berbanding lurus dengan profesionalitas dan integritas.

Ketiga, masalah moralitas yang digaung-gaungkan bisa dinilai publik sebagai sesuatu yang paradoks dengan realitas di tubuh kepolisian. Polri masih didera persoalan korupsi seperti kasus simulator SIM, isu rekening gendut Polri dan tindak pidana lainnya. Keempat, diskriminatif. Kalau perempuan dites keperawanan, apakah laki-laki juga dites keperjakaannya?

Cara Berpikir Laki-Laki
’’Di dunia laki-laki’’ selama ini, dalam memperlakukan tubuh perempuan selalu menggunakan perspektif atau cara berpikir laki-laki. Tengok saja ketika terjadi pemerkosaan di angkot. Siapa disalahkan? Perempuan! Kenapa dia memakai busana yang mengundang syahwat laki-laki? Bahkan ada kepala daerah seolah turut menyalahkan perempuan dengan mengatakan perempuan harus mengenakan busana tertutup. Ini cara berpikir laki-laki. Melihat dari perspektif pelaku, bukan perspektif korban. Kenapa tidak disalahkan pemerkosanya?

Kekerasan verbal dan psikis yang dilakukan Negara akhirnya menular ke masyarakat. Lihat saja ketika perempuan terapis yang kerap mendapatkan kekerasan seksual. Apa yang dilakukan pengelola? Vaginanya digembok! Ini cara berpikir laki-laki. Kenapa bukan kelamin pelakunya yang digembok?

Sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer mengatakan, ’’Seorang terpelajar itu harus adil, sejak dalam pikiran! [Bumi Manusia]’’. Maka, untuk mengubah pola pikir yang mendiskriminasi tubuh perempuan, cara berpikir kita harus adil. Jangan melihat dari perspektif laki-laki atau pelaku, melainkan dari perspektif perempuan atau korban.

Di sinilah urgensi pernyataan Presiden Ke-7 RI Joko Widodo tentang perlunya revolusi mental atau mengubah paradigma. Gerakan ini jangan sekadar slogan, melainkan juga harus dilanjutkan para menterinya.

Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan seharusnya memproduksi dan mereproduksi wacana tentang perlindungan, pemberdayaan, dan penghormatan terhadap perempuan. Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan HAM juga harus benar-benar melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap para kepala daerah agar dalam membuat setiap peraturan dan kebijakan selalu ramah terhadap perempuan. Banyak sekali perda dan UU yang perlu diharmonisasi agar tidak diskriminatif terhadap perempuan.

Legislatif dan yudikatif juga harus melakukan hal sama. Kemudian, pemikiran berperspektif perempuan itu ditularkan bersama-sama ke masyarakat setelah Trias Politika mengawali dan memberikan keteladanan.

Untuk mengawali perubahan cara berpikir itu, sungguh menarik kita renungkan petikan syair lagu Iwan Fals berjudul ’’Manusia Setengah Dewa’’ ini:

Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau….

Berusaha memahami perempuan.

Berusaha memahami perempuan.

~ by ariyanto on 11 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: