Semut-Semut Kecil Kota Bandung

Oh, beginilah rasanya dua kali menelan ’’pil sabar’’. Pertama pada 25 November 2013. Kedua pada 29 Juli 2014. Gara-garanya sama: Curug (air terjun) Maribaya, Bandung. Lantaran masih direnovasi, kami sekeluarga gagal menikmati keindahannya. Pada kedatangan pertama katanya lagi direnovasi. Pada kesempatan berikutnya juga masih direnovasi. Tapi, Alhamdulillah. Setelah dua kali menelan ’’pil sabar’’ itu, dua kali pula kami mendapatkan manfaat lain dari buah kesabaran itu.

Buah kesabaran pertama, kami jadi tahu Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ir Djuanda. Kami bergeser ke tempat wisata yang lokasinya memang bersebelahan dengan air terjun Maribaya itu. Jaraknya sekitar dua klo. Di sini kami dapat menikmati Curug Ciomas, menelusuri Goa Jepang dan Goa Belanda, memberi makan rusa, menyaksikan kera berkeliaran bebas, dan belasan wisata seru lainnya.

Nah buah kesabaran kedua, kami dapat menikmati kota Bandung dari atas bukit. Kota Kembang ini memang dikelilingi gunung. Orang Sunda menyebutnya Bandung Dilingkung Gunung.

Bagi kami, menikmati Bumi Parahyangan dari atas bukit, adalah pengalaman tak terlupakan. Aku memang sering ke Paris van Java ini. Namun, baru pertama kali ini bisa melihat keseluruhan kota ini dari atas bukit. Gedung-gedung pencakar langit terlihat seperti semut-semut kecil. Kalau malam, tampak seperti seribu kunang-kunang menari. Memendarkan cahaya. Sungguh indah.

’’Penemuan’’ bukit ini sebenarnya tak sengaja alias kebetulan. Ceritanya begini. Ketika seorang security memberitahu Curug Maribaya masih direnovasi, kami memutuskan untuk mencari air terjun lain di dekat Maribaya.

Menurut informasi, tak jauh dari Maribaya, terdapat curug Cibodas. Sesuai namanya, air terjun ini terletak di desa Cibodas. Katanya dapat ditempuh sekitar satu jam. Maka, meluncurlah kami ke Cibodas. ’’Oh, ternyata air terjun Cibodas ada juga di dekat sini (Maribaya). Nggak cuma di kaki Gunung Gede Pangrango Bogor sana ya?’’ kataku dalam hati sembari menginjak pedal gas.

Sejam berlalu, sampailah kami di desa tersebut. Aku bertanya ke seseorang di pinggir jalan. ’’Maaf, mau nanya Pak. Kalau ke Curug Cibodas ke arah mana ya Pak?’’ tanyaku.

’’Curuuuug. Di Cibodas tidak ada curug,’’ jawabnya singkat.

Di tengah ’’kekecewaan’’ itu, anakku kedua, Derrida, 3 tahun, yang sebelumnya tidur pulas tiba-tiba terbangun dan berseru, ’’Ke gunung aja yah!’’. Mendengar jawaban seperti anak mengigau itu, sontak kami semua tak kuasa menahan tawa.

Ya sudah kalau tidak ada. Kami tetap menikmati, karena memang tujuannya jalan-jalan. Kami pun putar balik. Melalui rute sama seperti dari Maribaya ke Desa Cibodas. Pemandangan kiri kanan sungguh indah. Perkebunan strawberry, deretan pegunungan, dan pepohonan lebat. Derasnya air dari Curug Ciomas dan Maribaya terdengar samar-samar ketika melewati Maribaya. Selama perjalanan kami sengaja membuka kaca mobil, untuk mengundang masuk hawa sejuknya.

Jarum pendek menunjuk di angka 2 dan jarum panjang di angka 6. Sesampainya di perempatan Maribaya, kami pilih lurus. Tidak belok kanan seperti biasanya jika ingin kembali ke Kota Bandung. Selain mencoba suasana baru juga untuk menghindari macet luar biasa di Lembang.

Jalannya relatif lebih kecil. Sekitar dua ratus meter ditempuh, beberapa aparatur desa berseragam di depan pos jaga memberikan isyarat untuk melambatkan laju kendaraan.

’’Maaf Pak, ini karcis portal untuk pemeliharaan jalan desa. Rp 2.000,’’ kata seorang petugas sembari memberikan karcis berwarna pink. Di karcis itu tertulis:

PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG BARAT

KECAMATAN LEMBANG

DESA LANGENSARI

——————————————————————————————————————————–

TANDA TERIMA IURAN PENGGUNA JALAN DESA

Berdasarkan Undang-Undang No 32 Tahun 2004

Tentang Pemerintah Daerah,

Berdasarkan Peraturan Desa Nomor 1 Tahun 2006

Tentang (APBDES)

Wajib Iuran Pemeliharaan Jalan Desa

Jenis Kendaraan, Sedan, Pick Up, Jeep, Mini Bus

 

Langensari, 29-7-2014

 

Menikmati Kota Bandung dari atas Bukit Rumah Miring.

Menikmati Kota Bandung dari atas Bukit Rumah Miring.

Setelah membayar iuran pengguna jalan desa Rp 2000, kami pun menyusuri jalan desa yang berkelok-kelok dan sedikit berlubang. Siang itu, kendaraan dari arah berlawanan cukup ramai, sehingga ketika melewati kelokan terkadang harus bersabar dan bergantian.

Kami masih membuka kaca jendela untuk menikmati pemandangan indah di kiri kanan. Tampak perbukitan dengan sawah teras siringnya yang indah. Sekitar lima belas menit kemudian, kami tiba di sebuah Rumah Miring. Ya, di papan namanya memang tertulis Rumah Miring.

Dilihat dari depan rumah itu hanya satu lantai. Tapi kalau dilihat dari samping, rumah berwarna cokelat itu berlantai tiga. Bentuknya sekilas mirip kubah masjid Demak yang terdiri dari tiga tingkatan. Pokoknya keren sekali rumah itu.

Di kanan rumah itu tempat parkir cukup luas. Kira-kira bisa muat sekitar 15 mobil. Nah, dari tempat inilah kita bisa melihat Kota Bandung. Lemparkan pandangan jauuuhhh ke kanan. Di sana akan terlihat tepi-tepinya kota itu. Gedung-gedung pencakar langit terlihat kecil-kecil seperti semut rapat akbar.

Kota ini terletak di cekungan. Dikelilingi pegunungan. Berdiri di atas bukit ini, sebut saja Bukit Rumah Miring, rasanya seperti terbang. Melayang di antara awan yang berarak.

Dari Bukit Rumah Miring ini kita tak hanya bisa menikmati udara segar, tapi juga menyaksikan pemandangan hutan, gugusan pegunungan, lembah, sawah teras siring, serta mendengarkan desir angin yang melewati celah-celah dahan dan kicauan burung. Tak percaya? Jangan percaya sebelum mencoba! (*)

 

~ by ariyanto on 8 August 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: