Beli Satu, Dapat Gratis Dua

Air terjun Cibeureum paling banyak dikerumuni pengunjung karena di depannya banyak shelter.

Air terjun Cibeureum paling banyak dikerumuni pengunjung karena di depannya banyak shelter.

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 DSC09353 DSC09397 DSC09416
Beli satu dapat gratis satu? Ah, promosi ini sih sudah klasik. Tapi kalau beli satu dapat gratis dua, harganya murah pula, ini baru menarik.

Itulah yang ditawarkan ketika mengunjungi air terjun Cibeureum di Desa Sindang Laya, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Di sini, kita dapat gratis dua air terjun yang masing-masing memiliki keunikan: air terjun Cidendeng dan Cikundul. Ketiga air terjun ini berdiri bersebelahan. Berada di satu kawasan. Namanya Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) Cibodas. Tiketnya Cuma Rp 11.000. Sudah termasuk asuransi. Mantab kan?

Cibeureum adalah air terjun terbesar dan terpendek di kawasan ini. Letaknya paling kiri. Di depannya terdapat empat shelter. Itu sebabnya, lebih banyak dikerumuni wisatawan. Nama Cibeureum sendiri dari bahasa sunda yang berarti sungai merah. Nama ini dipungut dari nuansa merah dinding tebing dari lumut merah yang tumbuh secara endemik.

Di kanan Cibeureum adalah air terjun Cidendeng. Bentuknya seksi. Langsing. Menjulang ke angkasa. Airnya deras, menapaki tebing batu-batu trap, lalu jatuh ke lereng tebing berlumut.

Paling kanan adalah air terjun Cikundul. Lokasinya di sudut paling kanan, sedikit terpisah dari kedua terjun. Ia tersembunyi di ceruk dua tebing kokoh. Wajahnya yang ayu tertutupi rimbun pepohonan.

Tinggi ketiga air terjun ini 40–50 meter. Berada di ketinggian 1.675 meter dari permukaan laut (mdpl). Menurut klasifikasi iklim Scamidt dan Ferguson, tipe iklim di kawasan ini termasuk tipe iklim A. Rata-rata temperaturnya 18 derajat Celcius di Cibodas dan kurang dari 10 derajat Celcius di puncak Pangrango.

Nah, menariknya, ketiga air terjun itu memiliki tingkat dingin berbeda. Semakin ke kanan, airnya semakin dingin. Cibeureum kalah dingin dengan Cidendeng, dan Cidendeng kalah dingin dengan Cikundul. Bahkan Cikundul dinginnya cukup ekstrem. Serasa mandi air freezer. Itu sebabnya, tak banyak pengunjung mandi di sini. Jangankan mandi, melintasi arus air dari Cikundul saja telapak kaki rasanya sudah beku.

Kalau buat mandi, paling enak memang di Cidendeng. Meski air terjunnya tinggi, airnya terpecah dan membentur trap bebatuan terlebih dulu. Saat mandi di sini, rasanya punggung dan kepala ini dipijiti. Ini namanya pijat air (water massage). ’’Pemijitnya’’ kuat sekali. Kita mau pijat air berjam-jam juga dia siap. Bahkan kalau mau pijat seharian di sini juga bisa. Asal badan kuat dingin dan tak masuk angin haha…

Kalau di Cibeureum lain lagi ceritanya. Berdiri tepat di bawah air terjun serasa ’’digebukin’’ bertubi-tubi dari atas. Jika kuda-kuda tak kuat, kita bisa terjatuh. Tapi efek ’’penggebukan’’ ini luar biasa. Badan terasa segar. Rasa capek setelah hiking sekitar 2,6 km atau dua jam jalan kaki dari gerbang Taman Nasional serasa hilang. Pusing-pusing juga hilang. Coba saja.

Intinya, tidak rugi deh datang ke mari. Dengan tiket masuk hanya Rp 11.000, kita beli Cibeureum dapat Cidendeng dan Cikundul sekaligus. Harga segitu sudah termasuk bonus menikmati Telaga Biru seluas 0,25 ha berwarna biru kehijau-hijauan, Rawa Gayonggong, dan track Jembatan Kayu yang bisa dipakai untuk istirahat dan foto-foto. Pemandangannya bagus. Gunung Pangrango terlihat dari sini. Bahkan, tiket itu sudah termasuk objek wisata Air Panas dan pendakian. Keren sekali kan?

Namun, bukankah untuk menuju Puncak macetnya sungguh ruarrr biasa?

Benar juga sih. Perjalananan menuju kawasan wisata Cibodas ini kalau lancar dapat ditempuh sekitar 3 jam dari Jakarta. Jakarta-Cibodas sekitar 100 km. Itu kalau lancar. Kalau tidak? Dari exit tol Ciawi sampai Cibodas bisa 3 jam sendiri hehe….belum lagi kalau terkena sistem buka tutup di jalur Puncak. Kita bisa menunggu berjam-jam.

Tapi aku punya cara sendiri supaya Jakarta-Cibodas bisa ditempuh 1 jam. Pada Selasa, 2 September 2014, aku bersama Aro, kawan sekantor, berangkat pukul setengah dua. Sampai di Gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pukul setengah tiga. Tuh, penasaran kan?

Ah, ini sebenarnya rahasia. Tapi demi kemajuan wisata Indonesia, nggak apa-apa deh aku kasih bocorannya. Berangkat saja dinihari. Di hari kerja. Insya Allah dijamin lancar jaya hahaha…. (*)

~ by ariyanto on 4 September 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: