BLUSUKAN

Jokowi menyempatkan diri blusukan di pasar Youtefa, Abepura, (5/4). foto: Ismail/Cenderawasih Pos

Jokowi menyempatkan diri blusukan di pasar Youtefa, Abepura, (5/4).
foto: Ismail/Cenderawasih Pos

Kata blusukan telah menyeruak memenuhi ruang-ruang wacana publik. Kata yang dalam bahasa Jawa berarti memasuki tempat asing untuk mendapatkan sesuatu ini begitu terkenal dan familiar di indera dengar.

Kata blusukan sama terkenalnya dengan kata ’’sesuatu’’ yang dipopulerkan artis cantik Syahrini atau kata ’’konspirasi kemakmuran’’ yang digunakan Vicky Prasetyo saat jumpa pers menjelang pernikahannya–yang akhirnya batal–dengan penyanyi dangdut Zaskia Gotic.

Bedanya, kata blusukan ala Jokowi ini terkenal dalam arti baik atau memiliki konotasi positif. Disukai banyak orang. Kalau dalam bahasa Inggris itu disebut popular atau famous. Kalau kata ’’sesuatu’’ terkenal dalam arti umum (well known), bisa baik dan buruk. Sedangkan kata-kata Vicky seperti ’’konspirasi kemakmuran’’, ’’labil ekonomi’’, ’’kontroversi hati’’ dan lain-lain itu memiliki konotasi negatif (notorious). Kata-kata ala Vickynisasi yang banyak ditirukan orang itu hanya dimaksudkan untuk mengolok-olok.

Namun, kata blusukan tak hanya populer atau mempunyai konotasi positif. Tapi juga punya ’’daya magis’’ yang menghipnotis dan menggerakkan banyak orang untuk melakukan hal serupa. Sangat inspiratif. Buktinya, kepala daerah lainnya ramai-ramai melakukan gaya blusukan ala Jokowi. Ketika gaya blusukan ini berhasil mengantarkan Jokowi menjadi RI-1, ’’ritual’’ itu tetap dilakukan, dengan area lebih luas tentunya. Para menterinya juga melakukan hal sama. Masyarakat pun ikut menggunakan istilah itu bahkan ada yang menjadikannya sebagai nama program acara televisi, di antaranya The Blusukan yang menggunakan mobil The Blusukan di mana artis Raffi Ahmad ada di dalamnya.
Kenapa kata blusukan begitu ’’bertenaga’’? Bukankah kata ini sudah bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa sejak dulu kala?

Perluasan Makna
Kata blusukan yang biasa dipakai masyarakat Jawa mengalami perluasan makna di masa Jokowi ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta atau ketika menjadi Presiden Ke-7 Republik Indonesia. Kata blusukan tak hanya dimaknai melakukan aktivitas keluar masuk tempat asing, baru, atau tersembunyi, tapi lebih luas dari itu. Bisa keluar masuk terminal, pelabuhan, bandara, stasiun, pasar, kampung, selokan, hutan dan sebagainya.

Bisa pula dimaknai gaya kepemimpinan prorakyat dan simbol kegiatan prorakyat. Ke lapangan untuk mengetahui keadaan atau kebutuhan masyarakat secara langsung dari tangan pertama. Selain itu, menyerap aspirasi atau mengevaluasi penerapan program apakah sudah tepat sasaran dan berhasil guna atau belum.

Makna blusukan meluas lagi ketika ada blusukan digital (e-blusukan). Hal itulah yang dilakukan Jokowi usai dilantik menjadi Presiden. Jokowi e-blusukan dengan masyarakat dari berbagai daerah seperti di Sumatera, Kalimantan, Maluku, Papua, dan Bali di Istana Negara.
Jika blusukan dimaknai seperti itu, apa bedanya dengan inspeksi mendadak (sidak), turun ke bawah (turba) atau semacamnya? Terus, apa bedanya pula e-blusukan dengan teleconference?

Bedanya terletak pada upaya mendekonstruksi sidak dan turba seremonial atau formalitas. Diganti menjadi blusukan yang lebih bermakna positif: niat baik, ketulusan, penuh spirit, optimisme, keberanian, dan solutif. Ada revolusi mental di dalam kata blusukan itu sendiri. Revolusi mental seorang pemimpin yang sebelumnya dilayani menjadi melayani, yang sebelumnya minta didengarkan menjadi mendengarkan ,yang sebelumnya sangat birokratis dan kaku menjadi cair.

Sebagian besar rakyat suka dan nyaman gaya ini. Rakyat sudah bosan dengan arogansi kepemimpinan di Indonesia. Menjaga jarak dan lebih sering duduk di kursi empuk di ruang ber-AC. Hanya memikirkan dan memperkaya keluarga, golongan atau partainya serta menggarong uang negara.

Bahasa dan Kekuasaan
Bahasa merupakan kekuasaan (language is power) dan bahasa selalu dijadikan instrumen kekuasaan. Dalam konteks sosial, budaya, politik, ekonomi dan keamanan bahasa dipergunakan untuk harmonisasi, mengontrol, mengendalikan, dan bahkan memanipulasi masyarakat melalui eufemisme atau kramanisasi bahasa. Contohnya, harga dinaikkan diubah menjadi harga disesuaikan, penggusuran diganti menjadi penertiban, ditangkap menjadi diamankan atau dimintai keterangan, atau miskin dan fakir ’’dimanipulasi’’ dengan penyebutan keluarga prasejahera satu, prasejahtera dua, dan prasejahtera tiga.

Namun, penggunaan kata blusukan tampaknya jauh dari konotasi negatif itu. Ia tidak dimaksudkan untuk mengontrol, mengendalikan, hegemoni , represi, dan manipulasi melainkan untuk mengevaluasi budaya dan mengisinya dengan nilai-nilai baru yang dianggap lebih baik.
Masih ingat ketika Presiden Jokowi blusukan ke lokasi erupsi Gunung Sinabung pada 29 Oktober lalu? Di sana dia mendapatkan informasi bahwa izin pinjam pakai kawasan hutan untuk jalan akses ke area relokasi korban erupsi ternyata belum dikeluarkan Menteri Kehutanan yang sudah diajukan ke Menteri Kehutanan sekitar dua tahun lalu.

Jokowi kemudian menelepon Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan DR Ir Siti Nurbaya Bakar MSc dan menginstruksikan agar izin dikeluarkan sesegera mungkin, tidak boleh lebih dari dua hari. Instruksi itu direspons sangat cepat oleh menteri yang sudah 30 tahun lebih menjadi birokrat ini. Hanya dalam beberapa jam, izin itu dikeluarkan pada Rabu malam (29 Oktober 2014) dan surat itu langsung dikirim ke Bupati Karo. Dan, untuk memastikan semua itu sudah berjalan, menteri yang juga mantan Sekjen Depdagri dan Sekjen DPD RI itu juga blusukan ke sana.

Setelah itu, Jokowi dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga melakukan blusukan asap di sejumlah daerah rawan kebakaran hutan. Hasilnya? Semoga tumbuhlah kelestarian hutan.

Makrifat Bahasa
Dengan demikian, secara semantik dan semiotik, teks blusukan dalam konteks kekinian benar-benar punya makna dan arti simbol berbeda. Kata blusukan ini akhirnya menjadi kata yang lebih sakral dan berkasta tinggi dari kata-kata sidak dan turba.

Dalam istilah linguistik, perubahan makna kata yang nilai rasanya lebih tinggi daripada asalnya disebut ameliorasi. Contoh: wanita. Kata asalnya perempuan lebih rendah, tetapi makna baru, wanita, lebih tinggi daripada perempuan. Tapi sekarang kata perempuan nilai rasanya lebih tinggi daripada asalnya, sehingga nama kementerian atau lembaga pun menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau Komnas Perempuan.

Namun, kata blusukan ini bisa mengalami perubahan makna kata yang nilainya lebih rendah daripada turba dan sidak jika blusukan tidak membawa perubahan lebih baik atau justru lebih buruk. Makna blusukan menjadi peyoratif jika idealitas di dalam kata blusukan mengambil jarak dengan realitas, seperti kata ’’wanita’’ yang akhirnya ditinggalkan dan beralih ke kata ’’perempuan’’ lagi.

Di tengah kenaikan harga BBM yang diikuti kenaikan barang komoditas, blusukan di tengah-tengah masyarakat, khususnya warga kelas menengah dan bawah, maka akan mendapat gambaran objektif tentang realitas sesungguhnya bahwa masyarakat cukup tertekan dengan kebijakan itu. Apalagi kemudian akan diikuti kebijakan menaikkan harga tiket kereta api dan tarif dasar listrik pada bulan depan. Itu benar-benar akan sangat memukul.

Seandainya, usai ’’blusukan BBM’’, pemerintah akan merevisi, mengevaluasi, atau meninjau kembali kebijakannya, maka kata blusukan akan benar-benar menempati maqom tertinggi makrifat bahasa.

Karena itu, jika ingin kata blusukan tetap sakral, tidak profan, dan tetap bertengger di kasta tertinggi atau makrifat bahasa, maka nilai-nilai positif, ’’ideologi’’, revolusi mental, atau apa pun sebutannya, harus tetap dijaga marwahnya dengan cara terus berkarya, berkarya, dan berkarya demi kesejahteraan rakyat. (*)

~ by ariyanto on 10 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: