TAMAN BUNGKUL SEJUTA RASA

 

Jujur saja, seumur-umur, baru Rabu, 12 Februari 2014, lalu aku ke Taman Bungkul Surabaya. Itu pun karena diminta jadi ’’tour guide’’ kawan-kawan dari Jakarta yang kebetulan ada kegiatan di Kota Pahlawan ini. Mereka memintaku karena aku arek Suroboyo yang sejak 2001 merantau ke ibu kota.

Sebenarnya, ketika SMA dan kuliah, hampir tiap hari aku yang tinggal di kawasan Tambaksari ini melintas di depan Taman Bungkul. Saat berseragam abu-abu, aku belajar tafsir Alquran di Masjid Al Falah yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari Bungkul. Kuliahku di IAIN Sunan Ampel juga melewati rute ini. Tapi kenapa tak pernah mampir?

Taman ini dulu terkesan ’’angker’’. Pohon-pohon besar dan kompleks makam tua ’’Mbah Bungkul’’ yang gelap mendukung kesan itu. Namun, bukan karena itu aku tidak menapakkan kaki atau sekadar ngaso (istirahat) di sini. Sekali lagi bukan itu. Tapi lebih kepada alasan: nek runu iku teros lapo? (Kalau ke situ terus untuk apa?). Ya cuma taman-taman biasa saja. Ada pohon, bangku-bangku taman, dan tempat pemakaman. Itu saja. Lain tidak ada.

Beda sekali ketika aku dan rombongan ke taman ini sehari sebelum Gunung Kelud meletus. Bukan sulap, bukan sihir. Di area taman seluas 900 meter ini benar-benar berubah 360 derajat. Sungguh cantik. Tempat ini ramai sekali. Mirip mal Tunjungan Plaza Surabaya di hari Sabtu malam minggu. Ratusan orang memenuhi tiap sudut, dengan aktivitas masing-masing.

Sejumlah orang mengitari bundaran tengah taman. Sebagian lagi duduk-duduk dan bercengkerama di bangku taman di bawah pohon rindang. Ada pula anak-anak bermain ayunan dan jungkat-jungkit, ditemani orangtua mereka.

Tampak pula jalur papan luncur (skateboard track) dan sepeda BMX, jalur jogging, panggung untuk musik hidup berbagai jenis, zona akses internet nirkabel (wi-fi) gratis, dan area green park dengan kolam air mancur yang menenangkan jiwa. Wow. Cantik sekali.

Sambil mencari lokasi parkir mobil, mataku terus menelanjangi berbagai fasilitas di sana dan aktivitas warga. Rasanya sudah tak sabar ingin bergabung bersama-sama mereka. Sayangnya, perut ini sudah merengek-rengek karena matahari sudah tepat di atas kepala. Akhirnya kami mencari makan siang dulu. Di tempat parkir belakang Taman Bungkul, ternyata ada Sentra pedagang kaki lima (PKL). Sungguh tertata rapi.

Di Sentra PKL ini menyediakan menu kuliner khas Suroboyo. Ada Lontong Balap, Lontong Kupang, Rujak Cingur, Lontong Mie, Semanggi Suroboyo, Gado-Gado, dan menu khas Arek Suroboyo lain. Perutku ’’berteriak’’ makin kencang mencium aneka menu menggugah selera ini.

Aku ajak kawan-kawanku di tempat penjual Lontong Kupang.

’’Makanan apa ini? Aneh namanya,’’ kata Pipit, gadis cantik yang tinggal di Pluit, Jakarta Utara, ini.

’’Enak nggak?’’ tanya dia lagi penasaran.

’’Enak itu relatif. Lidah tiap orang nggak sama. Ya, dicobain dulu deh. Biar tau enak nggaknya. Kalau nggak nyoba kan nggak bisa cerita entar,’’ ajakku.

’’Ya udah pesen Lontong Kupang,’’ tutur Pipit yang diikuti sebagian kawan lainnya. Sebagian lagi pilih bakso, ayam dan bebek bakar.

Tak lama kemudian menu yang dipesan terhidang di meja. Aku langsung menyantap penuh gairah Lontong Kupang dan ’’sahabatnya’’, Sate Kerang. Tapi teman-temanku masih ragu-ragu menyikatnya.

’’Aneh rasanya,’’ kata Pipit sembari nyengir-nyengir seperti minum obat pahit.

’’Iya nih aneh. Namanya aja aneh,’’ tukas Andri.

Makanan itu tidak dihabiskan.

’’Nah, udah tau kan rasanya kayak gimana? Tapi paling nggak kan bisa cerita nanti,’’ kataku disambut tawa.

Usai makan siang dan menghabiskan Es Degan, kami melihat lebih dekat Komplek Makam Mbah Bungkul. ’’Ikon’’ taman ini yang letaknya di belakang. Menempel dengan Sentra PKL. Mbah Bungkul sendiri adalah panggilan dari Ki Supo atau Ki Ageng Bungkul, seorang ulama di zaman Kerajaan Majapahit pada abad XV. Sering disebut pula Sunan Bungkul. Saudara ipar dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

Setelah menengok Makam Mbah Bungkul, kami menyusuri taman yang mendapat ’’The 2013 Asian Townscape Sector Award” dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 26 November 2013 ini. Penghargaan bergengsi ini diterima Risma di Fukuoka, Jepang. Sebuah penghargaan yang juga mendapat dukungan dari UN Habitat Regional Office for Asia and The Pasific, Asia Habitat Society, Asia Townscape Design Society, dan Fukuoka Asia Urban Research Center. Taman Bungkul Surabaya menjadi satu-satunya taman di Indonesia yang meraih penghargaan ini.

***

Ketika malam hari, kami penasaran ingin datang ke taman ini lagi. Seperti apa sih suasana di kala malam? Ternyata lebih seru dan asyik. Makin banyak orang datang ke mari. Laki-laki-perempuan, anak-anak, tua dan muda, semuanya ke sini. Mereka setara di sini. Tidak ada kelas sosial lebih tinggi satu dengan lainnya.

Di kanan taman, terdapat puluhan remaja bermain skate board. Mereka beraksi di track-track yang disediakan. Sembari nyamil kacang godok, kami benar-benar menikmati aksi mereka di bawah guyuran lampu taman. Tampak keceriaan di wajah-wajah mereka. Juga warga yang berkumpul di sini. Taman ini memang tak hanya indah, tapi juga memiliki fungsi sosial, budaya, rekreasi, dan pendidikan.Bahkan, taman ini jadi ajang para bakal capres untuk menyapa masyarakat. Di antaranya, Rabu malam itu, peserta konvensi capres Demokrat Irman Gusman menyambangi tempat itu untuk makan malam. Ditemani artis seksi Julia Perez, Ketua DPD RI ini keliling kios untuk menyapa pedagang dan pengunjung yang asyik menikmati malam. Sebelumnya, peserta konvensi capres Demokrat Anies Baswedan juga pernah menyapa publik di sini.

Jarum jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. Taman Bungkul tak beringsut sepi. Rasanya ingin melewati malam di sini, hingga di ujung Subuh. Namun karena besok pagi harus kembali beraktivitas, aku dan kawan-kawan pun ingin balik ke Bumi Surabaya saja, tempat kami menginap. Sebelum pulang, kami makan malam di Sentra PKL Bungkul.

Kami pilih ’’Bebek Cak Sunari’’. Di tempat ini, aku benar-benar ’’khilaf’’ hingga memesan dua porsi bebek dan nasi. Keringat sampai bercucuran karena kombinasi pedas dan citarasanya yang menggugah selera. Mak nyessss…. Taman Bungkul memang sejuta rasa. (*)

~ by ariyanto on 18 June 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: