Lupa Rasanya Upacara

Merayakan HUT Ke-69 RI dengan mengibarkan bendera raksasa di Anak Gunung Krakatau.

Merayakan HUT Ke-69 RI dengan mengibarkan bendera raksasa di Anak Gunung Krakatau.

Seperti apa rasanya upacara 17 Agustus? Susah juga jawabnya. Sudah lupa. Ya lupa rasanya, ya lupa caranya, ya lupa urut-urutannya.

Terakhir upacara ketika mahasiswa semester 4 di Unair. Sudah enam belas tahun lalu. Kala itu ditunjuk menjadi tim pengibar bendera merah putih di Gedung Grahadi Surabaya. Selama 1998-2014 tak pernah ikut lagi. Tenggelam dalam berbagai rutinitas dan aktivitas.

17 Agustus 2014 lalu aku ingin merasakan ’’sensasi’’-nya. Gimana ya bisa upacara lagi? Aparatur Negara bukan. Pegawai negeri sipil juga bukan. Guru tidak. Siswa juga tidak. Biasanya guru kan mewajibkan siswanya upacara? Selain tiap Senin, juga ada upacara 17 Agustus.

Dua hari menjelang Hari Kemerdekaan Ke-69 Republik Indonesia, seorang kawan mengirimkan broadcast fun trip ke Krakatau. Salah satu agendanya upacara di Anak Gunung Krakatau. Wah, kebetulan sekali. Istilahnya ngantuk berat disodorin bantal, ya langsung tidur. Kalau istilah jawanya tumbu ketemu tutup. Klop alias pas banget.

Singkat cerita, tibalah aku di sana pada 17 Agustus lalu. Sang fajar menguaskan rona jingga di kaki langit dan merefleksikannya ke perairan Selat Sunda ketika kapal fiber yang membawa peserta fun trip berlabuh di pantai Anak Krakatau.

Pasirnya tidak putih bak bubuk merica layaknya pulau di tengah laut. Tapi hitam pekat. Aku sengaja turun dari kapal tanpa alas kaki. Demi merasakan sensasi segarnya air lautnya yang jernih dan biru. Juga sensasi pijitan pasirnya yang hitam seperti sembrani.

Tapi, begitu turun, peserta fun trip berpencar sendiri-sendiri. Ada yang sarapan pagi, bermain di tepi pantai, berfoto-foto ria, bercengkerama dengan pasangan, dan ada pula yang langsung menuju puncak Anak Gunung Krakatau. Terus, upacaranya gimana nih?

Panitia tetap menggelar upacara. Yang mau ikut upacara silakan. Yang tidak ikut atau mau upacara dengan versinya sendiri juga monggo.

Pendaki mengibarkan bendera merah putih di pundak Anak Gunung Krakatau.

Pendaki mengibarkan bendera merah putih di pundak Anak Gunung Krakatau.

Lokasi upacara masih di kaki Gunung Anak Krakatau. Tidak terlalu jauh dari bibir pantai. Hanya berjalan sekitar 15 menit. Tepatnya sekitar 30 meter setelah vegetasi terakhir. Di sinilah tempat paling lapang.

Ketika tiba di sana, beberapa orang tampak membentangkan bendera merah putih berukuran sekitar 10 meter x 2,5 meter. Sang dwi warna pun berkibar-kibar dibelai angin. Di antara mereka menyanyikan lagu ’’Indonesia Raya’’. Diikuti beberapa pendaki lainnya.

Prosesi berikutnya adalah selesai. Loh kok selesai? Ya iya udah selesai. Kok gitu aja? Ya udah memang gitu aja.

Pendaki memegang sang dwirana dengan latar Gunung Krakatau.

Pendaki memegang sang dwirana dengan latar Gunung Krakatau.

Giliran pendaki lainnya memegang bendera tersebut. Tapi, mereka tidak menyanyikan lagu karya WR Supratman itu. Mereka hanya action untuk diabadikan gambarnya. Setelah bergaya begini begitu dan jeprat sana jepret sini, mereka mundur teratur. Memberi kesempatan pendaki lainnya bergaya.

Upacara 17-an ini ternyata ada di beberapa titik. Paling banyak justru digelar di ’’pundak’’ Anak Krakatau. Ini pos terakhir. Pendaki tak bisa ke pucuk lagi karena puncaknya kawah aktif. Padahal, dari sini, puncaknya hanya selemparan batu saja. Gurat-gurat wajahnya terlihat sangat jelas.

Sekitar 30 menit untuk mencapai titik ini. Persis ketika kita menuju puncak Bromo. Bedanya, di gunung yang berlokasi di Probolinggo, Jawa Timur, itu ada anak tangganya. Kita juga bisa berdiri di bibir kawah.

Di sinilah tempat paling favorit. Pundaknya tidak lebar, tapi memanjang melengkung seperti bumerang. Mirip puncak Gunung Gede Bogor. Pemandangannya sungguh indah. Berdiri di sini serasa terbang di atas lautan biru nan jernih. Ya, Anak Krakatau ini memang berada di tengah laut. Di kanan terdapat Gunung Krakatau. Di kiri ada Pulau Sertung. Di depan Pulau Panjang. Kapal-kapal fiber, kayu, speed boat yang berlabuh di pantai terlihat seperti semut berbaris.

Unik-unik ’’prosesi’’ upacara di sini. Di antaranya, goweser, lengkap dengan berbagai aksesorinya seperti baju dan helm, mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan Ke-69. Seraya membentangkan bendera merah putih yang dibawanya sendiri. Tapi, tentu saja mereka tidak bawa sepeda. ’’Kuda tunggangannya’’ itu diparkir di kaki gunung.

Ada pula yang membuat rekaman video. Mungkin video itu akan diupload di Youtube atau sekadar di-share di grup mereka. Begini kira-kira inti video tersebut:

’’Hei mahasiswa. Jangan belajar muluk ente. Kagak bosen ape. Sekali-kali dong kayak ane nih. Jalan-jalan. Sekarang ane di puncak Krakatau ne? Yuk ke sini. Dari Puncak Anak Krakatau gue ngucapin Selamat ulang tahun Republik Indonesia Ke-69. Merdeka!’’

Begitulah warna-warni ’’upacara 17 Agustus’’ ala para pendaki Anak Gunung Krakatau. Jadi, sudah ingat rasanya upacara? Ingat dong, rasanya ternyata nano-nano. (*)

~ by ariyanto on 2 September 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: