Habibie Rasa Jawa

Novel Habibie & Ainun yang diangkat ke layar lebar.

Novel Habibie & Ainun yang diangkat ke layar lebar.

Film Habibie & Ainun yang disutradarai Faozan Rizal berhasil meraup 4 juta penonton dalam 40 hari pemutarannya di bioskop. Tepatnya, selama tayang pada Desember 2012, film yang diadaptasi dari novel dengan judul sama itu ditonton 4.488.889 orang. Inilah film terlaris sepanjang sejarah film Indonesia. Satu tingkat di bawah film Laskar Pelangi (2008) yang disaksikan 4.631.841 orang. Hanya terpaut 142.951 penonton.
Wajar film ini diminati. Film yang diangkat dari kehidupan tokoh nasional. Presiden Ke-3 RI. Tokoh nyaris sempurna. Beriman dan bertakwa. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Bapak yang baik bagi anak-anaknya dan suami yang setia.
Dari segi karakter tokoh juga menarik. Habibie rajin belajar, cerdas, pekerja keras, tapi juga keras kepala. Habibie yang kuat, tegar, pejuang, rasional, sekaligus ’’rapuh’’. Dan, Habibie yang bijaksana, nasionalis, namun juga humoris dan romantis.
Reza Rahadian mampu memerankan sosok Habibie ini dengan sangat apik. Gaya dan cara bicaranya mirip sekali. Juga menjiwai sekali. Dialah peniru gaya mantan presiden paling mirip, sebagaimana fasihnya Butet menirukan gaya mantan Presiden Soeharto.
Namun, bukan hanya ketokohan yang menjadi kekuatan film ini. Kisah-kisah humanis di dalamnya juga menjadi daya tarik tersendiri. Di antara paling menyentuh adalah ketika suami Ainun itu memutuskan pulang berjalan kaki dari stasiun bus. Gara-garanya tak punya duit. Rasanya seperti disayat sembilu melihat sosok secerdas dan sejenius, perantau pula, berjalan di tengah hujan salju. Pakai sepatu butut dan berlubang pula. Setibanya di rumah, istrinya melihat telapak kaki belahan jiwanya itu terluka. Ckckck….
Bagiku, setting fisik dan sosial di Jerman juga makin membuat film ini menarik. Aku serasa diajak berpetualang ke sana. Sebuah negara maju. Modern. Disiplin dan teratur. Sambil membayangkan kapan Indonesia bisa semaju Jerman dalam hal kemajuan, kemodernan, kedisiplinan dan keteraturan ini.
’’Namamu Habermas, seorang filsuf terkemuka, juga berasal dari Jerman ini Nak. Belajar yang rajin ya supaya dapat beasiswa ke Jerman,’’ aku menasihati anak pertamaku yang bernama Muhammad Habermas, yang sesungguhnya nasihat itu aku tujukan kepada diriku sendiri.
Habibie sendiri mengaku puas dengan film ini. Namun demikian, pria kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 ini sempat mengkritik adegan pertemuannya dengan Ainun di dalam rumah Ainun. Sebab, hal itu tidak mirip dengan kejadian aslinya.
Habibie masuk ke dalam rumah Ainun dengan pelan. Dia terpana ketika melihat sosok Ainun yang diperankan Bunga Citra Lestari. Saat itu Ainun menjahit baju dan langsung berdiri begitu melihat Habibie datang. Habibie yang terpaku dengan kecantikan Ainun malah mengucapkan kalimat pelan, ”Cantiknyaa…gula Jawa menjadi gula pasir.”
“That’s not Habibie, Habibie not like that,” kata Habibie kepada Tempo dengan tertawa keras di kediamannya di Patra Kuningan, Jakarta, Rabu, 16 Januari 2013.
Habibie melanjutkan, “Kalau saya enggak takut-takut begitu. Saya masuk langsung teriak haloo..haloooo… Lalu, saya mendengar ada suara mesin jahit dan menuju ke situ. Ternyata Ainun. Saya langsung teriak Hey Ainun, cantik kamu yaaa…,” kata Habibie dengan semangat dan tawa berderai. “That is Habibie,” kata ayah dua anak dan enam cucu ini.
Rencananya, film yang menceritakan perjalanan hidup dan romansa Habibie dan Ainun yang telah terjalin selama 48 tahun 10 hari (12 Mei 1962-22 Mei 2010) ini akan dibuatkan sekuel. Namun, Habibie belum menunjuk produser yang akan membuat sekuel film Habibie & Ainun tersebut. ’’Kalau dengan ini (Punjabi) saya kontrak 1 film saja. Untuk selanjutnya masih dibicarakan,” kata ayah 2 anak dan 6 cucu ini kepada Tempo.
Siapa pun nanti yang memproduksi film ini harus benar-benar menampilkan sosok Habibie yang otentik. Asli. Apa adanya. Jangan sampai Habibie rasa Jawa seperti di film sebelumnya. Jangan sampai gula pasir menjadi gula jawa, atau sebaliknya, gula jawa menjadi gula pasir. (*)

~ by ariyanto on 16 October 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: