Islam, Cinta, dan Kekerasan

Salah satu adegan film ''Dalam Mihrab Cinta''.

Salah satu adegan film ”Dalam Mihrab Cinta”.

Kedua tangan anakku memeluk erat tubuhku. Jemari mungilnya memegang erat bajuku. Mukanya dibenamkan di bawah ketiakku ketika menyaksikan pengurus bagian keamanan menyeret seorang santri Pesantren Al Furqan, Kediri, Jawa Timur, yang diyakini mencuri. Beberapa santri terus menghajar santri berambut gondrong itu meski meronta-ronta kesakitan dan sudah minta ampun.
’’Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!’’ kata santri bernama Syamsul Hadi yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.
’’Ayo mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!’’ teriak seorang santri berkopiah hitam dengan wajah sangat geram.
’’Sungguh, bukan saya pelakunya,’’ Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.
Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya.
’’Nich rasain pencuri!’’ teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.
Usai siuman, Syamsul didudukkan di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Selanjutnya, eksekusi penggundulan di halaman pesantren, disaksikan ratusan santri. Hujatan, makian, sumpah serapah dan sejenisnya mengiringi selama proses eksekusi.
Ayah Syamsul, Pak Bambang, dipanggil ke pesantren. Setibanya di sana, ayahnya tak kuasa menahan amarah. ’’Anak tak tahu diri,’’ sambil menampar anaknya berkali-kali. Syamsul meringis menahan kesakitan. Ia diam saja, merasa tak ada gunanya membela.

Novel "Dalam Mihrab Cinta'' karya Habiburrahman el Shirazy yang diangkat ke layar lebar.

Novel “Dalam Mihrab Cinta” karya Habiburrahman el Shirazy yang diangkat ke layar lebar.

Anakku masih bersembunyi di bawah ketiakku. Kebiasaannya memang begitu setiap menyaksikan tindak kekerasan yang sangat tidak disukainya. Anakku juga paling tidak senang ada orang marah-marah, maki-maki, menghujat, menghina, mengumpat, dan berkata-kata kasar lainnya.
Sebelum meninggalkan ruangan pesantren, Syamsul menegakkan kepala dan berkata setenang mungkin.
’’Pak Kiai, Panjenengan sudah zalim dengan memperlakukan saya seperti ini. Panjenengan belum melakukan tabayun (cek dan ricek) sesungguhnya. Dan kalian para pengurus yang memutuskan hukuman untuk saya dengan semena-mena, dengar baik-baik, kalian telah melakukan dosa besar! Kesalahan besar! Ini hak adami. Suatu saat kalian akan tahu siapa benar dan siapa salah. Kalian akan tahu siapa sebenarnya rayap itu. Dan aku tidak akan memaafkan dosa kalian semua kecuali kalian mencium telapak kakiku!’’
Di kemudian hari, akhirnya terkuak siapa pencuri dompet itu dan si penebar fitnah. Dia adalah Burhan, teman Syamsul yang sedang dibakar api cemburu karena Syamsul dekat dengan Zidna Ilma, gadis yang sedang didekatinya. Nah, lo!
Inilah sepenggal kisah film Dalam Mihrab Cinta yang dirilis pada 24 Desember 2010. Film ini diadaptasi dari novel best seller dengan judul sama karya Habiburrahman El Shirazy.
Di film dengan pemain utama Dude Herlino (sebagai Syamsul Hadi), Asmirandah (Silvie), Meyda Sefira (Zidna Ilma alias Zizi), Tsania Marwa (Nadia), dan Boy Hamzah (Burhan) ini sarat kritik sosial. Selain itu merefleksikan sebagian masyarakat kita yang masih gemar fitnah, mencaci, menghujat, dan melakukan sumpah serapah terhadap saudaranya sendiri dan sesama anak bangsa.
Ada beberapa pesan moral di film ini. Pertama, jangan menebar fitnah. Kedua, cek dan ricek terhadap suatu berita. Ketiga, jangan melakukan kekerasan dan kerusakan. Keempat, menebarkan cinta damai.
Dari kasus Burhan ini, betapa besar dampak fitnah bagi Syamsul Hadi. Sudah fisik babak belur, dikeluarkan dari pesantren, ditolak keluarga, dan terpaksa bergumul dengan kerasnya hidup di ibu kota. Dia menjadi pencopet. Sempat dihajar massa dan dijebloskan ke penjara.
Fitnah memang tak jarang berbuah kekerasan. Dari kekerasan verbal menjadi kekerasan fisik. Jika fitnah ini ditujukan kepada kelompok dan golongan lebih besar, maka dampaknya lebih besar lagi. Korbannya lebih banyak lagi. Pengusirannya lebih luas lagi. Bahkan, tak jarang memakan korban jiwa yang tak sedikit.
Karena itu, Islam mengajarkan tentang tabayun. ’’Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayun), agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” (QS. Al-Hujurat, 49: 6).
Islam juga melarang main hakim sendiri. Agama apa pun dan Negara mana pun juga melarang tindakan anarkis. Apalagi Indonesia sebagai Negara hukum, tidak boleh ada satu pun warga yang melakukan tindakan-tindakan di luar hukum. Bagi siapa saja yang melanggar hukum, atas nama apa pun itu, harus ditindak sesuai aturan hukum.
Islam, begitu pula agama lainnya, mengajarkan cinta kasih. Jangankan menganiaya orang lain, mengolok-olok dan memberikan gelar-gelar buruk saja tidak diperkenankan. Itu sama saja memakan bangkai saudaranya sendiri yang sudah mati. Kamu merasa jijik kan?
’’Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang zalim”. (QS. Al Hujurat(49) ayat 11)
Di akhir film, kekerasan demi kekerasan yang pernah dialami Syamsul Hadi berbuah hal-hal manis. Dia tak hanya populer karena menjadi bintang di masjid-masjid dan televisi sebagai pendakwah, tapi juga dijodohkan dengan keponakan Pengasuh Pesantren Al Furqon yang pintar, cantik, dan muslimah. Namanya Zizi. Syamsul pun melabuhkan cinta padanya.
Film berakhir ketika jarum jam menunjukkan angka 21.25 WIB. Meski sudah usai, rupanya anakku masih membenamkan mukanya di ketiakku.
’’Nak, bangun Nak. Udah selesai filmnya. Udah nggak ada kekerasan lagi.’’
’’Naik gunung aja Yah,’’ kata anakku lalu duduk di pangkuanku. Wajahnya celingak-celinguk ke kanan kiri melihat penonton menuju pintu keluar sinema XXI Pondok Indah Mal 1.
Duh, bangun-bangun kok minta ke gunung …(*)

~ by ariyanto on 15 October 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: