Film Ukuran Jumbo

Salah satu adegan di film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Salah satu adegan di film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Ibarat porsi makanan, film ’’Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’’ versi ’extended’ ini ukuran super jumbo. Jika sebelumnya film garapan PT. Soraya Intercine Films ini berdurasi 155 menit, sang sutradara kini menambahkan durasi 45 menit. Totalnya menjadi 3 jam 20 menit. Menariknya, meski porsi super gede, harga tetap sama. Rasa juga tetap menggugah selera. Bahkan, ada beberapa menu tambahan bercita rasa tinggi yang tidak terdapat pada masa rilis awalnya pada 19 Desember 2013 lalu. Penonton pun ingin melahapnya hingga habis.
Film yang diproduseri Sunil Soraya ini bercerita mengenai Zainuddin (Herjunot Ali). Pemuda asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang pergi ke tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Padang Panjang, Sumatera Barat. Tujuannya merantau dan membuka tali silaturahmi dengan keluarga besarnya. Di Ranah Minang inilah Zainuddin jatuh cinta dengan Hayati (Pevita Pearce). Gadis cantik jelita, bunga di persukuannya.
Namun, kuatnya adat istiadat menggulingkan cinta suci mereka. Zainuddin hanya seorang melarat tak berbangsa, sementara ’’Rangkayo’’ Hayati perempuan Minang keturunan bangsawan. Lamaran Zainuddin ditolak keluarga Hayati. Hayati dipaksa menikah dengan Aziz (Reza Rahadian). Laki-laki kaya berbangsa. Perkawinan harta dan kecantikan mematahkan cinta suci anak manusia.
Zainuddin pun memutuskan untuk berjuang. Merantau ke tanah Jawa demi bangkit melawan keterpurukan cintanya. Dia bekerja keras membuka lembaran baru hidupnya. Sampai akhirnya ia menjadi penulis terkenal dengan karya-karya masyhur dan diterima masyarakat seluruh Nusantara.
Namun kenyataan kembali datang kepada diri seorang Zainuddin di tengah gelimang harta dan kemasyhurannya. Dalam sebuah pertunjukan opera dia bertemu Hayati dan suaminya. Perkawinan harta dan kecantikan bertemu dengan cinta suci yang tak lekang waktu. Pada akhirnya kisah cinta Zainuddin dan Hayati menemui ujian terberatnya, dalam sebuah tragedi pelayaran kapal Van Der Wijck. Hayati meninggal. Cinta sucinya karam bersama kapal Van Der Wijck.
Cerita di film ini tak mudah ditebak. Film ini tidak menggunakan alur tradisional. Kisah awalnya landai, kemudian konflik, dan terakhir resolusi. Seperti biasa dijumpai di film-filmnya Rhoma Irama. Akhir cerita selalu ada resolusi konflik. Selalu berakhir manis (happy ending).
Ketika Zainuddin bertemu Hayati di opera, misalnya. Aku pikir suami Hayati, Aziz, menceraikan istrinya yang ternyata masih mencintai Zainuddin. Ternyata tidak. Aziz ’’mengembalikan’’ istrinya ke Zainuddin dan Aziz memilih menyudahi hidup di dunia.
Nah, ketika Hayati menyatakan bahwa dirinya masih mencintai Zainuddin, aku pikir Zainuddin langsung membuka tangan dan memberikan dada bidangnya untuk tempat bersandar kekasihnya itu. Di luar dugaan, penuh dengan dendam dan amarah, Zainuddin justru meminta Hayati pulang kampung ke Padang Panjang. Disuruh naik kapal laut seorang diri.
Nonton film yang diadaptasi dari novel karya Buya Hamka ini aku serasa dibawa terbang ke era 30-an. Dengan latar fisik dan sosial budaya Padang Panjang yang sangat indah, alami, dan tradisional. Termasuk model busana, rumah, dan mobil kuno ala Belanda.
Bahkan, kapal Van Der Wijck berhasil dijaga keotentikan visualnya. Eksterior dan interiornya persis dengan kapal Van Der Wijck asli yang pernah berlayar dan tenggelam di lepas pantai Nusantara pada 1930-an. Luar biasa.
Tak hanya itu. Penonton juga diajak merasakan ’’sensasi’’ komunikasi percintaan saat itu yang masih menggunakan surat menyurat, yang kalau baca surat dari sang kekasih jantung rasanya dag dig dug sembari membayangkan wajahnya hahaha…
Film ini juga berisi kritik sosial budaya yang hedonis materialistis. Yaitu, budaya yang melihat seseorang itu bukan dari hati dan akhlak, melainkan dari kebangsawanan dan keturunannya.
Selain itu, film ini sangat inspiratif. Mengajarkan tentang nilai-nilai cinta, kemanusiaan, kerja keras, dan bangkit dari keterpurukan. Dua kali tokoh utama ini jatuh terpuruk, dua kali pula dia bangkit. Jatuh pertama ketika Zainuddin terusir dari Padang Panjang, meninggalkan kekasih pujaan hati yang sudah janji sehidup semati dan ternyata memilih laki-laki lain. Kedua, jatuh terpuruk ketika gadis yang dicintainya itu meninggal. Namun, Zainuddin berhasil bangkit. Dan, ’’menghidupkan’’ Hayati dalam bentuknya yang lain: mendirikan Yayasan Yatim Piatu HAYATI.
Dari awal hingga akhir, cerita film ini memang seru dan menarik. Karakter tokoh-tokohnya sangat kuat. Bahasa Bugis dan Minang cukup kental. Itu sebabnya, film terpanjang di Indonesia ini tak menjemukan. Ya, aku sebut terpanjang karena belum pernah aku menonton film nasional dengan durasi 3 jam 20 menit. Sebelumnya ada sih film panjang dan juga diadaptasi dari novel, yaitu film Ketika Cinta Bertasbih dan 99 Cahaya di Langit Eropa. Namun, kedua film itu ditayangkan dalam dua seri. Satu seri sekitar 1,5 jam.
Karena itu, jangan lewatkan film paket jumbo ini. film penuh ketegangan. Kejutan. Humanis. Romantis. Emosional. Mengaduk-aduk perasaan. Tak terasa, air mata pun meleleh. Sama ketika menonton film-film India seperti Kuch-Kuch Hota Hai, Mann, Kabhi Khushi Kabhie Gham, dan Mohabbatein hehehe…….Jadi, kalau menonton, jangan lupa bawa sapu tangan. Atau kalau tak mau ketahuan menangis, siapkan saja tisu yang dilipat kecil. (*)

~ by ariyanto on 16 October 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: