Membayangkan Srintil

Salah satu aksi Srintil di film Sang Penari.

Salah satu aksi Srintil di film Sang Penari.

Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982) adalah salah satu novel favoritku. Disebut trilogi karena novel ini ada tiga judul: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jantera Bianglala.
Novel karya Ahmad Tohari itu aku khatamkan pada 1996 dalam waktu tiga hari. Benar-benar tuntas dan penuh penghayatan. Aku hafal betul karakter tokohnya, alur ceritanya, hingga latar fisik dan sosialnya. Aku terpikat pada cara Tohari menuliskannya, terutama ketika mendeskripsikan sesuatu. Detail sekali. Menjelang tidur, aku suka berimaginasi tentang sosok Srintil. Perempuan cantik yang menjadi ronggeng.
Itu sebabnya, ketika novel itu diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari pada 10 November 2011, aku tak ingin melewatkan. Seperti apa sih versi film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah ini? Apakah visualisasinya bisa mewakili isi novel? Apakah juga bahasa gambar bisa mendeskripsikan sedetail dalam bahasa tulis? Siapa pemeran Srintil? Apakah dia secantik Srintil seperti dalam imaginasiku? Bisakah dia menari ala Srintil? Dan, pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkecamuk di dada.
Film yang dibintangi Prisia Nasution (Srintil) dan Oka Antara (Rasus) sebagai pemeran utama ini menceritakan kisah cinta tragis seorang pemuda desa, Rasus, dengan seorang penari ronggeng baru di desa kecilnya, Srintil. Desa bernama Dukuh Paruk, Banyumas, Jawa Tengah, itu dirundung kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan di Indonesia tahun 1960-an yang penuh gejolak politik.
Srintil dan Rasus sama-sama yatim piatu. Teman sangat dekat sejak kecil. Srintil ronggeng besar. Rasus tentara. Kepopuleran Srintil membuat Rasus tidak senang. Sebab, menjadi ronggeng berarti bukan hanya dipilih warga Dukuh untuk menari, namun juga “milik umum”. Harus melayani banyak lelaki hidung belang di atas ranjang setelah menari. Setelah keberhasilan Srintil menari di makam Ki Secamenggala, Srintil harus menjalani ritual terakhir sebelum dia benar-benar bisa menjadi ronggeng yang disebut Bukak Klambu. Keperawanannya akan dijual kepada penawar tertinggi. Hal ini makin mengecewakan Rasus. Srintil mengatakan dia akan memberikan keperawanannya ke Rasus dan pada hari Bukak Klambu mereka berhubungan seks di sebuah kandang kambing. Malam itu juga, Srintil berhubungan seks dengan dua “penawar tertinggi” lainnya dan menjadi ronggeng sejati.

Novel karya Ahmad Tohari berjudul Ronggeng Dukuh Paruk yang diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari.

Novel karya Ahmad Tohari berjudul Ronggeng Dukuh Paruk yang diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari.

Hancur hatinya, Rasus memutuskan untuk pergi dari Dukuh Paruk, meninggalkan Srintil yang patah hati. Dia kemudian bergabung dengan sebuah batalyon TNI. Singkat cerita, sepuluh tahun kemudian, Rasus berpapasan dengan penari kumal mirip Srintil dan seorang penabuh kendhang buta mirip Sakum di Desa Dawuan. Rasus memberikan pusaka ronggeng Dukuh Paruk kepada penari tersebut, dan penari tersebut berlalu meninggalkannya. Rasus tersenyum, menandakan dia mengenali penari tersebut sebagai cintanya, Srintil. Film diakhiri dengan sang penari kumal dan si pemusik buta yang menari dan menghilang di cakrawala. Mirip tragedi Shakespeare. Bahkan ini lebih hebat. Srintil memang tidak mati, tapi dia kehilangan kewarasannya.
Ketika menonton film ini, aku kok merasa tidak bisa hadir di cerita dan berada di tengah-tengah kehidupan para tokoh di novel itu. Ikut sedih ketika Dukuh Paruk dilanda tragedi keracunan tempe bongkrek, ikut tegang ketika desa itu ditimpa tragedi politik, ikut gembira ketika orang-orang menari dan meniduri sang penari, dan ikut cemburu ketika Rasus sebagai orang pertama yang merenggut keperawanan Srintil hehehe…..
Sosok Srintil sendiri apa yang ada di imaginasiku berbeda dengan di film. Prisia, pemeran Srintil, menurutku tak mempunya chemistry untuk menjadi ronggeng. Bukan berarti akting Prisia itu buruk. Sekali lagi bukan berarti buruk. Aku termasuk mengidolakan Prisia. Dia termasuk salah satu aktris favoritku. Dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2011, Prisia sendiri mendapat penghargaan sebagai aktris terbaik.
Tapi aku sangat menyadari bahwa ini hanyalah subjektivitasku dalam melihat sosok Srintil. Aku tak boleh kecewa berlebihan. Bukankah di poster film tertulis terinspirasi dari novel trilogi RONGGENG DUKUH PARUK karya Ahmad Tohari? Namanya juga inspirasi. Tentu tak sepenuhnya film ini memindahkan teks ke visual. Aku tak berhak memaksakan kehendak imajinasiku hadir. Apalagi terpuaskan.
Aku juga tak boleh menghakimi atas sejumlah interpretasi yang dilakukan Ifa, Salman Aristo, dan Shanty Harmayn. Aku tak boleh memonopoli tafsir. Tak boleh memonopoli imaginasi. Masing-masing orang berhak memiliki tafsir dan imaginasi. Dan, tak boleh aku memaksakan kehendak bahwa imaginasiku paling benar.
Bukankah teks itu multitafsir? Bukankah kebenaran itu tidak singular? Apalagi ini sebuah transformasi karya sastra. Seorang transformer bebas menafsirkan, termasuk kita para penonton pun bebas menafsirkan. Bukankah ketika karya sastra, termasuk film, ketika dilempar ke publik sudah menjadi milik publik?
Maka, biarkan sang transformer menafsirkan Srintil seperti dalam sosok Srintil yang diperankan Prisia Nasution. Sebab, aku pun punya tafsir dan imaginasi sendiri mengenai sosok Srintil, yang aku rawat di pikiran dan hatiku hingga kini. Tapi, bukan imaginasi tentang si Rasus…(*)

~ by ariyanto on 16 October 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: