Cincin Nikah untuk Kiai

’’Saya mau minta tolong Kiai,’’ pinta Khairul Azzam kepada Kiai Lutfi, pengasuh pesantren Wangen, saat bersilaturahim di kediamannya.
’’Insya Allah kalau aku mampu. Minta tolong apa?’’ tanya Kiai.
’’Begini Kiai. Saya sudah ikhtiar untuk mencari jodoh yang pas untuk menerima cincin ini. Di sini kan ada ratusan santriwati. Siapa tahu ada yang mau dan cocok menerima cincin ini. Saya titipkan ini pada Pak Kiai. Kalau Pak Kiai merasa ada yang pantas dan cocok untuk memakainya silakan Pak Kiai pakaikan di jarinya. Insya Allah saya sami’na wa atho’na (kami dengar, kami taat),’’ Azzam menjelaskan maksud kedatangannya sembari menyodorkan cincin ke Kiai.
Kiai terdiam sejenak. Dia tampak seperti berpikir keras. Sejurus kemudian sang Kiai bercerita.

Khoirul Azzam minta dicarikan jodoh kepada Kiai dalam film ''Ketika Cinta Bertasbih''.

Khoirul Azzam minta dicarikan jodoh kepada Kiai dalam film ”Ketika Cinta Bertasbih”.

’’Ada seorang gadis yang halus hatinya. Patuh dan berbakti kepada kedua orangtuanya. Patuh. Sangat patuh. Gadis yang salehah. Dia sangat patuh kepada Tuhannya. Cinta kepada nabinya. Dan bangga kepada agama yang dipeluknya…..Mau kamu menikah dengan gadis itu?’’ tanya Kiai.
’’Kalau Pak Kiai menjamin insya Allah saya mau,’’ jawab Azzam mantap.
’’Kamu tidak ragu?’’ Kiai itu kembali menanyakan.
’’Apk dia pantas buat saya dan saya pantas buat dia?’’ tanya Azzam.
’’Insya Allah,’’ jawab Kiai singkat.
’’Saya tidak ragu sama sekali. Kalau boleh tahu gadis itu darimana asalnya dan siapa namanya Pak Kiai?’’ Azzam diburu rasa penasaran.
’’Dia asli Wangen sini. Dia Ana Althafunnisa, putriku,’’ jawab Kiai.
’’Ana Pak Kiai? Allahu akbaaaar!’’ Azzam terharu. Ana sempat dekat dengan Azzam ketika keduanya sama-sama kuliah di Al Azhar, Kaior, Mesir.
Ana yang mendengar pembicaraan itu dari balik tirai langsung sujud syukur dan tak kuasa menahan haru. Sebab, Azzamlah laki-laki yang selama ini dicintainya.
Begitulah petikan dialog Kiai Lutfi (Deddy Mizwar) dengan Azzam (Kholidi Asadil Alam) dalam film Ketika Cinta Bertasbih yang dirilis pada 19 Juni 2009. Film yang disutradarai Chaerul Umam ini diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul sama.

Novel ''Ketika Cinta Bertasbih'' karya Habiburrahman El Shirazy yang diangkat ke layar lebar.

Novel ”Ketika Cinta Bertasbih” karya Habiburrahman El Shirazy yang diangkat ke layar lebar.

Masih adakah sosok Azzam dan Ana Althafunnisa (Oki Setiana Dewi) di zaman cyber dan generasi gadget?
’’Ah, emang zamannya Siti Nurbaya, pake dijodoh-jodohin? Sekarang kan sudah zaman Siti Badriyah, lebih merdeka tentukan pilihan?’’ Kira-kira begitulah jawaban ’’Anak Alay’’ jika ditanya soal perjodohan hahaha…
Zaman memang telah berubah. Masing-masing orang hidup di zamannya dan berpikir sesuai zamannya. Tidak bisa generasi ’’Blackberry Messanger’’ dipaksa berpikir ala generasi ’’surat menyurat’’. Konstruksi berpikirnya berbeda. Pengalaman empirisnya juga tak sama.
Dijodohkan atau cari jodoh sendiri sebenarnya cuma mekanisme mencari istri. Sama halnya dengan kepala daerah dipilih rakyat atau melalui DPRD. Itu hanya mekanisme. Sama-sama konstitusional. Tidak bisa kita menyebut dipilih DPRD itu tidak demokratis dan dipilih rakyat itu demokratis. Dua-duanya demokratis. Tinggal kesepakatan saja di parlemen ingin mekanisme mana.
Begitu pula cari istri. Tak bisa kita mengatakan dijodohkan itu jelek dan pilih sendiri itu baik. Dijodohkan itu baik kalau yang menjodohkan orangnya ’alim seperti Kiai Lutfi. Kiai tentu akan mencarikan yang sekufu (setara) dan memiliki kualifikasi seperti disyaratkan dalam agama (pertama beriman, kedua beriman, ketiga beriman, selanjutnya boleh yang lain-lain seperti cantik, pandai, kaya, dan keturunan baik-baik).
Tapi, dijodohkan juga bisa berakibat buruk jika tukang jodohnya materialistis seperti Hayati (Pevita Pearce) yang dijodohkan dengan Aziz (Reza Rahadian), laki-laki kaya dan berbangsa di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Intinya, zaman boleh berubah. Cara berpikir boleh mengikuti zamannya. Tapi, soal nilai-nilai, tidak boleh berubah. Harus tetap hadir di setiap zaman.
Jadi, cincin nikah itu bisa diberikan lewat Kiai atau dikasihkan sendiri ke calon istri. Tapi, ingat, jangan disematkan di jari manis istri tetangga. (*)

~ by ariyanto on 15 October 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: