Kapan Nikah Zahrana?

Kapan nikah? Kapan nih undang-undang? Nunggu apa lagi nggak nikah-nikah? Ayo buruan nikah! Perawan tua luh!…
Kata-kata ini kerap terlontar ketika melihat perempuan sudah memasuki kepala tiga tapi tak kunjung nikah. Bagi sebagian perempuan di Indonesia, hal itu terasa menyakitkan. Bikin jengah. Membosankan.

Zahrana yang diminta ayahnya segera menikah dalam film ''Cinta Suci Zahrana''.

Zahrana yang diminta ayahnya segera menikah dalam film ”Cinta Suci Zahrana”.

Perempuan-perempuan itu sekaligus ingin berontak: ’’Kenapa sih pada protes kalau perempuan nikah tua? Mau nikah sekarang atau nanti kan suka-suka gue? Nggak nikah juga suka-suka gue. Coba kalau ada laki-laki berkepala tiga, ganteng, dan berprestasi tapi belum nikah, pernah nggak kita katain perjaka tua?’’
Tekanan tak kalah hebat juga kerap datang dari lingkup keluarga. Sehebat apa pun prestasi yang ditorehkan dan penghargaan yang diraih, kalau telat nikah, hal itu akan membuat ortu gusar.
Kisah Dewi Zahrana (Meyda Sefira) dalam film Cinta Suci Zahrana yang dirilis pada 15 Agustus 2012 ini barangkali dapat merepresentasikan masyarakat kita. Di film yang diadaptasi dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul sama ini mengisahkan seorang perempuan dosen berprestasi bernama Zahrana atau biasa disapa Rana. Dosen arsitektur di Universitas Mangunkarsa, Semarang, ini mendapat penghargaan Internasional dalam bidang arsitek.
Namun, semua jerih payah dan prestasi membanggakan Zahrana tak sedikit pun membuat kedua orang tuanya bangga, terutama ayahnya. Ayah Zahrana, Pak Munajat, menyampaikan bahwa ia tak lagi butuh sederetan piagam penghargaan internasional dari anak semata wayangnya, melainkan melihatnya bersanding di pelaminan dan dapat segera menimang cucu. Maklum, Zahrana sudah memasuki kepala tiga.

Novel ''Cinta Suci Zahrana'' karya Habiburrahman El Shirazy yang difilmkan.

Novel ”Cinta Suci Zahrana” karya Habiburrahman El Shirazy yang difilmkan.

Zahrana mengalami konflik batin. Dia harus menuruti keinginan ortu atau mengejar cita-cita. Sebenarnya Zahrana sudah mengalah. Ia tak menerima tawaran jadi dosen di UGM. Alasannya, ortunya yang tinggal di Semarang tidak mau jauh. Zahranapun memilih mengajar di sebuah universitas di Semarang. Ia tetap bisa tinggal bersama ortunya. Zahrana juga mengalah pada orang tuanya hingga ia tidak mengambil tawaran beasiswa S3 di China.
Film ini seolah ingin mengatakan buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga? Buat apa meraih seabrek prestasi dan penghargaan jika jadi perawan tua? Berbeda sekali kan kalau hal itu terjadi pada laki-laki?
Secara umum, budaya di Indonesia memang masih patriarkhis. Mendiskriminasikan kaum perempuan. Seringkali dia ’’tak bisa bicara’’, sekali pun itu menyangkut dirinya sendiri. Meminjam istilahnya feminis Gayatri Spivak, perempuan menjadi subaltern. Warga Negara kelas kedua. Hak-hak mereka dibungkam. Bahkan tak jarang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Mengenaskannya lagi, mereka tak bisa berkutik ketika berhadapan dengan adat yang mengsubordinasikan tersebut.
Untuk mengikis budaya patriarkhis tak semudah mengedipkan mata. Butuh usaha terus menerus untuk membentuk pola pikir dan mengubah pola budaya.
Jadi, kapan nikah (lagi?)
Eh, kalau ini pertanyaan buat laki-laki ding. (*)

~ by ariyanto on 15 October 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: