MAKANAN PALING AUWWENAK

Makan Pop Mie sembari menanti fajar di Puncak Anjani, Rinjani.

Makan Pop Mie sembari menanti fajar di Puncak Anjani, Rinjani.

Hampir semua restoran di hotel bintang lima ibu kota pernah aku singgahi. Hotel berkelas dengan fasilitas mewah itu umumnya tersebar di segitiga emas Jalan Sudirman-Thamrin, Kuningan, dan Gatot Subroto. Sebut saja Hotel Shangri-La, Mulia, The Sultan, Le Meridien, Sheraton Media, Intercon MidPlaza, Crown Plaza, Borobudur, dan Gran Melia.

Aku bersyukur bisa menyantap hidangan bercita rasa yang menggugah selera di restoran ternama. Aku bisa menikmati itu bukan karena tajir atau anak orang kaya. Itu semua karena kebetulan.

Kebetulan pertama karena profesiku mendukung itu. Sepuluh tahun lalu, ketika mengampu rubrik kuliner di sebuah harian, hampir tiap hari diundang makan di restoran-restoran terkemuka dan diminta menjadi food taster (pencicip makanan).

Kebetulan kedua, aku punya teman-teman baik yang sering mentraktir. Tanpa kebetulan-kebetulan itu, makan di restoran mewah tampaknya sulit terwujud. Harganya itu loh yang bikin nggak kuku hahaha…..Terkadang sekali makan saja bisa berjuta-juta rupiah. Kalau ingat-ingat harganya, perut yang sudah kenyang mendadak lapar lagi. Itu sebabnya, rasa-rasanya, belum pernah makan di restoran berbintang dengan duit sendiri hehehe….

Bisa makan di restoran bergengsi dengan harga supermahal adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Tempatnya nyaman. Pelayanannya bagus. Dan, tentu saja, menunya uenak tenan. Uenak itu satu tingkat di atas enak. Terus, kalau di atas uenak apa? Memang masih ada lagi di atas itu?

Loh, ada lagi. Satu tingkat di atas uenak itu auwwenak. Ini tingkatan tertinggi. Makanan apakah itu?
Jenis makanannya bisa apa saja. Bisa nasi Liwet plus telor ceplok, nasi Liwet plus tahu rebus, nasi Liwet plus ikan asin dan Teri, nasi Liwet plus kerupuk, apa sajalah. Nasi Liwet dipasangkan apa saja tetap auwwenak. Bahkan istilahnya nasi ditaburi garam juga asyik. Tidak harus nasi. Mau roti, singkong, jagung, atau apa pun okelah. Indomie, Supermie, Pop Mie atau merek apa pun tak masalah. Semuanya mak nyossss. Kok gitu?

Ya, kenyataannya gitu. Mau gimana lagi hehehe…Tapi ada syaratnya: makannya harus di gunung!

Bagiku, makan di gunung itu nikmatnya tak terkira. Auwwenake pollll! Kadang aku suka merenung sendiri kenapa ya makan di sana begitu mak nyosss? Jawabannya karena kita sehat dan senang.

Orang mendaki itu kan psikologinya sedang bahagia. Baru mendengar nama gunung dan merencanakan naik gunung saja sudah menyenangkan. Apalagi kalau sudah proses pendakian, lebih hepi lagi. Kita bisa cuci paru-paru dengan menghirup udara segar, cuci mata dengan menyaksikan pemandangan yang indah-indah, cuci telinga dengan mendengarkan suara-suara alam, dan cuci hidung dengan menciumi bunga-bunga seperti Lavender dan Edelweis. Tidak ada polusi udara yang menyesakkan dada, tidak ada polusi visual yang bikin sepet mata, tidak ada polusi suara yang bikin bising telinga, dan tidak ada bau busuk yang menusuk hidung.

Bagiku, mentadabburi (mengambil pelajaran) dan mentafakkuri (merenungi) alam juga membawa kebahagiaan tersendiri.
Tak hanya itu. Canda tawa, bersosialisasi, berkenalan dengan teman-teman baru, mendengarkan cerita-cerita seru, dan tidur bersama-sama dalam satu tenda beralaskan matras juga sangat menyenangkan.

Nah, ketika kita senang, puas, dan bahagia maka tubuh kita akan mengeluarkan hormon endorphin dan mempengaruhi hypothalamus. Nafsu makan meningkat, sistem imunitas tubuh menguat, rasa nyeri berkurang, tidur lebih nyenyak, tidak stres dan lain-lain.

Menurut Dr Indra K Muhtadi, kerja endorphin tidak bisa dilepaskan dari sebuah neurotransmitter yang dinamakan serotonin. Serotonin ini mempengaruhi sebagian besar bagian dan fungsi otak seperti nafsu makan, belajar, memori, mood, dan perilaku sosial.

Mendaki itu mengasyikkan. Menanjak hingga puluhan kilo jauhnya selama berjam-jam dan bahkan berhari-hari dengan carrier di atas pundak yang cukup berat. Aktivitas ini juga meningkatkan produksi endorphin. Olah raga dalam dosis tinggi, memberikan efek endorphin keluar dalam jumlah tinggi juga dan dapat membawa seseorang dalam kondisi euphoria dan amat sangat bahagia. Bahkan sampai beberapa jam setelah berolah raga.

Dalam kondisi berkeringat dan capek seperti ini, nafsu makan dan minum akan sangat bergelora dan nauwikmate poll! Apalagi makannya pas di puncak gunung setelah bersusah payah mencapainya, sambil menunggu detik-detik sunrise, kenikmatannya sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata. Aku pernah makan Pop Mie di Puncak Rinjani saja rasanya seperti ’’sakaw’’.

Sarapan di tepi Segara Anakan usai mandi pagi.

Sarapan di tepi Segara Anakan usai mandi pagi.

Nafsu makan juga akan muncul berkali-kali lipat setelah mandi di sungai atau danau di gunung. Biasanya setelah mandi atau berenang perut kita kan lapar. Nah, saat itulah ’’birahi’’ perut memuncak dan meronta-ronta ingin segera dipuaskan hahaha….apa saja yang disantap akan nikmat. Kita akan nambah makannya. Percaya deh. Apalagi makannya menghadap ke danau dan diiringi musikalisasi alam. Wauwwww…

Di sini kita juga tidak terikat aturan table manner atau tata cara makan secara resmi. Diawali makanan pembuka dulu (appetizer), lalu makanan utama (main course), kemudian di akhiri dengan menu penutup (dessert). Cara makannya pun bebas. Boleh pakai tangan alias molok, boleh dengan bersila, bisa dengan jongkok. Gaya apa saja. Merdeka. Mau makan bersuara boleh, mau makan gaya ’’pencitraan’’ juga silakan. Mau dikunyah 32 kali monggo, mau langsung ditelan juga terserah hahaha…Tidak ada protokolernya. Ini juga sebuah kenikmatan tersendiri.

Kuncinya memang sehat dan bahagia. Dalam kondisi seperti ini, makan apa saja dan di mana saja akan terasa nikmat. Sebaliknya, kalau sedang sakit dan sedih, menyantap menu paling auwwenak di restoran paling wow sekali pun akan terasa pahit.

Tapi, ada satu yang patut diwaspadai dari melimpahnya hormon endorphin ini. Gairah seksual Anda akan meningkat berkali-kali lipat karena terjadi pelepasan hormon seks cukup banyak. Jadi, setelah pendakian, pastikan istri Anda tidak sedang ’’kedatangan tamu’’. (*)

~ by ariyanto on 7 December 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: