PROFESOR KEHIDUPAN

Ridwan. Bapakku.
Namanya singkat. Hanya satu kata. Tidak ada embel-embel gelar di depan dan di belakang namanya. Gelar Honoris Causa atau Gelar Kehormatan pun tidak ada. Kalau mau dipasang, satu-satunya ’’gelar’’ hanya Haji.

Ya, wajar tak punya gelar, karena memang tak lulus kuliah. Lebih tepatnya tak pernah kuliah. Jangankan kuliah, SMA saja tidak pernah. Jangankan SMA, SMP saja tidak pernah. Jangankan SMP, SD saja juga tidak pernah. Hah, SD saja tidak pernah?

’’Aku pancen gak tau mangan bangku sekolahan (aku memang tidak pernah makan bangku sekolah),’’ kata Bapakku lalu tertawa.
Tak pernah sekolah bukan berarti tidak cerdas, tidak pandai. Keinginan menuntut ilmu itu sebenarnya sangat bergelora. Tapi karena kondisi ekonomi keluarga kala itu sangat fakir, terpaksa keinginan menimba ilmu itu dikubur dalam-dalam.
’’Kok digawe sekolah, digawe mangan ae gak ono (Kok uangnya dipakai sekolah, dipakai makan saja tidak ada),’’ kenang Bapakku.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ridwan kecil bekerja mencari rumput (ngasak). Keliling dari desa ke desa di Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tempat kelahirannya. Rumput itu untuk makanan sapi atau kambing. Binatang ternak itu bukan miliknya sendiri, melainkan milik orang lain. Dari situlah dia mendapat upah dari jerih payahnya.

Pekerjaan sangat berat itu dijalani dengan ikhlas. Tak pernah mengeluh. Tak pernah menyalahkan keadaan. Apalagi mengutuknya. Buat apa itu dilakukan? Toh tak mengubah apa-apa. Bahkan energi negatif itu akan memperburuk keadaan. Jadi, disyukuri saja.
’’Dinikmati ae. Enak, duwe cerito (Dinikmati saja. Enak, punya cerita),’’ kata Bapakku enteng.

Namun, bersyukur itu bukan berarti pasrah saja menerima keadaan, melainkan berikhtiar mengubah serba kekurangan menjadi ketercukupan. Tidak perlu kaya raya. Cukup saja. Itu sudah sangat menenteramkan jiwa. Iya, cukup buat beli rumah, cukup untuk beli mobil, cukup untuk jalan-jalan, cukup untuk kuliah anak-anak hahaha….

Akhirnya, Ridwan remaja hijrah ke Surabaya. Di ibu kota Jawa Timur ini Ridwan banting tulang, peras keringat siang malam untuk mengubah nasib, hingga bertemu jodohnya juga di sini. Alfiyah, istrinya, berasal dari kecamatan yang sama di Jombang sana. Hanya beda desa. Ridwan dari Desa Pojok. Alfiyah dari Desa Curahmalang.
Pekerjaan pertama jadi buruh. Dari satu ke toko lain. Dari satu ke tempat lain. Kontrakan pun ikut berpindah-pindah.

Singkat cerita, setelah nikah dan dikaruniai anak, pikirannya lebih terbuka. Karena tak mungkin jadi buruh terus menerus. Lagi pula kurang dan kurang nyaman. Disuruh ini itu. Tidak merdeka.
Maka, Ridwan memutuskan berwiraswasta. Dari mana uangnya? Ya, pinjam sana sini. Yang pasti bukan pinjam dari bank, karena tak punya agunan sama sekali.

Ridwan bikin usaha manisan. Mangga yang diiris-iris kecil seperti pensil. Diberi rasa lalu dimasukkan ke plastik. Makanan itu dijual keliling menggunakan gerobak dari kampung ke kampung, dari sekolah ke sekolah. Kalau ngetem di sekolahku, SDN Ploso VI, aku bantu menjajakan dagangannya. Aku promosikan ke teman-temanku dan guru-guruku. Mereka tergiur. Kalau jam istirahat, teman-temanku beli manisan. Guruku juga minta dibelikan.

Bapakku kemudian bikin beberapa gerobak manisan dan mempekerjakan beberapa orang untuk menjadi penjual keliling. Tapi usaha ini akhirnya sepi setelah banyak orang mengikuti jejaknya.

Bapakku beralih jualan buah keliling pakai gerobak. Buah yang sudah dikupas. Ada Pepaya, Nanas, Mangga, Bengkoang, Semangka, Melon, Jeruk, Manggis, dan lain-lain. Dikombinasi Tahu Petis. Bagian bawah gerobak diisi buah-buahan yang belum dikupas. Gerobak itu diisi penuh. Berat sekali. Aku pernah mencoba mendorongnya, tapi tak kuat. Gerobak itu didorong hingga berkilo-kilo jauhnya. Berangkat sore pulang dinihari.

Ketika usaha ini banyak diikuti, Bapakku beralih ke jualan roti keliling. Kali ini tidak didorong, tapi diangkut menggunakan sepeda motor. Usaha ini pun bangkrut setelah diterpa isu roti beracun.

Bapakku tak patah semangat, meski sudah jatuh berkali-kali. Bapakku beralih jualan pentolan di Pasar Simo. Ibukku juga membantu jualan pentolan. Di pasar juga. Tapi di Pasar Keling. Berangkatnya pukul 02.00. Jadi, pukul 01.00 kami sudah bangun. Aku turut membantu segala persiapannya. Waktu itu aku sekitar kelas VI SD. Adikku sudah tiga orang. Aku bertugas jaga rumah dan jaga adik-adikku.

Cukup lama usaha ini menopang ekonomi keluarga. Keuntungannya cukup lumayan, hingga para tetangga mengikuti usaha ini. Tetangga satu sukses, tetangga lainnya mengikuti jejaknya. Sampai gang di daerahku itu disebut sebagai ’’Gang Pentol’’. Bapakku sendiri dipanggil ’’Pak Pentol’’. Sedangkan aku dijuluki ’’Anak Pentol’’. Bapakku gembira usaha ini menginspirasi banyak orang.

Suatu ketika merebak isu pentol berformalin dan mengandung boraks. Usaha ini pun langsung sepi beberapa bulan dan akhirnya bangkrut. Ini sudah kesekian kalinya bangkrut. Lalu beralih ke jualan bawah putih, dan terakhir jualan frozen food seperti Tempura, Sosis, Chicken Nugget, Cireng dan sebagainya.

Usaha terakhir ini makin berkembang hingga sekarang. Punya beberapa sub agen di Surabaya. Di antara sub agen itu saudara-saudaranya dan juga beberapa anaknya. Dua adikku yang Sarjana Ekonomi juga memilih usaha ini. Ia ogah bekerja di perusahaan. Adikku yang nomor tiga malah tidak ingin kuliah. Buat apa kuliah kalau ujung-ujungnya mencari lapangan pekerjaan? Dia pun memilih buat usaha sendiri. Adikku nomor empat yang lulusan Ilmu Kebidanan juga lebih memilih membantu usaha kedua orangtua.

Kini, sesekali Bapakku mengikuti rapat dengan para CEO di Jakarta dengan gelar SE atau mungkin MBA. Pakai jas dan dasi. Menginap di hotel berbintang. Tak menyangka.

Bapakku memang tak pernah sekolah, SD sekali pun. Namun, bukan berarti dia tidak pernah belajar. Belajar tidak harus formal, tapi bisa juga informal. Belajarnya di kampus kehidupan. Ujiannya bukan menyelesaikan rumus-rumus rumit, tapi menghadapi ujian-ujian konkret berupa keterbatasan akses dan permodalan. Juga kebangkrutan demi kebangkrutan yang menguji optimisme dan mental entrepreneurship-nya. Ujian yang mungkin tidak didapatkan di sekolah formal. Dan, bagi yang lulus, gelarnya adalah ’’Profesor Kehidupan’’.

Namun demikian, Bapakku tetap berpesan ke anak-anaknya agar kuliah setinggi-tingginya. Sebab, kuliah itu akan membentuk pola pikir seseorang. Nilai-nilai ’’seharusnya’’ yang diajarkan di pendidikan formal itu akan menjadi pegangan ketika mengarungi realitas ’’senyatanya’’ di masyarakat.

ridwan

’’Belajaro sak dukur-dukure. Cekelen agomo sak kuat-kuate. Wong nek nduwe loro iku bakal didukurno derajate. (Belajarlah setinggi-tingginya. Peganglah agama sekuat-kuatnya. Orang yang punya keduanya itu akan ditinggikan derajatnya,’’ begitu pesan Bapakku kepada anak-anaknya. (*)

~ by ariyanto on 7 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: