KESEIMBANGAN

Pohon di pinggir Ranu Kumbolo yang kehilangan keseimbangannya.

Pohon di pinggir Ranu Kumbolo yang kehilangan keseimbangannya.

’’Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS Al Mulk: 3).

Tuhan mengulang kalimat ’’kamu tidak akan melihat ciptaan Tuhan sesuatu yang tidak seimbang’’ hingga dua kali. Bahkan Dia juga menyuruh kita untuk melihat berulang-ulang (farji’il bashoro).

Repetisi kalimat ini ingin menegaskan bahwa tidak ada satu pun kekacauan dan ketidakseimbangan pada ciptaan-Nya. Semua berjalan teratur. Harmoni. Selaras. Serasi. Seimbang. Tidak ada keretakan. Ciptaan-Nya juga punya ukuran masing-masing dan berada di posisinya sendiri-sendiri.

Lihat saja di alam semesta atau jagat raya yang maha luas ini. Semua berjalan teratur. Jagat raya yang terdiri atas galaksi-galaksi atau sistem-sistem bintang yang jumlahnya ribuan ini tidak saling bertabrakan. Galaksi Bimasakti (galaksi di mana bumi berada), Galaksi Megellan, Galaksi Ursa Mayor, dan Galaksi Andromeda tetap di posisi masing-masing.

Begitupun dengan Tata Surya, sekelompok benda langit terdiri atas matahari sebagai pusat dan sumber cahaya yang dikelilingi planet-planet beserta satelit-satelitnya, asteroid (planetoid), komet dan meteor. Semua berjalan teratur. Tidak ada yang desersi. Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus bergerak patuh mengitari matahari sebagai pusat Tata Surya sesuai garis edar masing-masing(orbit). Selain berevolusi, planet-planet tersebut juga berputar pada sumbunya masing-masing (berotasi).

Satelit pun demikian. Benda langit yang mengorbit planet dan menggiring planet di dalam mengorbit matahari itu juga patuh. Bulan sebagai satelit bumi juga patuh berputar mengitari bumi (revolusi), berputar pada porosnya (rotasi), dan bersama-sama bumi mengitari matahari. Revolusi dan rotasi setiap planet ini punya periode tertentu.

Jika demikian adanya, mengapa benda-benda Tata Surya bisa menghancurkan bumi dan kehidupan di bumi seperti terjadi jutaan tahun lalu? Juga mengapa terjadi tanah longsor, banjir, kekeringan, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, badai, dan peristiwa alam lainnya yang biasa kita menyebutnya dengan bencana alam? Katanya berjalan teratur, harmoni, dan serasi, tapi mengapa terjadi kekacauan?

Pertama, Tuhan Maha Berkehendak (Iradah). Tinggal mengucapkan ’’Kun Fayakun’’, maka segala sesuatu itu akan mengikuti kehendaknya. Makhluk-makhluk Tuhan tadi hanya patuh saja melaksanakan sesuai kehendak-Nya.

Kedua, ketidakteraturan atau ketidakseimbangan di atas hanyalah kasus lokal dalam sistem alam semesta yang universal. Ketidakteraturan dan ketidakseimbangan parsial itu masih dalam lingkup keteraturan dan keseimbangan secara holistik. Sifatnya sementara, hingga pada akhirnya akan menemukan kembali keteraturan dan keseimbangannya sesuai sunnatullah atau ketentuan Tuhan. Tidak ada perubahan dalam sunnatullah itu, hingga akhirnya Tuhan nanti berkehendak bahwa semua ciptaan-Nya akan hancur, kecuali Dia (kiamat kubro).

Erupsi, tsunami, badai, gempa bumi, longsor, dan banjir itu tidak bisa dijadikan contoh bahwa alam tidak seimbang? Bukankah ketika terjadi peristiwa itu bumi tetap stabil? Tetap berotasi dan berevolusi bersama planet-planet lain? Peristiwa alam tadi bersifat sementara, karena ia nanti akan berhenti sendiri ketika menemukan titik keseimbangannya.

Ketidakseimbangan lokal Itu merupakan cara alam menyeimbangkan diri. Alam hanya menjalankan apa sudah menjadi sunnatullahnya tadi. Ibarat bandul yang bergerak ke kiri dan kanan hingga akhirnya menemukan keseimbangannya sendiri. Jadi, intinya bahwa semua ciptaan-Nya adalah seimbang.

Manusia patut belajar prinsip keteraturan dan keseimbangan alam semesta. Inilah ayat kauniyah yang seharusnya ditiru. Keseimbangan antara ruh dan raga, keseimbang antara akal dan hati, keseimbangan antara bekerja dan istirahat, keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi dan sebagainya. Ketika kehidupan kita ini tidak seimbang, maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan.

Misalnya, ketika kita bekerja tapi lupa istirahat, maka tubuh kita akan sakit. Berolahraga itu bagus. Menyehatkan. Namun, jika aktivitas fisik itu tidak diimbangi minum air putih cukup, maka metabolisme tubuh dapat terganggu karena kekurangan cairan atau dehidrasi. Menyebabkan aritmia atau ritme jantung tak beraturan dan sumbatan di pembuluh darah, baik di jantung maupun otak. Ginjal juga bekerja lebih keras. Jika dehidrasi sampai tingkat fatal, maka manusia bisa linglung, pingsan, dan bahkan meninggal.
Jadi, keseimbangan yang sudah menjadi fitrah manusia ini harus tetap dijaga. Ketika terjadi ketidakseimbangan, maka harus segera mengembalikannya kepada posisi seimbang. (*)

~ by ariyanto on 10 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: