Batu Gong dan Suara-Suara

1

Jangan coba-coba datang sendiri ke Pantai Batu Gong. Sebab, pantai ini punya ’’daya magis’’ kuat. Begitu memasuki kawasan pantai di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, ini akan terdengar sayup-sayup suara gong. Padahal, di pantai yang berjarak sekitar 17 km utara Kota Kendari ini sama sekali tidak terdapat gong. Pemukul gongnya juga tidak ada. Nah lo!?

2
Ini bukan cerita mistik. Suara sayup-sayup itu diduga dari gugusan karang di selatan pantai Batu Gong atau dikenal juga Pantai Teluk Gong. Tapi ada pula yang meyakini dari kuatnya hempasan deburan ombak ke dinding tebing pantai. Hempasan itu menghasilkan suara mirip gong. Mana yang benar?

3
Aku tak ingin bahas hal-hal itu. Sebab, pengalamanku berbicara lain. Berada di pantai yang menghadap langsung ke Laut Banda ini menjelang senja, aku justru mendengar suara aneh lain. Seperti suara teriakan satu desa. Suara itu bersahutan dari sepanjang bibir pantai. Ada suara ibu-ibu, anak-anak, bapak-bapak nelayan.

4
Tangan-tangan perkasa Gugusan Pegunungan Nipanipa menarik-narik tanganku cukup kuat. Aku mengikuti saja ajakan itu. Semakin mendekat, suara-suara itu semakin jelas. Oh, ternyata nelayan di Desa Tomba Watu, Kecamatan Kapoyala, ini sedang menjaring ikan secara kolosal.

5
Jaring besar itu sebelumnya ditarik ke tengah laut menggunakan tali tampar. Lalu dibentangkan ke kiri dan kanan. Nah, beberapa menit kemudian, tali itu ditarik rame-rame dari bibir pantai. Sedikit demi sedikit hingga ikan-ikan terseret ke pinggir.

7
Mereka memang menjaring ikan tiap hari. Pagi dan sore. Bahkan satu sore itu sampai menjaring tiga kali karena musim ombak. Pada musim ini biasanya banyak ikan. Sekali menjaring bisa dapat ikan lebih dari 10 keranjang besar. Satu keranjang dijual Rp 80 ribu. Kalau bantu menarik jala juga dapat satu keranjang ikan.

11
’’Ikan-ikan ini dimakan sendiri sama warga desa. Kami tiap hari makan ikan. Kadang dibakar, digoreng, dipanggang, diasap dan lain-lain,’’ cerita Bu Sartini kepadaku.
’’Wah, orang-orang di sini pasti cerdas-cerdas karena makan ikan segar kaya protein. Kalau di sini ikan mati sekali lalu dimakan, nah di Jakarta kita makan ikan yang sudah mati tujuh kali (sudah tidak segar),’’ candaku. Bu Sartini pun tertawa.

13
Aku sungguh terkesan dengan kebersamaan mereka. Spirit mereka mencari rizki juga luar biasa. Dan, tentu saja daya juang dan keberanian mereka. Sifat yang biasa melekat pada diri nelayan. Sifat yang biasa aku saksikan pada nelayan-nelayan di Pantai Kenjeran, tak jauh dari tempat tinggalku di Surabaya.

12
Pantai Gong ini juga menyediakan beberapa fasilitas dan sarana untuk para pengunjung. Di antaranya penginapan , hotel , restoran, toilet , tempat parkir luas, dan beberapa kios kecil yang menjual berbagai macam suvenir.
Kita bisa beli ikan segar dari nelayan dan dapat dibakar langsung lalu disantap beramai-ramai bersama orang terkasih. Kita bisa gelar tikar di sini sembari menyantap ikan bakar sekaligus menikmati udara pantai. Makin serasa lengkap tentunya jika minumnya kelapa muda.

14
Pantai Gong sendiri aksesnya cukup mudah. Bila menggunakan kendaraan pribadi dari Kota Kendari, perjalanan sekitar 60 menit dengan kecepatan rata-rata 70-80 kilometer per jam. Pemandangannya indah karena melewati perbukitan hijau nan menawan.

9
So,datanglah ke sini bersama orang-orang terkasih. Menikmati keindahan alam sekaligus menyaksikan kearifan lokal nelayan. (*)

~ by ariyanto on 16 October 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: