Menemukan Tuhan yang Hilang

Pertama kali baca judul film ’’Haji Backpacker’’, saya langsung teringat ’’Haji Darat’’ yang dilakukan Wartawan Jawa Pos Bahari. Ya, sesuai namanya, haji ini dilakukan melalui jalur darat. Namun sayang, ’’Haji Darat’’ ini berakhir di Pakistan. Dia diminta keluar Pakistan melalui jalur udara dari Karachi menuju Muscat, Oman, dan dilanjutkan ke Jeddah dan Mekkah karena ketahuan melakukan aktivitas jurnalistik dari file-file dan surat-surat dokumen yang disembunyikannya.

Haji-Backpacker

Dari judulnya,’’Haji Backpacker’’, para penonton barangkali juga mengira film garapan Danial Rifki ini bicara tentang teknis naik haji ala backpacker. ’’Haji Bonek’’ dengan biaya sangat minim alias ngebolang.
Perkiraan ini tak sepenuhnya salah. Realitasnya, Mada (Abimana Aryasatya), tokoh utama film ini, memang melakukan’’Haji Darat’’ melintasi sembilan negara. Indonesia, Thailand, Vietnam, China, India, Tibet, Nepal, Iran, dan Mekkah, Arab Saudi.
Namun, pandangan itu juga tak sepenuhnya benar. Sebab, kunjungan Mada ke berbagai negara itu tak seperti orang sedang ’’traveling’’. Mendatangi tempat-tempat indah dan bersejarah di tiap negara layaknya backpacker atau ’’Haji Darat’’. Di akhir cerita Mada juga tidak menunaikan ibadah haji sebagai tujuan utamanya.
’’Filmnya menggantung. Cuma digambarkan Mada bekerja di Mekkah sambil menunggu musim haji,’’ komentar istriku usai nonton film ini tepat di Hari Raya Idul Adha 5 Oktober 2014.
’’Mada tadi sudah pakai kain ihram, berarti sudah haji. Tapi hajinya dalam mimpi,’’ tukas bapakku yang duduk di sebelahku.
Titik tekan film ini memang bukan backpacker atau haji sesuai judul film. Itu hanyalah latar fisik dan sosial untuk membuat film produksi Falcon Pictures ini makin menarik. Penonton serasa diajak singgah di 9 negara. Riil. Lengkap dengan kultur dan bahasa setempat. Ketika menonton ini, saya serasa jadi Mada. Menjelajah batas-batas negara. Naik turun gunung, bahkan hingga Tibet, dengan carrier menjulang di pundak.
Namun, pesan moralnya bukan di traveling fisik, tapi lebih fokus pada kisah traveling spiritual Mada yang kembali menemukan Tuhan yang hilang.
Film ini berkisah tentang Mada yang memberontak kepada Tuhan, karena sudah merenggut ibunya (Pipik Dian Irawati). Ia juga kehilangan cinta Sofi (Dewi Sandra) yang membuatnya patah hati. Dia marah kepada kenyataan. Lalu marah kepada Tuhan. Dia pun kehilangan keimanan. Semula muslim taat, menjalankan salat dan sebagainya, berubah menjadi atheis (tidak bertuhan). Nilai-nilai Tuhan dihilangkan (nihilisme), karena dianggap hanya menghambat manusia menjadi maju. Dia telah ’’membunuh’’ Tuhan, sebagaimana Nietzsche ’’membunuh’’ Tuhan pada zamannya. Tuhan telah ’’mati’’ (God is dead).
Tak hanya Tuhan. Keluarga dan sahabatnya juga ditinggalkan. Kemudian dia memutuskan untuk menjadi backpacker. Hidup bebas. Dia berkelana ke Bangkok, ibu kota Thailand, dan hidup dengan nilai-nilai lebih bebas sebagai backpacker. Mada berteman dengan sesama backpacker, berhadapan dengan kekerasan. Bahkan nyaris terbunuh kawanan preman kalau tidak dilindungi Maryati alias Marbel (Laudya Cynthia Bella), terapis dari Indonesia yang terdampar ke Bangkok karena ulah agen yang menipunya.
Mada minggat ke Hanoi, ibu kota Vietnam. Selain menghindari preman, dia juga mencari jawaban kegelisahannya. Mada bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan sampai kemudian secara tak sengaja terdampar ke Lijiang, Provinsi Yunan, Tiongkok. Di sini penduduknya banyak menganut Islam. Mada bertemu ustad setempat. Anaknya, Suchun, (Laura Basuki), memberi pencerahan. Di Lijiang, Mada melalui masa perenungan setelah hidup bebas dan menjadi atheis di negara sebelumnya.
Pada dunia luar yang bebas, Mada menemukan kebahagiaan ragawi namun merasa kosong secara rohani. Hampa. Rapuh. Di saat penuh kerapuhan inilah, tangan Tuhan mengajaknya untuk kembali melalui serangkaian peristiwa. Berkelana dari satu ke negara lainnya, menyingkap kesadaran demi kesadaran, Mada sadar ternyata Tuhan sebenarnya mencintai dan selalu menjaganya dengan aturan yang sempurna. Tuhan selalu mendekapnya. Di Bangkok, Tuhan menyelamatkannya dari para pembunuh melalui Marbel. Di Hanoi, Tuhan menyembuhkan demam tinggi melalui orang Hanoi. Di Yunan, Tuhan mengobati luka infeksinya yang serius melalui Suchun. Di Iran, Tuhan menjaganya dari kelompok militan bersenjata melalui pimpinan kelompok itu yang luluh hatinya setelah Mada mengaku orang Indonesia dan fasih membaca Alquran. Berbagai keajaiban itu terus dialaminya hingga di Mekkah.
Dari sini, Mada akhirnya sadar bahwa dia gagal ’’membunuh’’ Tuhan. Ternyata Tuhan tidak mati. Tuhan juga tidak hilang. Tuhan juga tidak pernah meninggalkannya. Dia sendirilah yang telah meninggalkan Tuhan. Tuhan juga dekat. Tak perlu mencarinya di puncak-puncak gunung tertinggi, karena Tuhan itu lebih dekat dari urat leher manusia. So, God is dead or Nietzsche is Dead? (*)

~ by ariyanto on 14 October 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: