KUKEJAR CINTA KE NEGERI CINA

Imam menyatakan cinta kepada Jia Li di Tembok Raksasa.

Imam menyatakan cinta kepada Jia Li di Tembok Raksasa.

’’Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina’’. Ungkapan yang dalam bahasa Arabnya berbunyi ’’Uthlubul ’ilma walau bishhiini’’ ini begitu populer. Hampir setiap umat Islam hafal ’’hadis’’ itu, meski hadis ini dinilai tidak jelas asal-usulnya. Perawinya laisa bi tsiqah alias tidak terpercaya. Tapi, kalau ada ungkapan ’’Kukejar Cinta ke Negeri Cina’’ yang dalam bahasa Arabnya berbunyi ’’Uthlubul hubba walau fi ardhi al shiini’’, barangkali baru kali ini kita mendengarnya.

Memang ungkapan kedua itu bukan hadis. Bukan pula ungkapan terkenal yang diajarkan di sekolah-sekolah. Apalagi di masjid atau pesantren. Sebab, itu hanyalah judul film bergenre religi, romantis, dan komedi yang diangkat dari novel laris dengan judul sama karya Ninit Yunita. Film 94 menit yang disutradarai Fajar Bustomi ini juga tidak terinspirasi dari hadis ’’Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina’’. Namun demikian, di film ini kita dapat mendapatkan dua hal sekaligus: cinta dan ilmu.

Film ini bercerita tentang Imam (Adipati Dolken), mahasiswa abadi, nyaris tidak melakukan kewajibannya sebagai muslim. Tidak pernah salat. Kekasihnya Widya (Nina Zatulini), adik kelasnya, sudah selesai kuliah dan kerja. Widya tidak sabar karena Imam belum juga lulus, sebaliknya Imam kecewa karena Widya kerap berpakaian seksi yang membuat mata lelaki enggan memalingkan pandangan.

Ketika Imam menemani sahabatnya Billy (Ernest Prakasa) ke kelenteng Sam Po Khong, dia berkenalan dengan Chen Jia Li (Eriska Rein), perempuan muslim dari Cina yang berlibur ke tempat leluhurnya di Kota Semarang, Jawa Tengah. Imam terpesona keramahan dan keanggunan Chen Jia Li yang berhijab. Jia Li bisa bahasa Indonesia, meski terbata-bata. Imam menawarkan diri untuk menjadi tour guide. Jia Li menerima dengan senang hati.

Kenyamanan yang dirasa Imam membuatnya betah bersama Jia Li. Imam memilih putus dengan Widya dan siap menyatakan cintanya ke Jia Li. Terlambat. Chen Jia Li sudah kembali ke Cina. Widya minta maaf dan berjanji memperbaiki sikapnya. Tapi Imam malah menyusul Jia Li ke Cina bersama Billy.
Sesampai di Beijing Imam bertekad melamar Jia Li. Namun, Imam kecewa mengetahui perempuan ayu berwajah oriental itu sedang dilamar Ma Fu Hsien (Mithu Nisar), pemilik padepokan Wing Chun dan pesantren di Beijing. Ma Fu Hsien mencintai Jia Li dengan niat karena Allah. Semata-mata ingin beribadah kepada-Nya. Tidak ada nawaitu lain, seperti untuk mendapatkan warisan, jabatan, atau hal-hal keduniawian yang fana.

Imam tidak menyerah. Dia mengikuti saran sahabatnya untuk “meminta” Jia Li dari tunangannya. Ma Fu Hsien tidak mau mempertahankan atau melepaskan Jia Li. Ia mempersilakan kepada Jia Li sebagai perempuan bebas untuk memutuskan sendiri pilihannya.

Ma Fu Hsien tampak tenang dan tawakkal atas semua yang akan terjadi. Dia meyakini bahwa Allah sudah mengatur semuanya, termasuk urusan jodoh manusia. Di Alquran disebutkan bahwa laki-laki saleh akan mendapatkan perempuan salehah. Begitu pula sebaliknya. Perempuan salehah akan menemukan laki-laki saleh. Sekufu alias seimbang.

Di sisi lain, Jia Li bimbang. Dia menyukai Imam. Tapi tidak ada alasan untuk tidak menerima Ma Fu Hsien. Ia pun salat istikharah (meminta petunjuk Allah). Bermunajat kepada Allah agar diberikan yang terbaik menurut-Nya. Sebagaimana Ma Fu Hsien, Jia Li juga mencintai karena Allah, bukan niat lainnya.

Di tengah penantian petunjuk dari Allah, Jia Li mengajak jalan-jalan Imam dan sahabatnya ke Tembok Raksasa (Great wall). Di salah satu tujuh keajaiban dunia itu, Imam menyatakan bahwa dirinya mencintai Jia Li. Itu sebabnya Imam mau berubah dan mengerjakan salat. Tapi, Jia Li masih belum memberikan keputusan.

Saat Imam berharap dan di tengah masa penantian, Widya menyusulnya ke Beijing. Widya memakai hijab. Widya berharap dengan menutup aurat, hati Imam tersentuh dan hubungannya dengan Imam kembali seperti dulu. Namun, perubahan berbusana itu sama sekali tidak mengubah pendirian Imam untuk mendapatkan cinta Jia Li.

Di tengah situasi cinta yang tidak pasti itu, Imam, Widya, Jia Li, dan Ma Fu Hsien jalan bareng keliling Beijing dan juga di kampung Ma Fu Hsien. Mereka menyerahkan takdir cintanya kepada Allah. Di kala jalan bareng itu, Ma Fu Hsien membagikan air mineral kepada tamu-tamunya dari Indonesia itu, dan juga kepada Jia Lie. Ketika air mineral itu diberikan kepada Jia Lie, keduanya terlibat adu pandang dan seperti ada percikan api cinta yang keluar dari sorot matanya. Imam yang melihat kejadian itu dibakar api cemburu hebat. Tak kuasa menahannya, Imam melampiaskannya dengan membanting botol air mineral dan pergi menjauh.

Jia Li menghampiri Imam dan menyatakan bahwa dirinya memilih Ma Fu Hsien. Pilihan cintanya itu semata-mata karena Allah, tidak ada yang lain. Mungkin setelah melihat perilaku Imam yang masih labil dan tidak terkendali tadi.

Hati Imam remuk redam. Jauh-jauh dari Jakarta ke Beijing untuk mengejar cinta Jia Li kandas. Widya menghampiri Imam dan menyatakan bahwa ia mencintainya. Widya mengatakan awalnya berhijab memang untuk Imam. Namun setelah mendapat pencerahan dari Jia Li bahwa segala sesuatu itu harus diniatkan untuk Allah, maka Widya pun memantabkan diri untuk tetap berhijab, meski Imam nantinya tetap menolak cintanya. Hati Imam tersentuh dan akhirnya menikahi Widya.
Kukejar Cinta ke Negeri Cina. Sesuai judulnya, cinta itu akhirnya didapatkan di sini. Ma Fu Hsien mendapatkan Jia Li, Imam mendapatkan Widya. Sama-sama dapat orang lokal. Cina ketemu Cina, Indonesia ketemu Indonesia. Bedanya, Imam bertemu jodohnya dengan orang lokal Indonesia di negeri Cina. Sedangkan Ma Fu Hsien bertemu jodohnya di negerinya sendiri.

Selain cinta, di negeri Cina ini kita juga mendapat ilmu penting.

Pertama, film ini mengajarkan tentang pentingnya menata niat. Sesungguhnya amal perbuatan manusia itu tergantung dari niatnya (innamal a’malu binniyyah). Kalau niat salat atau berhijab karena manusia, maka ia hanya mendapatkan itu. Allah tidak akan ridha. Tapi kalau amal perbuatan manusia itu niatnya baik, salatnya, ibadahnya, hidupnya, dan matinya hanya untuk Allah, maka ia akan mendapatkan keridhaan Allah. Bahwa kemudian ada benefit dari amal perbuatannya, itu hanyalahefek samping. Sama halnya dengan orang menanam padi efek sampingnya tumbuh rumput. Tapi kalau menanam rumput belum tentu tumbuh padi.

Kedua, film ini mengajarkan bahwa mencintai Allah adalah cinta tertinggi. Bukan berarti tidak boleh mencintai istri, anak, orangtua, kekuasaan atau kekayaan. Itu semua manusiawi. Namun, itu semua harus dibingkai dalam kecintaannya kepada Allah.

Jadi, siapa mau mengejar cinta ke negeri Cina? Ogah ah, mahal! Mending nyari satu kantor, irit BBM hahaha…(*)

~ by ariyanto on 10 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: