DOSIS

Bergaya ala orang minum air mancur.

Bergaya ala orang minum air mancur.

Segala sesuatu ada dosisnya. Tak hanya soal obat, masalah sosial, politik, ekonomi, dan bahkan percintaan pun punya dosis masing-masing. Jika melebihi dosis atau overdosis, dampaknya bisa fatal. Dosas-dosis. Apa sih dosis itu?
Menurut kamusbahasaindonesia.org, dosis berarti takaran obat untuk sekali pakai baik dimakan, diminum, atau disuntikkan dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan dalam ilmu farmasi, dosis adalah takaran obat yang menimbulkan efek farmakologi (khasiat) yang tepat dan aman bila dikonsumsi pasien.
Itu sebabnya, di setiap obat terdapat pesan: ’’Bacalah aturan pakai. Jika sakit berlanjut hubungi dokter.’’ Kalau mengikuti petunjuk aturan pakai, penyakit pasien Insya Allah sembuh. Sebaliknya, jika takaran obat melebihi dosis maksimum alias overdosis, atau terjadi dosis toksik dan dosis letalis, maka bisa berakibat fatal. Kita bukannya sembuh malah ’’pindah alamat’’.
Dengan demikian, sebuah obat mengandung dua sisi sekaligus: obat dan racun. Jarak keduanya sangat tipis, setipis kulit bawang merah. Batasannya cuma dosis.
Dosis tak hanya terkait obat. Makanan dan minuman pun ada dosisnya. Minum air putih misalnya. Sebanyak 30 ml air per kilogram berat badan akan mencukupi kebutuhan normal orang dewasa sehat. Kira-kira sekitar 8 gelas atau 2 liter per hari. Jika dosis ini dipatuhi, maka minum air putih sangat bagus bagi kesehatan: membantu kelancaran pencernaan, mencegah kanker dan batu ginjal, menyehatkan jantung, menyembuhkan stroke dan sebagainya. Tapi, sekali lagi, dengan catatan minum sesuai dosis. Kalau seharusnya sehari minum delapan gelas ternyata minum satu gentong, bukannya sehat malah ’’tinggal nama’’.
Dosis masing-masing orang tentu tak sama. Cuaca, penyakit, usia, aktivitas fisik dan faktor lainnya sangat memengaruhi jumlah asupan air. Kebutuhan air bagi pelari tentu tidak sama dengan pecatur. Karena itu, ukuran paling mudah sebenarnya sesuai yang diajarkan Nabi Muhammad bahwa makan dan minumlah selagi lapar atau haus dan berhentilah sebelum kenyang. Tidak boleh makan dan minum secara berlebihan.
Di bidang politik pun ada dosisnya. Misalnya, Koalisi Merah Putih (KMP) yang menguasai Parlemen dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang duduk di Pemerintahan. Kedua kelompok ini harus bekerja sesuai takaran, aturan, atau dosis masing-masing. Jika aturannya bahwa Parlemen itu mempunyai tugas membuat legislasi, menyusun anggaran, dan pengawasan, jalankanlah itu sebaik-baiknya. Begitu pula eksekutif, bekerjalah sesuai aturan. Kalau KMP dan KIH sudah bekerja sesuai dosis, maka bangsa ini akan sehat. Yakinlah itu.
Sebaliknya, kalau ’’overdosis’’, Negara ini akan sakit. Lahir resistensi. Itu sudah terlihat ketika KMP menguasai parlemen, berikut pimpinan, ketua komisi, hingga alat kelengkapan dewan hingga KIH membuat ’’DPR tandingan’’. Untungnya masing-masing koalisi mengoreksi dosisnya sehingga tidak terjadi dosis toksik atau letalis yang membuat Negara ini lumpuh karena tiap kubu saling menyandera atau mengunci.
Kritik sebagai fungsi pengawasan ini seharusnya juga memperhatikan dosis atau aturan pakai. Kalau eksekutif tidak bekerja sesuai aturan, kritiklah. Tapi jika sudah berjalan sesuai rel, apresiasilah. Jangan lantas setiap kebijakan dan aksi pemerintah disalahkan. Semuanya tidak benar. Proporsionallah. Kritik sesuai dosis itu vitamin atau obat menyembuhkan. Namun kalau tidak sesuai dosis itu racun dan hanya menimbulkan resistensi. Jadi, kritiklah sesuai dosis.
Kebijakan menaikkan bahan bakar minyak (BBM) pun harus sesuai dosis. Jangan sampai pencabutan subsidi, penyesuaian harga, pengalihan subsidi, atau apa pun istilahnya ini overdosis yang membuat rakyat kecil menderita. Jangan hanya melihat dari perspektif pemerintah, melainkan juga perspektif rakyat kecil. Ukurannya mudahnya, jangan sampai pengeluaran rakyat yang diakibatkan kenaikan BBM ini lebih besar dari pendapatan yang diperoleh. Itu tidak menyehatkan.
Nah, terakhir, dampak overdosis ini juga tak kalah hebatnya, yaitu soal cinta. Jangan sampai kecintaan kita kepada suatu tokoh, idola, atau kekasih tidak sesuai takaran. Loh, kok ada takarannya segala, kayak beli beras atau minyak di warung saja?
Begini. Cinta itu harus proporsional. Jangan cinta buta. Kalau sudah cinta, cintaaaa sekali setengah mati dan bahkan rela mati demi sang pujaan hati. You jump we jump. We jump together. Begitu kata Jack kepada Rose yang akan meloncat ke laut dalam film Titanic.
Semua yang dilakukan tokoh atau sang idola pokoknya baik semua. Baik baik baik. Titik. Tidak ada cela sedikit pun. Cinta murni 100 persen, tidak disisakan satu persen pun untuk kritik. Kalah bensin murni 100 persen hahaha…Sebaliknya, kalau kita membenci seseorang, bencinya minta ampun. Benci sebenci-bencinya. Semua yang dilakukan pokoknya buruk buruk buruk. Titik! Tidak disisakan satu persen pun kebaikan dalam dirinya.
Jika kita menganut cinta model begini, kita bakal sakit ketika orang yang kita cintai secara buta itu ternyata tidak sesempurna yang kita idealkan. Seperti sakitnya ketika mendengar kabar artis cantik dan manis Revalina S Temat telah bertunangan via Instagram pada 30 November lalu. Sakit…sakit….sakitnya tuh di sini….hiks hiks. (*)

~ by ariyanto on 10 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: