Menang tanpo Ngasorake

Oleh ARIYANTO

 

SIKAP Prabowo Subianto saat Debat Capres- Cawapres di Balai Sarbini Jakarta, Senin malam (9/6/2014), layak diapresiasi positif. Ketika menjawab pertanyaan soal Hak Asasi Manusia (HAM) dari lawan politiknya mengingatkan saya pada filosofi Jawa: menang tanpo ngasorake! Ungkapan Jawa ini memiliki arti bahwa kemenangan yang kita inginkan jangan sampai merendahkan orang lain. Menang tanpa menghinakan. Tanpa mempermalukan. Menang dengan cara elegan. Menang dengan jiwa besar, namun lawan tetap bisa menegakkan kepala tanpa dinistakan.

Ketika lawan politiknya ’’menyerang’’ Capres Prabowo terkait apa yang akan dilakukan jika terpilih menjadi presiden terkait kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu, mantan Danjen Kopassus itu tidak ’’tersulut’’ Lawan politik memang tidak menyinggung pelanggaran HAM secara spesifik, yakni kasus penculikan sejumlah aktivis ’98. Hanya saja, publik pasti tahu ’’peluru’’ itu dilesatkan ke Capres yang berpasangan dengan Hatta Rajasa itu. Prabowo juga merasa sedang disodok kasus itu. ”Saya tahu arahnya ke mana,” ujar mantan Panglima Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan Darat ini saat mulai memberi jawaban.

Meski ’’diserang’’ secara pribadi, Prabowo tetap menjawab pertanyaan itu. Dia menjelaskan, soal HAM adalah tugas pemerintah. ’’Hak rakyat untuk hidup, melindungi tumpah darah Indonesia adalah tugas pemerintah,’’ tegas dia penuh semangat. Sebagai prajurit, lanjut prabowo, dirinya sudah berupaya menjalankan tugas sebaik-baiknya. Untuk selanjutnya, kata Prabowo, terserah bagaimana pimpinan memberikan penilaian. ”Kalau di lapangan itu, mengambil tindakan harus cepat dan tepat. Soal benar atau tidak terkait tugas, itu yang menilai atasan saya. Jika Pak JK (Cawapres Jusuf Kalla) ingin tahu lebih lanjut, silakan tanya ke atasan saya waktu itu,” ujar Prabowo.

Bagi saya, sikap Prabowo ini sungguh menarik. Meski pihak lawan melontarkan pertanyaan bernada menyerang, dia tidak membalas dengan pertanyaan serupa. Ketika mendapatkan kesempatan dari moderator untuk bertanya ke lawan debatnya, Prabowo justru lebih senang dengan pertanyaan yang tidak bersifat pribadi. Pertanyaan dari lawan politik ini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi dinilai bisa menurunkan elektabilitas Prabowo. Tapi, di sisi lain, ’’serangan’’ itu justru bisa menjadi bumerang. Buktinya, tak sedikit mengecam kubu lawan. Sebaliknya, Prabowo banyak mendulang simpatik publik. Hal itu setidaknya bisa diamati dari status Facebook (FB). Prayudhi Azwar, misalnya. Di FB-nya, WNI yang tinggal di Perth, Australia, ini membuat tulisan berjudul Kutatap Tulus Cinta di Matanya pada 10 Juni 2014.

Dalam tulisan itu dia mengaku tak menyangka bahwa jenderal yang dulu disangkanya agresif dan kejam, ternyata tak sekalipun dia menyerang, memojokkan lawannya. Tak pula dia menyindir atau menatap sinis lawan debatnya. Bahkan tak segan dia memuji dan menghormati pendapat rivalnya. Padahal, saat dipojokkan kembali dengan isu HAM yang menderanya dan membunuh karirnya 16 tahun lalu, Prabowo bisa saja memojokkan kembali dengan menjawab, ’’Kenapa Pak JK sendiri tidak adili saya waktu Bapak menjabat Wakil Presiden?’’.

Hal senada dikemukakan Umi Solikatus Sa’diyah dalam komentar di FB. Dia menulis, ’’Jangan tanyakan HAM pada tentara di garis depan (seperti yang dialami Bapak saya) yang selalu siap mati untuk negara. Jangan dicampur-adukkan tugas yang berhubungan dengan HAM saat jadi tentara garis depan dan saat jadi capres. Sudah beda cara pandang. Orang sipil akan susah memahami tugas tentara yang kalau dipikir, mau-maunya berisiko padahal gaji gak seberapa. Hanya cinta yang memanggil mereka.’’ Apresiasi positif juga datang dari berbagai kalangan.

Di antaranya dari Hana Agustinawati. Dia berkomentar, ’’Beliau adalah orang dengan jiwa besar. Mental pemimpin negara yang bijak & terhormat.’’ Setali tiga uang dengan Hana, Teguh Wicaksono dalam FBnya juga menyebut Prabowo sosok yang bertanggung jawab. ’’Sebagai pimpinan secara ksatria mengorbankan karir cemerlang di TNI yang sampai Kopassus dan disegani dunia. Prabowo itu hanya komandan kesatuan, masih ada jenderal-jenderal lain di atasnya, kesatuan- kesatuan lain yang strategis. Apa mungkin seorang komandan kesatuan melakukan operasi tanpa perintah atasan dalam suatu sistem komando. Bravo Prabowo-Hatta ridho Allah SWT menyertaimu…’’ Tentu masih banyak apresiasi positif lainnya yang tak mungkin disebutkan semua.

Begitu pun sebaliknya, tentu ada saja masyarakat yang melihatnya dari sudut pandang berbeda. Lumrah saja. Alam demokrasi. Asal menggunakan nalar publik dan menjunjung etika. Soal jawaban Prabowo dengan intonasi agak tinggi saat menjawab pertanyaan lawan politik, menurut saya, itu bukanlah bentuk emosi. Ketegasan Prabowo dengan intonasi semacam itu menunjukkan semangat tinggi untuk membawa Indonesia ke arah lebih kuat. Sekali lagi bukan emosi. Tapi menekankan dengan tegas dan bersemangat.

Prabowo tentu memahami dengan baik falsafah kepemimpinan Jawa yang berbunyi ajining diri saka pucuke lathi, aji ning raga saka busana. Falsafah ini berarti harga diri seseorang terletak dari lidahnya dan kemampuan menempatkan diri sesuai situasinya. Bisa saja dia menanyakan hal-hal bersifat pribadi dari lawan politik nya, entah itu kasus yang sedang membelitnya atau terkait tanggung jawabnya ketika mengemban sebuah amanah. Tapi, sekali lagi, itu tidak dilakukan. Jadi, mari menghormati lawan secara sportif. Menang tanpo ngasorake. Seperti saat kampanye damai kali pertama di KPU dulu bahwa kalau kelak Jokowi- JK yang menjadi pemenang pun, Prabowo-Hatta tetap menghormati dan akan selalu mendukung untuk membuat Indonesia lebih perkasa. (*)

Harian INDOPOS, 11 Juni 2014

~ by ariyanto on 18 June 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: