Bike to Work? Lupakanlah…!

Foto bareng di tengah perkebunan teh Puncak Bogor.

Foto bareng di tengah perkebunan teh Puncak Bogor.

Sudah lama aku mendengar istilah bike to work. Ingin juga menirunya ketika menyaksikan pegawai berangkat ke kantor naik sepeda. Tapi, niat itu selalu kandas begitu saja saat membayangkan jalanan di ibu kota dan daerah penyangga yang macet, polusi, dan semrawut.

Selasa, 26 Agustus 2014, niat bike to work itu tiba-tiba menyeruak kembali ketika BBM langka di sejumlah daerah. Kali ini niat itu lebih kuat. Apa salahnya dicoba? Sekalian untuk hemat BBM.

Sepeda merah yang sudah ’’dimuseumkan’’ di gudang belakang ’’dihidupkan’’ kembali. Setelah sedikit dipoles sana-sini, akhirnya sepeda gunung itu siap ’’turun gunung’’. Aku bergegas mengeluarkan sepeda dari garasi sebelum rona jingga senja semburat di ufuk barat.

’’Kok pakai sepeda Yah?’’ tanya Dimas ,anakku pertama terheran-heran, ketika melihatku mengeluarkan sepeda.

’’Iya Nak,’’ jawabku singkat sembari mengenakan helm.

’’Nggak capek Yah? Kan kantor Ayah jauh?’’ tanya anakku lagi penuh heran.

’’Nggak (capek) Nak. Bersepeda itu nyenengin. Olahraga juga,’’ kataku. Anakku hanya mengangguk, tanpa ada sepatah kata pun terlontar.

Pukul 15.55 WIB aku berangkat gowes dari Tangerang Selatan. Cuaca cukup cerah. Asyik juga gowes sore-sore, beriringan dengan pemuda-pemudi yang asyik jogging sore.

Belum lima belas menit gowes kaos sudah basah kuyub. Ketika diterpa angin, rasanya segaaaarr sekali. Sesampainya di depan pusat perbelanjaan Matahari, aku sengaja melewati ’’Tanjakan Cinta’’ flyover Ciputat. Aku namakan ’’Tanjakan Cinta’’ karena mirip tanjakan ekstrem dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati, Gunung Semeru.

’’Kretek kretek kretek,’’ bunyi suara rantai yang pindah ke gir lebih ringan. Huft, lumayan terasa juga di otot paha. ’’Ayo terus genjootttt. Genjoooottttt…..’’ aku menyemangati diri sendiri.

Dan, akhirnya sampai juga di puncak Tanjakan Cinta. Puncaknya cukup lapang. Berkelok-kelok mirip Kelok Sembilan. Dari puncak sini, gedung-gedung pencakar langit sepanjang di ibu kota terlihat jelas.

Tak lama kemudian, dapat bonus turunan cukup panjang. ’’Wuiiiiiiiing…..’’ sepeda meluncur kencang.

Tapi di ujung flyover sudah tampak kemacetan. Bottle neck alias jalan menyempit. Truk, bus, angkot, dan kendaraan pribadi membaur jadi satu. Untung pakai sepeda. Bisa memasuki celah-celah kecil.

Rasanya senang sekali bisa menyalip kendaraan-kendaraan itu. Perasaan itu semakin membuncah ketika berhasil mendahului Ferrari merah di depan UIN Syarif Hidayatullah. Ya iyalah, ’’si kuda jingkrak’’ itu lagi terjebak macet hehehe…..

Tapi nggak juga kok. Sampai aku tiba di pertigaan Gintung, Ferrari itu masih belum berhasil mengejar. Beneran. Hebat ya? Soalnya drivernya mungkin belok ke Bintaro atau makan ke warteg hehe….

Setelah melewati Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), jalur menurun. Cukup panjang. Horreeee, dapat bonusss. Bonus itu sampai jembatan sungai Pesanggrahan.

Di atas jembatan itu terdapat plang bertuliskan ’’Selamat Jalan’’. Ini artinya aku telah meninggalkan Provinsi Banten dan masuk Provinsi DKI Jakarta. Lumayan jauh juga ya bersepedanya? Ini namanya Sepeda AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) haha….

Tapi, berbeda dengan kota-kota besar lainnya, ketika memasuki Jakarta ini tidak terdapat plang ’’Selamat Datang’’ di Provinsi DKI Jakarta. Padahal, ketika kita dari Jakarta mau masuk Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, terdapat ucapan Selamat Datang di Provinsi Banten. Jakarta pelit ya? Haha…

Nah, usai melewati jembatan itu, giliran aku haru s melewati ’’Bukit Penyesalan’’. Aku namakan ini karena track-nya mirip tanjakan ekstrem di Gunung Rinjani, Lombok. Tanjakan ini sampai di depan Sekolah Polisi Wanita. Wuihhh …, cukup berat tracknya.

Tapi setelah melewati ’’Bukit Penyesalan’’ ini, jalurnya landai. Nyaris tidak ada tanjakan berarti hingga kantorku di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Memasuki ibu kota, kendaraan semakin padat merayap. Bahkan selepas pertigaan di depan Gedung Fedex nyaris tidak bergerak dari kedua arah. Aku terjebak di kemacetan itu. Asap hitam pekat knalpot membuat mata perih. Dada juga sesak. Belum lagi debu dan panasnya yang membakar kulit.

Terpaksa aku lewat separator. Pembatas jalan itu berukuran sekitar 40 sentimeter. Rasanya melaju di tol dalam kota pas Hari Lebaran saja. Entah sudah berapa mobil berhasil aku salip. Tahu-tahu sudah sampai perempatan Metro Pondok Indah. Leggaaa….maaf Pak Polisi, terpaksa aku lewat pembatas jalan. Udah nggak kuat lagi. Rasanya panas sekali paru-paru ini. Maafin ya? Janji deh Pak nggak ngulangin lagi hehe…

Selepas perempatan itu, lalu lintas meski macet tapi relatif masih bisa bergerak. Pukul 16.50 aku tiba di kantor. ’’Loh bawa sepeda Pak,’’ tanya seorang sekuriti terheran-heran.

’’Berapa jam perjalanan Pak?’’ dia bertanya lagi.

’’Satu jam kurang lima menit,’’ jawabku.

Dipikir-pikir enak juga naik sepeda. Biasanya, kalau naik mobil, sekitar dua jam perjalanan. Ini artinya satu jam lebih cepat. Tentu juga tidak perlu BBM. Bisa bantu pemerintah hemat konsumsi BBM yang sekarang kuotanya dikurangi (kalau tidak mau disebut langka). Tak hanya itu. Langit pun jadi makin biru. Lebih ramah lingkungan karena tidak berpolusi, baik polusi udara maupun suara.

Terus, pulangnya nanti gimana? Pulangnya kan dinihari? Nah, ini dia masalahnya. Begitu kelar deadline halaman satu Koran pukul 00.00, rasanya kok kurang seru ya gowes seorang diri? Pasti serasa ditikam sepi.

’’Juni Armanto, aku nanti ditarik ya pulangnya?’’ aku minta bantuan teman sekantorku.

’’Ada talinya nggak?’’ tanya dia.

’’Wah iya, nggak ada yang punya tali,’’ tuturku.

Mendengar minta ditarik, Folber Siallagan nyeletuk,’’ Nggak keren blas. Teko e gagah, molene kok njaluk digeret tali? Ketemu komunitas sepeda liane lak ngisin-ngisini ae (tidak keren sama sekali. Datangnya gagah, pulangnya kok minta ditarik tali?),’’ canda dia yang sebenarnya juga hobi gowes.

’’Jarene Pak Wahyu Sakti Awan, padane kerjo normal ae. Budhal isuk moleh sore. Lah iki awake dewe moleh tengah wingi. Bukane sehat malah isok-isok stroke (kata Pak Wahyu, dikira kita kerja normal saja, berangkat pagi pulang sore. Nah ini pulang tengah malam. Bukannya sehat malah bisa-bisa stroke,’’ tukas Adrianto sambil ngakak.

’’Wes kuno bike to work iku. Nang Puncak ae (Sudah kuno bike to work itu. Ke Puncak saja,’’ sela Yon Fahmi.

Karena buntu, terpaksa gowes dini hari deh. Pukul 00.30 mulai genjot. Aku sengaja lewat Pasar Kebayoran Lama. Kalau malam justru ramai-ramainya. Sekitar 300 meter ke pasar, di kiri kanan jalan banyak pedagang menjajakan aneka barang dagangan. Pas di Pasarnya lebih ramai lagi.

Aku dari dulu memang senang suasana pasar tradisional. Senang suasananya, senang cara tawar meanawarnya dan sebagainya. Keluarga besarku memang pedagang. Kedua ortuku pedagang. Semua adikku pedagang, termasuk adik-adik iparku. Dulu, ketika mahasiswa, aku juga berdagang pentolan bakso di Pasar Simo, Surabaya. Berangkat dinihari, pulangnya habis Subuh dan langsung menimba ilmu di Fakultas Syariah, IAIN Sunan Ampel.

Usai melewati pasar, jalanan sepi. Maklum, sudah pukul 01.00 dinihari. Tidak ada suara lain, kecuali ban menggaruk aspal dan suara rantai. Sesekali ada kendaraan melintas. Tapi tak satu pun kendaraan yang berhasil aku salip, seperti halnya ketika berangkat ke kantor. (Ya iyalah, rata-rata ya orang ngebut kalau malam hehe).

Di tengah keheningan malam itu, tiba-tiba muncul suara mengagetkan dari arah kananku. ’’Lo Pak, wes nyampe kene (loh Pak. Sudah sampai sini),’’ sapa Lani, teman sekantorku, sembari memelankan laju motornya. Saat itu aku sudah di Jalan Ciputat, sekitar 100 meter sebelum kampus UIN Syarif Hidayatullah. Dia kemudian mengiringiku.

’’Sampean duluan aja,’’ pintaku.

’’Kuat ta Pak?’’ tanya dia.

’’Insya Allah kuat,’’ jawabku.

Dia pun langsung tancap gas.

Alhamdulillah. Aku tiba di rumah pukul 02.00. Setengah jam lebih lama karena mampir ’’bernostalgia’’ di pasar sebentar.

Terus, kira-kira besok mau bike to work lagi nggak ya?

Aku mencoba mengajak bike to work ke beberapa teman sekantor yang tinggalnya berdekatan. Tapi, mereka rupanya kurang tertarik. Mereka lebih senang gowes di daerah pegunungan yang udaranya segar dan dingin. Juga jauh dari bising dan polusi.

Aku sangat bisa memahami keberatan mereka, dengan berbagai argumentasinya. Sebab, bagaimana pun, gowes dinihari itu anti mainstream. Jadi gimana? Masih ingin bike to work? Lupakanlah…! (*)

 

~ by ariyanto on 27 August 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: