SBY dan Fir’aun

Tega! Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kok disejajarkan dengan Fir’aun? Fir’aun itu penguasa Mesir yang zalim. Sangat arogan. Pembunuh bayi laki-laki. Gila kekuasaan. Bahkan, menganggap dirinya Tuhan.
Maaf! Sekali lagi maaf! Saya tak bermaksud menyamakan Presiden Republik Indonesia yang dipilih rakyat secara langsung itu dengan Raja Fir’aun. Sama sekali tidak. SBY itu dipilih secara demokratis. Dicintai sebagian besar rakyatnya. Buktinya dipercaya memimpin negara berpenduduk 237.641.326 jiwa (Data BPS 2010) selama dua periode (2004-2009 dan 2009-2014). SBY juga tak pernah memerintahkan untuk membunuh bayi. Apalagi menganggap dirinya Tuhan. Lantas, kenapa menyandingkan SBY dengan Fir’aun?

DSC09546
Keduanya memang sama-sama pemimpin tertinggi. Sama-sama orang nomor satu di negaranya. Namun bukan itu alasan utama menyandingkan keduanya. Saya hanya ingin menunjukkan sebuah paradoks. SBY, Presiden dua periode, dihujat habis-habisan, dicaci dan dimaki di luar batas kemanusiaan, hanya karena partai yang dipimpinnya walk out saat voting RUU Pilkada. Cuma gara-gara mekanisme pilkada. Pilkada itu ibarat hubungan suami-istri, terserah suami ’mendatangi’ istri dengan cara apa (asal dengan cara makruf, baik). Begitu pula sebaliknya. Terserah istri ’mendatangi’ dengan cara apa. Datangilah ’’ladang’’ mu itu dengan cara apa pun yang kamu suka. Itu hanya cara. Sesuai kesepakatan saja. Substansinya kan menjalankan ibadah yang nikmat hahaha….
Masak gara-gara mekanisme seorang kepala Negara dan kepala pemerintahan tidak ada harganya sama sekali? Dari berbagai umpatan itu seolah-olah jasa-jasa SBY selama 10 tahun sirna. Kemarau sepanjang tahun dihapus hujan sehari. Nila setitik, rusak susu sebelanga.
SBY mengaku kelimpungan ’’dihajar’’ di media sosial pasca sidang paripurna DPR terkait UU Pilkada. Dalam akun Youtube pribadinya yang diunggah Kamis malam, 2 Oktober 2014, SBY beranggapan bahwa hujatan dan makian tersebut sangat berlebihan. “Saya, bahkan istri, keluarga, teman-teman saya sedih waktu itu, karena hujatan atau cacian-cacian itu kasar sekali, melebihi tatakrama dan kepatutan dalam hubungan di antara sesama manusia. Begitu luar biasa,” kata SBY.
SBY menyatakan kekecewaannya terhadap publik yang menuding dirinya ikut bertanggung jawab dengan penetapan sistem pilkada tidak langsung tersebut. Dia menilai, tudingan-tudingan negatif tersebut salah sasaran. Sebab, sejak awal, pihaknya dalam kapasitas sebagai Presiden maupun Ketua Umum Demokrat, menginginkan sistem pilkada langsung dengan sejumlah perbaikan besar yang mendasar. “Tidak pernah, tapi seolah-olah kami yang menginginkan seperti itu (pilkada tak langsung). Kan salah alamat,” ujarnya.
Bandingkan dengan Fir’aun. Nabi Musa saja yang diutus Allah untuk meluruskan sikap dan perbuatan Fir’aun yang melampaui batas tidak menggunakan bahasa sarkastis. Ditemani saudaranya, Nabi Harun, Musa menggunakan bahasa-bahasa santun dan cerdas. Mengutamakan dialog dan diplomasi yang cantik. Qoulan layyinan.
“Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Firaun, karena dia benar-benar telah melampui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepada Fir’aun dengan kata-kata lemah lembut,mudah-mudahan dia sadar dan takut.” (QS Thoha: 43-44)
’’Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk” (QS Thoha: 47)
’’Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.’’ (QS Thoha: 48)
Berkata Fir’aun: ’’Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?’’ (QS Thoha: 49)
Musa berkata: ’’Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’’ (QS Thoha: 50)
Berkata Fir’aun: “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?” (QS Thoha: 51)
Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.’’ (QS Thoha: 52)
Kisah Fir’aun dan Musa ini bukan dongeng, tapi ada pelajaran (ibrah) di dalamnya. (QS Yusuf: 111). Allah saja memerintahkan kepada Musa dan Harun menggunakan bahasa santun kepada Fir’aun, masak kita kepada SBY (bukan Fir’aun) menggunakan bahasa-bahasa sarkastik.
Kini, SBY telah menerbitkan dua perppu. Perppu pertama, Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota. Perppu tersebut sekaligus mencabut UU No 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota yang mengatur pemilihan kepala daerah secara tidak langsung oleh DPRD. Sebagai konsekuensi dari penetapan Perppu Pilkada secara langsung tersebut, maka untuk menghilangkan ketidakpastian hukum di masyarakat, SBY juga menerbitkan Perppu Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang isinya menghapus tugas dan wewenang DPRD untuk memilih Kepala Daerah.
Setelah ditanda tanganinya dua perppu ini, di media sosial yang tadinya memaki-maki SBY berubah menjadi memuji SBY. Ucapan terima kasih banyak mewarnai media sosial, meski ada juga menganggapnya itu pencitraan.
Karena itu, mulai detik ini, kalau mau selfie atau foto bareng, jangan mengucapkan kata ’’cheese’’ atau ’’tempeee’’ untuk menampilkan ’senyum Pepsodent’. Tapi, ucapkanlah ’’Terima kasih eSBeYeeee…!’’ (*)

~ by ariyanto on 15 October 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: